Jakarta (ANTARA) - Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Barat menyampaikan bahwa salah satu penyebab masalah sampah di kawasan Rusunawa Angke, Tambora adalah kebiasaan warga sekitar yang turut membuang sampah ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) area rusun.

"Warga kan tidak ada TPS sendiri. Nah, mereka juga ikut buang ke sana, sehingga menambah volume-volume sampah di TPS area blok," kata Kasudin LH Jakarta Barat, Achmad Hariadi saat dihubungi di Jakarta, Selasa.

Hariadi mengatakan, pihaknya telah mengangkut sebanyak 35 ton beberapa waktu lalu setelah tumpukan sampah di kawasan tersebut viral di media sosial.

Pihaknya menerjunkan dua unit truk kapasitas besar, satu unit truk kecil dan dua unit truk compactor untuk mengangkut sampah dari kawasan tersebut.

"Kita sudah lakukan pengangkutan. Kalau ya, 20 ton ret pertama ditambah 15 ton ret kedua, jadi ada 35 ton," ucap Hariadi.

Sementara itu, Pengelola Rusunawa Angke, Gatot membenarkan bahwa banyak warga dari perkampungan di sebelah rusun yang ikut membuang sampah ke TPS di dalam rusun.

"Sampahnya dari Rusunawa itu ya bukan dari warga Rusunawa sendiri. Dari warga luar pun kontribusi. Enggak ada akses jalan pun mereka kan bisa melempar dari luar, main lempar aja itu. Ada yang bawa nenteng ditaruh di TPS, itu yang kucing-kucingan, susah dikendaliin," jelas Gatot.

Gatot pun berharap Dinas LH dapat segera merealisasikan penambahan sopir dan armada pengangkut sampah.

Selain itu, ia juga mengimbau kesadaran warganya agar dapat memilah dan tertib membuang sampah pada tempat yang sudah ditentukan agar tak memperparah penumpukan.

"Kami sangat berharap sekali warga itu mau sadar dirilah terkait kebersihan. Karena sekarang ini masih banyak warga yang nggak sadar diri, mereka menaruh sampahnya di tangga darurat, di pintu shaft yang tertutup karena mereka nggak mau capek turun, harus lebih sadar," imbuh Gatot.

Selain kebiasaan warga area perkampungan membuang sampah ke TPS kawasan rusun, pembatasan kuota pembuangan sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang juga menjadi faktor utama masalah sampah di Rusunawa Angke.

Jakarta Barat sebelumnya memiliki kuota 308 truk pengangkutan sampah ke TPST Bantar Gebang setiap hari. Kini, wilayah itu hanya bisa mengirimkan 190 truk.

Pembatasan juga berdampak langsung pada pengangkutan sampah dari kawasan Rusunawa Angke. Hal itu pun berimbas pada menumpuknya sampah pada saluran pembuangan vertikal rusun (shaft) hingga ke lantai enam salah satu gedung.

Pantauan di lokasi pada Selasa siang, shaft atau trash chute itu terintegrasi dengan gedung dari lantai satu sampai dengan lantai 16.

Saluran pembuangan vertikal itu memiliki lorong dengan lebar kurang lebih 30x60 sentimeter dan berfungsi sebagai jalur sampah rumah tangga dari lantai 16 hingga ke lantai dasar.

Adapun setiap lantai memiliki satu pintu trash chute yang bisa dibuka tutup untuk menjatuhkan sampah ke pembuangan di lantai dasar.

Namun, penampungan sampah di area lantai dasar tampak sudah penuh dan ta kunjung diangkut karena terbatasnya armada truk sampah.

Kondisi itu membuat sampah yang baru dibuang dari atas pun mampet di dalam saluran hingga menumpuk, terutama saluran buang Tower B dan C.

Pada area shaft pembuangan di Tower B, sampah sudah mampet selama kurang lebih satu bulan dan berujung menumpuk hingga ke lantai tiga rusun.

Sementara, kondisi lebih parah terjadi di Tower C yang sampahnya telah menumpuk hingga ke lantai enam.

Imbasnya, warga yang tinggal di lantai bawah tak bisa lagi membuang sampahnya melalui shaft dan harus turun membawa sampahnya secara langsung ke lantai dasar.