Mengunjungi Bengkel Lukis Sholihin Taman Budaya, Boneka Pun Protes Kerusakan Alam Kalsel
Irfani Rahman April 08, 2026 07:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN- Pameran “Kompilasi Protes!!! Radikal Re-Aksi: Menenun Kolektif, Menantang Krisis” di Bengkel Lukis Sholihin, Taman Budaya Kalimantan Selatan, tidak hanya menampilkan karya lukisan.

Tepat di sisi kiri setelah pintu masuk utama gedung, ada satu ruang terpisah yang menampilkan instalasi visual dari XR Meratus.

Ruangan ini berbeda dari ruang pamer biasanya. Dindingnya dipenuhi poster berwarna dengan pesan-pesan lingkungan. Sementara lantai dan sudut ruang diisi berbagai atribut aksi.

Di bagian bawah salah satu dinding, deretan boneka kecil disusun rapi di atas papan. Ukurannya seragam dan warnanya beragam. Boneka-boneka itu menghadap ke arah pengunjung, tepat di bawah poster bertuliskan “Stop Deforestasi, Lindungi Hutan, Lindungi Kami”.

Beberapa pengunjung terlihat berhenti di titik ini. Mereka mengamati beragam tulisan bertema protes terhadap kerusakan alam di Kalsel.

Baca juga: Tangis Tunangan Pecatan Polisi Pecah di Sidang Pembunuhan Mahasiswi ULM, Ungkap Soal Rencana Menikah

Baca juga: Perusahaan Umrah di Kalsel Sikapi Kenaikan Harga Avtur, Penerbangan Transit Jadi Opsi

Perwakilan XR Meratus, Wira Surya Wibawa menjelaskan boneka menjadi bagian dari pendekatan visual dalam menyuarakan isu lingkungan. “Boneka-boneka ini menggambarkan bahwa mainan pun ikut bersuara, ikut melakukan perlawanan bersama manusia,” ujarnya, Selasa (7/4).

Menurut Wira, penggunaan benda sehari-hari seperti boneka merupakan bagian dari cara menyampaikan pesan tanpa harus selalu mengandalkan aksi massa di ruang publik. “Aksi itu tidak harus selalu hadir. Bisa juga diwakilkan oleh benda-benda di sekitar kita,” katanya.

XR Meratus sebenarnya tidak hanya menggunakan boneka. Berbagai benda lain seperti sepatu, payung, hingga mainan juga pernah digunakan dalam aksi-aksi sebelumnya. Benda-benda tersebut ditempatkan sebagai simbol sekaligus media penyampai pesan.

Di ruang pamer ini, pendekatan tersebut diterjemahkan dalam bentuk instalasi yang bisa dilihat dari dekat oleh pengunjung.

Selain dereta boneka, ruangan juga dipenuhi poster dan spanduk dengan bahasa visual beragam. Ada yang menggunakan ilustrasi, ada pula yang menampilkan teks singkat seperti “Aksi Iklim Sekarang”, “Pulihkan Kalsel”, hingga ajakan beralih ke energi bersih.

Wira menyebut, pendekatan visual seperti ini dipilih agar pesan lebih mudah diterima, terutama oleh kalangan muda. “Aksi bisa divisualisasikan dengan cara yang lebih kreatif, tidak harus selalu formal,” ujarnya.

Ia juga menyinggung kondisi di Kalimantan Selatan, di mana isu lingkungan kerap bersinggungan dengan kepentingan industri. Hal ini membuat penyampaian pesan menjadi tidak selalu mudah.

Karena itu, menurutnya, ruang-ruang seperti pameran dapat menjadi alternatif untuk menyampaikan isu secara terbuka.

“Dengan kondisi di Kalsel yang cukup sulit membicarakan isu lingkungan, pendekatan seperti ini bisa jadi cara lain untuk bersuara,” katanya.

Pameran Kompilasi Protes!!! Radikal Re-Aksi: Menenun Kolektif, Menantang Krisis menampilkan 16 karya dari 15 seniman. Pameran berlangsung pada 4-12 April 2026 pukul 14.00-21.00 Wita. (muhammad syaiful riki)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.