Terapkan WFH, Pemprov Jateng Klaim Hemat Rp 3,9 Miliar per Bulan
Ryantono Puji Santoso April 07, 2026 06:14 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengklaim pihaknya akan menghemat Rp 3,9 miliar per bulan jika Work From Home (WFH) diterapkan secara efektif.

Namun, hal ini membutuhkan kesadaran tiap pegawai untuk menghemat bahan bakar minyak (BBM).

“Hitungan kemarin, kalau 62 ribu ASN Provinsi Jawa Tengah bisa Rp 3,5 miliar,” jelasnya saat ditemui di Kantor Tribun Solo, Selasa (7/4/2026).

Pihaknya akan menerapkan WFH tiap hari Jumat sesuai imbauan pemerintah pusat.

WFH tidak berlaku bagi ASN yang berhubungan dengan pelayanan langsung kepada masyarakat.

Baca juga: Soal ASN Klaten WFH, Bupati Hamenang: Masih Kami Kaji, Tak Mau Gegabah Hanya Fomo

“Kita fokuskan pada hari Jumat. Khususnya untuk pelayanan yang bersentuhan dengan masyarakat tidak kita lakukan,” terangnya.

Sejumlah golongan ASN akan diwajibkan mengikuti WFH.

Sementara itu, golongan lain diberlakukan sebagian pegawai.

“Beberapa golongan ASN, golongan 1–2 itu wajib, yang lainnya kita bagi WFH-nya,” jelasnya.

Gubernur Ahmad Luthfi menghadiri acara Peringatan HUT ke-10 Tribun Solo di Gedung Tribun News, Kota Surakarta, Selasa 7 April 2026.
Gubernur Ahmad Luthfi menghadiri acara Peringatan HUT ke-10 Tribun Solo di Gedung Tribun News, Kota Surakarta, Selasa 7 April 2026. (Dok. Istimewa/Pemprov Jateng)

Batasi Penggunaan Air dan Listrik

Selain WFH, pihaknya juga akan menekan operasional gedung dengan membatasi penggunaan air hingga listrik.

Petugas akan ditunjuk untuk melakukan pengawasan.

Baca juga: Gubernur Ahmad Luthfi Lepas 16.186 Peserta Mudik Gratis ke Jateng: Ringankan Beban Para Perantau

“Yang tidak kalah penting pembatasan air dan lampu. Ada yang mengoordinir piket kontrol,” terangnya.

Sementara itu, mengenai kebijakan penggunaan sepeda, ia menyerahkan pada kesadaran masing-masing pegawai. Menurutnya, jika dipaksa, kebijakan ini tidak akan efektif.

“Pada hari Jumat beberapa anggota kita naik sepeda, ada yang jalan kaki. Itu merupakan kesadaran. Disiplin itu napasnya kesadaran. Kalau ditekan, nyolong-nyolong. Sampai Simpang Lima baru naik sepeda,” jelasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.