TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Banjir yang melanda sejumlah desa di Kabupaten Demak, sejak Jumat (3/4), mulai berangsur surut dalam beberapa hari terakhir.
Ketinggian air di permukiman kini tinggal 5 hingga 10 sentimeter di sejumlah titik.
Namun, warga terdampak masih menghadapi persoalan ketika banjir sudah mulai surut.
Lumpur tebal dan keterbatasan bantuan menjadi tantangan utama dalam proses pemulihan.
Di sejumlah desa, kedalaman lumpur mencapai 50 sentimeter atau setengah meter.
Lumpur tersebut merupakan material bawaan banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang.
Meski genangan air mulai surut, kondisi di lapangan menunjukkan pekerjaan berat masih menanti warga.
Di Dukuh Solondoko, Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, warga bergotong royong membersihkan lumpur yang memenuhi rumah dan halaman.
Dukuh Solondoko merupakan wilayah terdampak langsung banjir bandang akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang, pada Jumat lalu.
Pantauan di lokasi, pada Minggu (5/4/2026) sore, material yang dibawa banjir, ranting-ranting pohon, lumpur tebal, masih memenuhi kawasan tersebut.
Sementara akses di pemukiman juga cukup menyulitkan karena ketebalan lumpur sisa banjir mencapai 50 sentimeter.
Warga berjibaku gotong royong dan bersih-bersih dengan memanfaatkan air kotor sisa banjir.
Seorang warga, Husen (27), mengatakan, lumpur setinggi sekitar 30 sentimeter di dalam rumah dan 50 sentimeter di halaman masih menyulitkan aktivitas.
Ia mengaku, harus menggunakan mesin pompa air yang biasa digunakan untuk pengairan sawah.
"Pakai diesel (pompa) ini, menghidupkan diesel untuk membersihkan lumpur," kata Husen.
Hal serupa juga dialami Ahmad, yang membersihkan rumah bersama keluarganya.
Menurut dia, banjir sempat mencapai ketinggian sekitar satu meter dan baru surut dalam dua hari terakhir.
"Bersih-bersih lumpur dibantu anak istri," ujar Ahmad.
Listrik
Selain lumpur, warga juga menghadapi kendala berupa kesulitan air bersih dan listrik.
Sejumlah wilayah dilaporkan masih mengalami gangguan air bersih dan listrik.
Alhasil, warga terdampak banjir pun mengalami hambatan untuk kembali melakukan aktivitas sehari-hari.
Hal itu salah satunya dilakukan Asrofi.
Ia sengaja datang ke ke Dukuh Solondoko untuk membantu mencuci pakaian saudaranya yang terendam lumpur.
Namun ia mengeluhkan padamnya listrik sehingga saluran air bersih di wilayah tersebut belum berfungsi.
Ini membuat mereka terpaksa mencuci dari genangan air kotor sisa banjir.
"(Listrik) belum menyala, ini nyuci pakai air banjir, kotor ya tapi karena keadaan," kata Asrofi, Minggu siang.
Kini ia berharap, pemerintah segera membantu kebutuhan warga terdampak banjir.
"Mudah-mudahan pemerintah bisa membantu, ya makanan, ya air bersih, ya obat-obatan," harapnya.
Hal senada diungkapkan Hartono, warga setempat bahwa sejauh ini listrik masih padam dan saluran air belum menyala.
Sejauh ini ia membersihkan perabotan dengan air kotor sisa banjir dan mengandalkan bantuan air bersih untuk minum.
"Ingin air bersih, susah semua ini kan termasuk air PAM belum nyala, listrik belum nyala sampai malam," kata Hartono di sela-sela mencuci alas tidur, Minggu.
Kirim air
Sementara itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak, mengeklaim situasi banjir terkini berangsur surut menyisakan tiga desa di Kecamatan Guntur.
Ketiga desa tersebut, yakni Trimulyo, Sidoharjo, dan Tlogorejo.
Kepala BPBD Demak, Agus Sukiyono menyatakan, banjir di pemukiman kini berkisar antara 5 hingga 10 sentimeter, dari sebelumnya mencapai 1,5 meter.
Pada saat yang sama, Agus menyebut, jumlah pengungsi tinggal tersisa 12 orang, yang bertahan di Madrasah Diniyah (Madin) Desa Sindon.
Jumlah pengungsi dan desa terdampak banjir mengalami penurunan drastis dibanding hari sebelumnya yang masih mencakup 10 desa, dengan jumlah pengungsi 2.867 jiwa.
Saat ini sebanyak 8.000 orang masih terdampak banjir dari data sebelumnya mencapai 13.000 jiwa.
Agus menyatakan, BPBD juga telah menyalurkan air bersih dan membersihkan jalan yang sebelumnya tergenang banjir dan menyisakan lumpur.
"Pembersihan jalan dengan cara disemprot menggunakan air sehingga jalan warga yang semula berlumpur menjadi bebas lumpur dan bisa dilalui dengan aman," kata Agus, Minggu.
Sementara lokasi droping air bersih, kata dia, di Dukuh Puyang, Desa Sidoharjo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak.
Sasarannya, kata dia, untuk 66 keluarga atau 212 jiwa yang sebelumnya terdampak banjir sehingga membutuhkan pasokan air bersih untuk sementara waktu sambil melakukan pemulihan sumber air bersih milik warga yang sebelumnya tercemar banjir.
Desa lainnya yang juga mendapatkan droping air bersih, yakni Dukuh Solodoko, Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur.
Ia berharap, bantuan tersebut bisa meringankan beban warga yang saat ini masih berupaya melakukan pemulihan, setelah sejak Jumat (3/4/2026) siang, mengungsi akibat banjir. (Iwan Arifianto/Kompas.com)