TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Sejumlah pedagang mulai mengeluhkan lonjakan harga kantong plastik yang terjadi dalamCatatan beberapa waktu terakhir.
Tidak main-main, kenaikan harga mencapai hampir 100 persen atau dua kali lipat dari harga normal.
Karyawan Toko Plastik dan Bahan Kue Berkah, Sleman, Astri mengatakan kenaikan harga plastik memang sudah terjadi sejak Ramadan lalu.
Namun kenaikannya masih tipis. Kenaikan signifikan baru dirasakan akhir Maret 2026 kemarin.
"Puasa kemarin naik tapi ya sedikit, setelah Lebaran terasa banget naiknya. Misalnya kresek itu awalnya harganya Rp6.000 terus jadi Rp8.500. Terus cup es teh jumbo itu dari harga Rp14.000 jadi Rp18.000, kalau yang tebal dari Rp19.000 jadi Rp 22.000," katanya, Senin (6/4/2026).
Ia menyebut, kenaikan harga kemasan plastik beragam, mulai dari Rp3.000 hingga Rp6.000 per pak.
Kenaikan harga ini tergantung jenis, ukuran, isi, serta kualitas barang. Namun yang mengalami kenaikan paling tinggi adalah produk thin wall.
Kenaikan harga kemasan plastik ini membuatnya bingung dalam menentukan harga, apalagi banyak pembeli yang mengeluh soal kenaikan harga ini.
"Banyak konsumen yang mengeluh, soalnya kalau menaikkan harga takut nggak ada yang beli,” katanya.
“Kalau mengurangi (stok kemasan plastik karena ada kenaikan harga) sih enggak, cuma kan kita jadi bingung jualnya berapa," ujar lanjut Astri.
Menurut dia, kenaikan harga membuat konsumen cenderung memilih produk lebih murah. Penjualannya pun masih stabil.
Pedagang plastik lainnya di Sleman, Budi Utomo mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik terjadi hampir di semua jenis.
"Hampir semua plastik naik. Omzet berpengaruh. Pengeluaran untuk modal sekarang juga jauh lebih besar dari biasanya," keluh Budi, Senin (6/4/2026).
Disampaikan Budi, kenaikan harga paling signifikan adalah wadah plastik jenis cup atau gelas plastik.
Satu renceng isi 50 cup yang semula dijual seharga Rp14.500, kini melambung menjadi Rp22.000. Kantong kresek yang melonjak naik dari Rp8.000 menjadi Rp10.000 per pack.
Selain lonjakan harga, pedagang kini dihadapkan pada sistem pembayaran yang memberatkan.
Jika sebelumnya beberapa barang bisa dibayar dengan sistem tempo, kini distributor mewajibkan pembayaran tunai atau cash karena keterbatasan stok.
"Harapannya sih harga kembali ke harga semula. Misalnya, harga diturunkan supaya usaha bisa jalan. Karena saya baru merintis usaha toko plastik ini satu tahun, tapi tahu-tahu harganya naik semua. Pusing toh," ujarnya
Kenaikan harga ini juga mengubah pola konsumsi pelanggan. Banyak pembeli yang biasanya memborong 2-3 renceng plastik cup, kini hanya membeli satu renceng.
Ia juga mengatur strategi belanja sedikit demi sedikit untuk menyiasati modal yang terbatas.
Di sisi lain, dampak kenaikan ini mulai merembet ke pelaku UMKM kuliner.
Nando, seorang pedagang es rasa buah yang menggunakan kemasan cup, mengaku mulai merasakan kenaikan biaya operasional.
Dalam sehari, ia menghabiskan sedikitnya 50 cup plastik. Saat ini meski harga wadah plastik naik tajam, Nando mengaku belum menaikkan harga jual dagangannya.
"Saat ini harga masih stabil. Belum ada arahan untuk menaikan harga," katanya.
Yanti, seorang pedagang makanan dan minuman keliling dari satu instansi pemerintahan ke instansi lainnya di Kota Yogyakarta mengaku harus memutar otak lebih keras setelah mendapati harga modal kemasannya melambung tak terkendali.
Beban modal semakin berat saat ia menengok harga kantong plastik belanja (kresek).
Plastik ukuran kecil yang awalnya hanya Rp4.000 kini menjadi Rp8.000, sedangkan ukuran besar naik dari Rp7.000 menjadi Rp12.000.
Bahkan, untuk plastik kemasan berukuran paling besar, harga satuannya kini menembus Rp2.200.
Puncak lonjakan paling memberatkan ada pada kemasan botol jus. Satu kotak berisi 90 botol yang sebelumnya dibanderol Rp108.000, melompat jauh ke angka Rp158.000.
Menghadapi tekanan rantai pasok ini, membebankan seluruh kenaikan modal kepada konsumen bukanlah pilihan yang masuk akal bagi Yanti.
Ia harus memilah dengan cermat, mana produk yang harganya terpaksa disesuaikan, dan mana yang harus ia tanggung sendiri selisihnya.
Kemasan dasar seperti plastik bungkus makanan, menurutnya, adalah layanan mendasar yang tidak pantas jika dibebankan ke pembeli.
"Kalau plastik buat makanan 1 kg sama plastik (kresek) itu hak pembeli, masa harus dinaikkan? Enggak mungkin, ya," tuturnya.
Strategi penyesuaian harga jual akhirnya hanya ia terapkan pada beberapa menu dengan kemasan spesifik yang harga modalnya benar-benar tak lagi bisa dikompromikan.
Meski begitu, ia bersikukuh menahan harga pada produk-produk tertentu, seperti jus buah, demi menjaga minat beli pelanggannya.
