El Nino 'Godzilla' 2026 Mengancam, Pemda DIY Siapkan Strategi Berlapis Amankan Sektor Pertanian
Joko Widiyarso April 07, 2026 07:14 PM

 

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan mulai mengambil langkah proaktif untuk menghadapi ancaman kekeringan ekstrem akibat fenomena iklim El Nino "Godzilla" yang diprediksi terjadi pada tahun 2026.

Fokus utama saat ini adalah memastikan ketersediaan air irigasi, percepatan masa tanam, hingga optimalisasi alat mesin pertanian di lapangan.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Aris Eko Nugroho, memaparkan bahwa pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi secara umum untuk merespons ancaman anomali cuaca tersebut.

Evaluasi dari peristiwa serupa pada tahun-tahun sebelumnya menjadi salah satu dasar pengambilan kebijakan.

"Pertama, kita mencermati beberapa potensi yang ada di Yogyakarta. Kita menginventarisasi hal-hal yang berkaitan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi di Yogyakarta. Nah, tentu dasarnya dari data BMKG," ujar Aris, Selasa (7/4/2026).

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya belajar dari pergeseran musim tanam yang sempat terjadi beberapa tahun lalu. 

"Kedua, kita juga berpijak pada peristiwa yang sudah pernah terjadi di tahun 2023, yang mana ketika itu peristiwanya hampir sama sehingga musim tanamnya bergeser ke tahun berikutnya. Itu juga menjadi bagian dari perhatian kita," tambahnya.

Terkait antisipasi teknis di lapangan, Aris meminta seluruh infrastruktur pertanian dipastikan kesiapannya sejak dini.

"Ketiga, terkait alat-alat mesin pertanian yang sudah ada di lapangan. Alat-alat yang ada di lapangan itu harapan kita segera difungsikan. Baik itu traktor, pompa air, maupun yang berkaitan dengan irigasi perpipaan dan sebagainya. Harapan kami itu segera difungsikan. Jadi kalau ada kendala, kita bisa langsung antisipasi. Sekarang misalnya, jika ada saluran air yang mampet dan sebagainya, itu bisa segera disikapi. Itu yang ketiga," tegasnya.

Mengingat saat ini ketersediaan air masih relatif aman, DPKP DIY mendorong para petani untuk tidak menunda pekerjaan lahan. 

"Keempat, kita berharap kalau sekarang waktunya menanam, ya segera menanam. Jangan ditunda. Karena dengan menanam sekarang ini, mumpung kondisi air masih mencukupi, pada akhirnya nanti bisa mengantisipasi dampak dari kemungkinan terjadinya El Nino Godzilla tersebut. Jadi, antara lain itu langkah-langkah yang coba kita lakukan."

7 pilar minimalkan dampak gagal panen

Lebih lanjut Aris menjelaskan, terdapat tujuh pilar utama yang akan dieksekusi secara terperinci guna meminimalisasi dampak gagal panen:

• Pemetaan dan Sistem Peringatan Dini (EWS): Melakukan mapping (pemetaan) pada wilayah langganan kekeringan, membangun early warning system, memitigasi kekeringan, serta menggerakkan "brigade kekeringan".

• Optimalisasi Air Irigasi: Pengelolaan air irigasi dioptimalkan lewat rehabilitasi jaringan, pembuatan embung, dan sumur dangkal. Upaya ini dibarengi dengan pemanfaatan pompanisasi dan irigasi perpipaan.

• Percepatan Tanam dengan Varietas Genjah: Petani didorong menggunakan benih berumur pendek (genjah) atau yang memiliki ketahanan tinggi terhadap kekeringan. Beberapa varietas yang direkomendasikan antara lain: Inpago (seri 4, 5, 8, 9, 10, 11, 12, dan 13 Fortiz), Inpari (seri 32, 38, 39, 40, 41, 42 GSR, 43 GSR, dan 46 GSR Tadah Hujan), serta Cisaat, Situbagendit, Situpatenggang, dan Cakrabuana.

• Pengaturan Pola Tanam: Penyesuaian pola tanam yang adaptif terhadap kondisi iklim dan ketersediaan air spesifik di masing-masing wilayah.

• Koordinasi dan Sinergi: Memperkuat kolaborasi antara Pemerintah Daerah dan pemangku kepentingan, dengan fokus pada gerakan peningkatan produksi dan pelaporan hasilnya.

• Pemantauan Iklim BMKG: Menjadikan update informasi iklim harian dari BMKG sebagai pijakan utama dalam mengeksekusi setiap aksi dini (antisipasi) di lapangan.

• Sinergi Petugas Lapangan: Berkolaborasi secara intensif dengan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk pemantauan wilayah rawan kekeringan.

Apa Itu El Nino "Godzilla"?

Persiapan ekstra dari Pemda DIY ini bukan tanpa alasan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi adanya potensi kombinasi fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) positif dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada periode kemarau sekitar April hingga Oktober 2026.

Istilah "Godzilla" sendiri pertama kali disematkan oleh ilmuwan NASA, Bill Patzert, pada tahun 2015 untuk mendeskripsikan variasi El Nino berskala kuat yang berimbas luas pada kekeringan, menyusutnya debit air, dan krisis pangan. 

Meski tidak masuk dalam terminologi klimatologi resmi BMKG yang hanya membagi El Nino menjadi kategori lemah, moderat, dan kuat, istilah ini umum digunakan untuk menggambarkan level kewaspadaan yang tinggi.

Dampak utama di wilayah selatan Indonesia—termasuk Pulau Jawa—adalah bergesernya pusat awan hujan ke Samudra Pasifik, sehingga memicu kemarau panjang, mengeringnya sumur dan waduk, serta meningkatkan risiko gagal panen jika tidak ada intervensi dini dari pemerintah dan petani setempat.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.