TRIBUN-MEDAN.COM - Di tengah sanksi maksimum dan perang yang diluncurkan Amerika Serikat untuk melumpuhkan ekonomi Iran, Teheran justru berhasil mempertahankan napas finansialnya.
Kunci ketahanan tersebut berada di tangan satu negara, yakni China. Dikutip dari Wall Street Journal, Negeri Panda ini secara dramatis meningkatkan pembelian minyak Iran hingga mencakup hampir seluruh total produksi Teheran.
Berdasarkan data Kpler, China diperkirakan membeli sekitar 1,4 juta barel minyak per hari dari Iran pada tahun 2025, melonjak dua kali lipat dibandingkan periode 2017.
Namun, di balik layar, Beijing dinilai waspada terhadap kemungkinan terlihat secara terbuka melanggar sanksi, yang dapat memicu kemarahan Washington dan merusak hubungannya dengan negara-negara Teluk lainnya.
Beberapa tahun lalu, ketika sanksi terhadap Teheran tidak terlalu ketat, perusahaan minyak milik negara China secara terbuka membeli minyak mentah Iran, seperti halnya banyak pembeli lain di seluruh dunia.
Namun, pemerintahan Obama memperketat aturan, sehingga jauh lebih sulit untuk berbisnis dengan Iran.
Sanksi kemudian dilonggarkan setelah mencapai kesepakatan nuklir dengan Teheran pada 2015.
Banyak negara, termasuk India, Italia, dan Yunani, meningkatkan pembelian minyak Iran.
Segalanya berubah ketika Trump pertama kali menjabat. Dia membatalkan kesepakatan nuklir Obama dan meluncurkan kampanye tekanan maksimum dengan sanksi terberat hingga saat ini.
AS mengancam akan menghukum siapa pun yang membeli atau membiayai pembelian minyak Iran.
Menurut Kpler, penjualan minyak Iran anjlok dari hampir 2,8 juta barel per hari pada Mei 2018 menjadi sekitar 200.000 barel per hari pada Agustus 2019, karena para pembeli menarik diri dari pasar.
Namun, Iran dengan cepat merespons dengan bantuan China. Untuk memuluskan transaksi ini, Beijing dan Teheran membangun jaringan penghindaran sanksi yang sangat masif.
Perdagangan dilakukan melalui faktur palsu yang mengeklaim minyak tersebut berasal dari negara lain, seperti Oman atau Malaysia.
"China adalah mitra utama Iran dalam menghindari sanksi," kata Max Meizlish dari Foundation for Defense of Democracies, sebuah lembaga think tank yang berbasis di Washington.
"Iran tidak akan mampu melawan perang ini tanpa dukungan bertahun-tahun yang telah diterimanya dari China," sambungnya.
Selain manipulasi dokumen, mereka disebut memanfaatkan armada "tanker bayangan" untuk mengangkut minyak dengan mematikan sinyal posisi dan memindahkan muatan antar-kapal di tengah laut guna menyamarkan asal-usul komoditas tersebut.
Strategi China juga melibatkan penggunaan kilang minyak swasta kecil yang dijuluki "teapot".
Berbeda dengan raksasa energi milik negara yang takut terkena sanksi AS, kilang-kilang independen ini terus menyerap minyak Iran yang ditawarkan dengan diskon besar.
Perusahaan-perusahaan ini kurang rentan terhadap sanksi karena dianggap membayar minyak dari Iran menggunakan yuan, bukan dollar AS.
Beijing secara bertahap meningkatkan jumlah minyak yang dapat diimpor oleh perusahaan-perusahaan minyak.
Sebelumnya, jumlah minyak yang dapat diimpor dibatasi oleh kuota yang ditetapkan oleh negara.
Kuota impor minyak mentah China untuk perdagangan non-negara pun meningkat dari 140 juta metrik ton pada 2018 menjadi 257 juta metrik ton tahun ini, menurut data resmi China.
Dari sisi finansial, pembayaran dialirkan melalui bank-bank kecil China dengan operasi global terbatas, seperti Bank of Kunlun.
Lembaga keuangan ini menjadi pilihan utama karena risikonya kecil jika diputus dari sistem keuangan AS, mengingat mereka beroperasi menggunakan mata uang yuan.
