Rudal Iran Pukul Mundur Kapal Amfibi AS LHA-7 hingga Samudra Hindia, Blokade Selat Hormuz Berlanjut
Budi Sam Law Malau April 07, 2026 12:17 AM

WARTAKOTALIVE.COM -- Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan keberhasilan Operasi "Janji Sejati 4" gelombang ke-98 yang memaksa kapal serbu amfibi kebanggaan Amerika Serikat, USS Tripoli (LHA-7), mundur dari zona tempur setelah dihantam rentetan rudal presisi Iran pada Senin (6/4/2026).

Kapal raksasa yang mengangkut lebih dari 5.000 personel Marinir AS tersebut dilaporkan terpaksa menjauh hingga ke selatan Samudra Hindia guna menghindari kerusakan lebih lanjut.

Hingga kini, belum ada konfirmasi independen dari pihak militer AS terkait klaim tersebut.

Baca juga: Kepala Intelijen IRGC dan Komandan Pasukan Quds Iran Tewas Diserbu Militer Israel

Tak hanya menyasar aset AS, rudal jelajah Iran juga menghanguskan kapal kargo Israel SDN7 serta menghantam pusat-pusat strategis di Tel Aviv, Haifa, hingga pabrik kimia di Be'er Sheva yang gagal diintersep oleh sistem pertahanan udara Zionis.

Blokade Total Bagi 'Kapal Musuh'

Bersamaan dengan gempuran militer, Kementerian Luar Negeri Iran secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi seluruh kapal yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel.

Juru bicara Kemenlu Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa langkah keamanan ini diambil berdasarkan hukum internasional untuk merespons agresi tanpa provokasi yang menewaskan mendiang Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei pada Februari lalu.

"Iran tidak akan mengizinkan kapal musuh untuk melintas. Kami telah berkoordinasi dengan Oman sebagai sesama negara pesisir untuk menetapkan protokol lalu lintas yang ketat," tegas Baqaei dalam konferensi pers di Teheran.

Meski demikian, Iran menjamin jalur aman bagi kapal-kapal dari negara sahabat, termasuk Pakistan, melalui mekanisme verifikasi khusus.

Baca juga: Iran Ancam Perang Pecah di Amerika Jika Trump Terus Gempur Infrastruktur, Abbas Telpon Rusia

Diskusi intensif juga dilakukan dengan Oman untuk memastikan keamanan pelayaran di kawasan tersebut.

Ketegangan ini memicu kekhawatiran global akan stabilitas pasokan energi dunia.

Dengan kontrol ketat IRGC di Selat Hormuz dan serangan yang kian meluas ke infrastruktur drone gabungan UEA-Israel, kawasan Asia Barat kini berada dalam bayang-bayang perang total yang mengancam melumpuhkan ekonomi internasional.

Ribuan korban jiwa telah jatuh sejak konflik pecah, sementara ketidakpastian menghantui para pelaut, pekerja energi, dan warga sipil yang berada di garis depan krisis.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.