Sulsel Waspada Kemarau Kering, BMKG Imbau Warga Hemat Air, Jangan Panik!
Abdul Azis Alimuddin April 07, 2026 12:22 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat Sulawesi Selatan untuk mewaspadai potensi kemarau kering 2026.

Warga diminta tetap tenang, tidak panik, namun mulai melakukan langkah antisipasi seperti menghemat penggunaan air.

Imbauan ini seiring ramainya istilah “Godzilla El Nino” di media sosial, memicu kekhawatiran publik terkait dampak cuaca ekstrem.

Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV, Rizky Yudha Pahlawan, menyatakan istilah tersebut bukan merupakan terminologi resmi dalam klimatologi.

Menurutnya, istilah itu muncul dari analisis peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang melihat potensi terjadinya El Nino bersamaan dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

“Kombinasi dua fenomena ini kemudian dinarasikan sebagai ‘Godzilla El Nino’. Namun secara ilmiah, istilah itu tidak ada. Yang ada kategori El Nino lemah, moderat, kuat, dan sangat kuat,” ujarnya dalam program Ngobrol Virtual (Ngovi) Tribun Timur, Senin (6/4/2026).

Rizky menegaskan, masyarakat tidak perlu panik menyikapi istilah tersebut. Menyebut kondisi iklim tahun ini diprediksi masih dalam kategori El Nino lemah.

Rizky memprediksi peluang terjadinya El Nino 2026 berkisar 50 hingga 60 persen, terutama pada semester kedua, mulai Juli hingga Desember.

“Puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September, bersamaan dengan puncak musim kemarau di Sulawesi Selatan,” jelasnya.

Pada periode tersebut, curah hujan diprediksi menurun signifikan dan suhu udara berpotensi lebih panas dari kondisi normal.

Meski demikian, kondisi cuaca saat ini masih bersifat fluktuatif.

Ini disebabkan Sulawesi Selatan tengah memasuki masa pancaroba atau peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.

“Polanya biasanya pagi hingga siang panas, kemudian sore hingga malam berpotensi hujan dengan intensitas bervariasi,” ujarnya.

Rizky memprediksi suhu udara di Sulsel bisa mencapai 37 hingga 38 derajat Celsius.

Namun, kondisi panas ekstrem tersebut tidak berlangsung lama dan hanya terjadi dalam periode singkat.

Sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan diperkirakan lebih dulu terdampak kemarau kering.

Di antaranya Kabupaten Takalar, Jeneponto, serta wilayah selatan Kabupaten Gowa.

Selain itu, daerah seperti Kabupaten Wajo, Bone, Jeneponto, dan Bantaeng juga berpotensi mengalami peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang lama tidak diguyur hujan.

BMKG menetapkan indikator sederhana bagi masyarakat untuk mengenali potensi kekeringan, yakni jika suatu wilayah tidak mengalami hujan selama 30 hari berturut-turut.

“Jika sudah 30 hari tanpa hujan, itu tanda awal kekeringan meteorologis dan harus diwaspadai,” jelas Rizky.

Dampak Positif

Di sisi lain, fenomena El Nino juga membawa dampak positif bagi sektor tertentu.

Petani garam tradisional di wilayah pesisir seperti Jeneponto dan Pangkep diperkirakan mengalami peningkatan produksi.

Nelayan tangkap juga berpotensi diuntungkan karena fenomena upwelling yang meningkatkan ketersediaan ikan di permukaan laut.

Rizky mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk mulai melakukan mitigasi sejak dini.

Di sektor pertanian, petani disarankan menggunakan varietas tanaman tahan terhadap kekeringan.

Sementara di sektor sumber daya air, pemerintah diminta mengoptimalkan waduk dan cadangan air.

Masyarakat juga diminta menghindari aktivitas berpotensi memicu kebakaran, seperti membakar sampah atau lahan, serta tidak membuang puntung rokok sembarangan.

Selain itu, warga diimbau menjaga kesehatan selama periode cuaca panas dengan mencukupi kebutuhan cairan minimal dua liter per hari dan menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan.

Untuk mendapatkan informasi resmi, masyarakat dapat mengakses aplikasi Info BMKG, situs resmi bmkg.go.id, serta kanal media sosial BMKG.

Rizky mengingatkan, selama periode pancaroba di bulan April, cuaca cenderung berubah cepat dari panas ke hujan.

“Kondisi ini bisa mempengaruhi kesehatan, sehingga masyarakat perlu menjaga daya tahan tubuh dan mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari,” kata Rizky.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.