Lokasi Penemuan Nelayan yang Tenggelam di Pasir Putih Bengkulu, 6,5 Km dari TKP
Rita Lismini April 07, 2026 08:54 PM

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Beta Misutra

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU – Tim SAR gabungan akhirnya menemukan Syafril (53) alias Ujang Kidik, nelayan yang tenggelam di perairan Pasir Putih Bengkulu, Selasa sore (7/4/2026), setelah tiga hari pencarian intensif. 

Jasad korban ditemukan sekitar 6,5 km dari lokasi perkiraan kejadian dan langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Bengkulu. 

Humas Basarnas, Mega Maysilva, menyebut evakuasi dilakukan dengan hati-hati karena arus laut yang masih cukup kuat. 

“Korban ditemukan mengapung tidak jauh dari jalur penyisiran tim. Setelah itu langsung kami evakuasi ke darat,” ujarnya.

Dengan penemuan ini, operasi SAR resmi ditutup, dan seluruh personel dikembalikan ke satuan masing-masing. 

Mega mengapresiasi kerja keras tim yang terus berupaya menyisir perairan meski cuaca tak menentu.

“Dengan telah ditemukannya korban, maka operasi SAR dinyatakan selesai. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh unsur yang telah terlibat,” kata Mega.

Sempat Pencarian Intensif 

Memasuki hari ketiga, Selasa (7/4/2026), pencarian korban kapal nelayan karam di kawasan Muaro Jenggalu, yang berbatasan dengan Pantai Pasir Putih Bengkulu, terus dilanjutkan dengan memperluas area pencarian.

Tim gabungan menyisir perairan laut, daratan pesisir, hingga wilayah menuju Pulau Tikus untuk menemukan korban yang hingga kini belum ditemukan.

Sejak pagi, personel dari berbagai instansi telah bersiaga dan membagi tugas pencarian. Suasana di lokasi masih dipenuhi ketegangan, terutama dari keluarga korban yang menunggu kabar.

Korban yang masih dalam pencarian adalah Syafril (53), alias Ujang Sidik, warga Kelurahan Lempuing, Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu, yang dilaporkan hilang setelah perahu nelayan yang ditumpanginya karam akibat cuaca buruk.

Memasuki hari ketiga, pencarian dilakukan dengan berbagai metode, termasuk penyisiran laut menggunakan perahu LCR (Landing Craft Rubber) dan RBB (Rigid Buoyancy Boat), serta penyisiran darat di sepanjang garis pantai yang berpotensi menjadi lokasi korban terbawa arus.

Humas Basarnas Bengkulu, Mega Maysilva, mengatakan pencarian dibagi dalam lima Search and Rescue Unit (SRU) dengan tugas berbeda di laut, darat, dan pemantauan udara.

“Pencarian dibagi menjadi lima Search and Rescue Unit (SRU). Masing-masing unit memiliki tugas berbeda, baik di laut, darat, maupun pemantauan dari udara,” ujarnya.

Ia menambahkan, pencarian masih mengandalkan perahu karet dan dukungan drone untuk menjangkau area sulit.

“Seluruh tim bekerja secara terpadu. Harapannya korban kapal nelayan karam di Pasir Putih Bengkulu dapat segera ditemukan,” tambahnya.

Dalam operasi ini, Basarnas bersama Polair, BPBD, Dinas Sosial, dan pemadam kebakaran turut terlibat dengan mengerahkan personel serta peralatan.

Perahu karet digunakan untuk menyisir perairan di titik-titik yang diduga sebagai lokasi terakhir korban, sementara drone membantu pemantauan dari udara, termasuk kemungkinan korban terdampar di wilayah terpencil.

Salah satu anggota tim SAR menyebut arus laut yang cukup kuat menjadi kendala dalam pencarian.

“Kami terus berupaya maksimal meski kondisi arus cukup deras. Fokus kami tetap pada titik-titik yang berpotensi,” ujarnya.

Berdasarkan informasi di lapangan, peristiwa kapal nelayan karam ini terjadi pada Minggu (5/4/2026) sekitar pukul 17.00 WIB.

Saat itu, dua nelayan lanjut usia, Beri (62) dan Syafril (53), melaut menggunakan perahu kecil sebelum cuaca tiba-tiba memburuk.

Hujan deras disertai angin kencang memicu gelombang tinggi hingga perahu kemasukan air dan akhirnya karam.

Beri berhasil selamat dengan berenang ke tepi pantai, sementara Syafril diduga terseret arus dan hingga kini masih dalam pencarian.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.