Ia merinci perhitungannya tersebut secara utuh, sembari menegaskan filosofi sederhana usahanya untuk terus bertahan tanpa harus memberatkan para pembeli di lingkungan perkantoran tempatnya mencari nafkah.
"Untuk yang thinwall naik, saya naikkan Rp1.000 karena harga dari sana. Untuk cup plastik saya naikkan Rp500 karena bahan baku yang mepet. Untuk botol jus enggak saya naikkan. Kita mengurangi untung, sing penting ada pemasukan tidak rugi. Intinya itu saja," ujarnya.
Bagi pedagang seperti Yanti, memastikan roda usaha tetap berputar setiap harinya jauh lebih berharga daripada memaksakan margin keuntungan yang tinggi namun berisiko kehilangan pelanggan.
Baca juga: Mengakali Lonjakan Harga Plastik, Pedagang Kecil di Yogyakarta Pilih Pangkas Keuntungan
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yuna Pancawati membeberkan fakta bahwa kenaikan harga plastik terjadi secara seragam di seluruh wilayah akibat penyesuaian langsung dari pihak pabrik.
"Kenaikan hingga 70 persen di DIY untuk berbagai produk plastik, termasuk kemasan dan toples, dilaporkan pedagang grosir sejak sebelum Lebaran, yang berdampak langsung pada UMKM minuman,” kata Yuna, Senin (6/4/2026).
“Contoh spesifik seperti gelas cup untuk UMKM minuman naik dari Rp220 menjadi Rp440 per piece, serta kantong kresek yang naik hampir dua kali lipat mencerminkan tren serupa di daerah lain akibat kelangkaan stok," lanjut dia.
Yuna menjelaskan bahwa krisis di tingkat lokal ini berakar dari kekacauan rantai pasok di tingkat global yang menghantam industri hulu.
Termasuk, dampak penutupan Selat Hormuz yang meningkatkan biaya logistik, energi, dan bahan baku plastik.
“Produksi industri hulu plastik domestik turun hingga sepertiga kapasitas, menyebabkan harga naik 30-60 persen di tingkat produsen dan hingga 100 persen di pedagang. Pedagang di DIY melaporkan kenaikan seragam di semua jenis plastik karena adjustment dari pabrik," paparnya.
Ketergantungan pada impor bahan baku dan distribusi grosir lokal yang terganggu disinyalir menjadi pemicu utama, mirip dengan kasus nasional di mana stok yang minim memaksa pedagang menaikkan harga secara spekulatif.
Kondisi anomali harga ini menciptakan dilema luar biasa bagi UMKM. Kenaikan harga kemasan secara otomatis memperbesar struktur biaya produksi, sehingga margin keuntungan UMKM Food and Beverage (F&B) yang sejatinya sudah tipis menjadi semakin terkikis habis.
Banyak pelaku usaha mikro enggan menaikkan harga karena ketakutan kehilangan pelanggan setia. Akibatnya, mereka terpaksa menanggung sendiri pembengkakan biaya produksi tersebut hingga mencapai titik kritis di mana usaha mereka tidak lagi berkelanjutan secara finansial.
Disperindag dan Bank Indonesia (BI) DIY memandang efek domino dari kenaikan kemasan ini sebagai ancaman serius bagi ketahanan UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
"Beberapa literatur dan analisis nasional menunjukkan bahwa jika biaya kemasan membengkak dan tidak disikapi, risiko paling nyata adalah penutupan usaha kecil (gulung tikar) atau pengurangan jam kerja atau tenaga kerja untuk mengurangi biaya,” katanya.
“Di DIY, inflasi jangka bulanan masih banyak ditopang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau; kenaikan harga kemasan berpotensi memperkuat tekanan ini jika pelaku F&B terpaksa menyesuaikan harga jual ke konsumen," tegas Yuna.
Disperindag DIY lalu melakukan intervensi jangka pendek April 2026. Fokus utama saat ini ditekankan pada kegiatan Operasi Pasar dan Pasar Murah.
Pemerintah juga mendukung penuh penyelenggaraan Jogja Food & Beverage Expo, Jogja Pack & Process Expo, serta Jogja Printing Expo 2026 yang digelar di Jogja Expo Center (JEC) pada 8 hingga 11 April 2026.
Sebelumnya, pihak Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik (Inaplas) mengungkapkan, kondisi geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menyebabkan harga plastik naik.
Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono menjelaskan, plastik diproduksi dari nafta, yaitu turunan minyak bumi. Pasokan nafta dunia sebagian besar berasal dari kawasan Asia Barat.
Namun, konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran membuat distribusi bahan baku terganggu, terutama karena penutupan jalur penting pengiriman energi dunia.
“Sekarang akibat perang kan terus yang pertama Selat Hormuz kan ketutup sehingga bahan baku berupa nafta yang 70 persen itu datangnya dari Middle East jadi tidak bisa terkirim ke para industri petrokimia,” kata Fajar saat dihubungi melalui telepon, Kamis (2/4/2026).
Situasi ini menjawab pertanyaan mengapa harga plastik naik dalam waktu relatif cepat. Ketergantungan global terhadap kawasan tersebut membuat dampaknya terasa hingga ke Indonesia.
Tidak hanya jalur distribusi yang terganggu, fasilitas produksi juga ikut terdampak. Sejumlah kilang minyak di Arab Saudi dan negara Teluk menjadi sasaran konflik.
Akibatnya, pasokan nafta semakin terbatas. Kombinasi antara distribusi yang tersendat dan produksi yang terganggu membuat industri petrokimia menghadapi ketidakpastian.
“Dan ini tidak hanya di Indonesia hampir seluruh dunia,” ujar Fajar. (tim)