Baca juga: Dubes Iran Tegaskan Komitmennya untuk Mempermudah Kapal Tanker Indonesia Melintasi Selat Hormuz
Zelensky: Rusia Bagikan Intelijen Satelit Sistem Energi Israel ke Iran
Di sisi lain, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengatakan, Rusia telah membagikan intelijen satelitnya tentang sistem energi Israel kepada Iran.
Menurut Zelenskyy, Kyiv memiliki informasi bahwa Moskow membagikan data tentang "sekitar 50–53 fasilitas secara keseluruhan," dan menambahkan bahwa ini adalah situs infrastruktur sipil tanpa signifikansi militer.
"Ini mirip dengan kehidupan warga Ukraina di bawah serangan Rusia, ketika mereka menargetkan jaringan energi atau sistem pasokan air kami," kata Zelenskyy, mengutip Euronews.
“Tentu saja, semua pengalaman yang diperoleh Rusia selama perang melawan Ukraina dibagikan ke Iran. Ini terjadi pada Shahed, drone yang sama dengan milik Rusia, hanya digunakan dengan nama berbeda dan ditingkatkan ke generasi yang lebih baru.”
Menurut media Israel, situs yang menjadi target dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan pentingnya secara strategis. Fasilitas produksi kritis. Menghancurkan situs ini akan melumpuhkan sistem energi nasional.
Menurut sumber yang dekat dengan intelijen Ukraina, laporan tersebut secara spesifik menyebut pembangkit listrik Orot Rabin sebagai target utama.
Pusat energi perkotaan dan industri utama. Fasilitas ini terutama berada di Israel tengah dan melayani pusat populasi besar.
Infrastruktur lokal. Target ini termasuk gardu listrik regional yang mendukung zona industri dan pembangkit listrik kecil.
Intelijen Rusia kabarnya memberi tahu Teheran bahwa merusak bahkan beberapa komponen sentral dapat memicu keruntuhan energi total dan berkepanjangan, yang menyebabkan pemadaman massal dan kegagalan teknis yang sulit diatasi.
Menurut penilaian intelijen Ukraina, satelit Rusia telah melakukan puluhan survei citra rinci terhadap fasilitas militer dan situs penting di seluruh Timur Tengah untuk membantu Iran menyerang pasukan AS dan target lainnya.
Awal Maret, Presiden AS Donald Trump meremehkan pentingnya Moskow yang dilaporkan membagikan intelijen dengan Iran untuk membantu menyerang target terkait AS, menyatakan bahwa meskipun Moskow membagikan detail tersebut, Iran mendapatkan sedikit manfaat.
Satu bulan kemudian, laporan intelijen Ukraina memberikan rincian lebih lanjut tentang apa yang bisa dibagikan antara Moskow dan Teheran. Menurut penilaian terbaru, satelit Rusia melakukan setidaknya 24 survei di 11 negara Timur Tengah dari 21 hingga 31 Maret, mencakup 46 "objek", termasuk pangkalan militer AS dan situs lain, seperti bandara dan ladang minyak.
Dalam beberapa hari setelah disurvei, pangkalan militer dan markas menjadi sasaran rudal balistik dan drone Iran, menurut penilaian tersebut, menunjukkan pola yang jelas.
Menurut Kyiv, pertukaran citra satelit diorganisir melalui saluran komunikasi permanen yang digunakan oleh Rusia dan Iran, dan juga dapat difasilitasi oleh perwira intelijen militer Rusia yang ditempatkan di Teheran.
Rusia dan Iran telah memperdalam hubungan militer sejak Moskow memulai invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, dan rekanannya dari Iran, Masoud Pezeshkian, juga menandatangani perjanjian tentang "kemitraan strategis komprehensif" pada Januari tahun lalu.
Pasal 4 Perjanjian menyatakan bahwa "untuk memperkuat keamanan nasional dan menghadapi ancaman bersama, layanan intelijen dan keamanan dari pihak-pihak yang menandatangani saling bertukar informasi dan pengalaman."
(*/Tribun-medan.com)
Baca juga: Dubes Iran Tegaskan Komitmennya untuk Mempermudah Kapal Tanker Indonesia Melintasi Selat Hormuz
Baca juga: ULTIMATUM Trump Dekati Deadline, China Mendadak Tutup Langitnya, Arab Tutup Jembatan King Fahd