Renungan Harian Katolik
Oleh: Bruder Pio Hayon SVD
Hari Rabu Dalam Oktaf Paskah – 8 April 2026
Bacaan I: Kis. 3:1-10
Injil: Luk. 24: 13-35
Tema: “Jalan ke Emaus”
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Rabu dalam Oktaf Paskah mengajak kita berjumpa dengan Kristus yang bangkit, bukan hanya sebagai peristiwa besar, tetapi sebagai jalan yang menghangatkan hati.
Injil hari ini menghadirkan dua murid yang berjalan menuju Emaus dengan kesedihan dan kebingungan.
Namun dalam perjalanan itu, Tuhan sendiri menyertai mereka, menuntun mereka untuk memahami sabda-Nya, sampai akhirnya mereka “menyadari” siapa Dia—dan hati mereka berubah menjadi iman yang berkobar.
Saudara-saudari terkasih.
Pada perikop ini (Kis 3:1-10) berkisah tentang Petrus dan Yohanes bertemu orang lumpuh yang meminta belas kasihan. Dalam nama Yesus, orang itu dipulihkan: ia berdiri, berjalan, dan memuji Allah. Ini menunjukkan bahwa kebangkitan Kristus tidak hanya memberi penghiburan, tetapi menghadirkan kuasa pemulihan nyata di tengah hidup manusia.
Dalam Injil (Luk 24:13-35) bercerita tentang dua murid Emaus berbicara tentang peristiwa Yesus, namun mereka belum mengenali Tuhan. Yesus menegur dan menjelaskan Kitab Suci, sehingga hati mereka menjadi berkobar.
Baru saat Ia memecah roti, mata mereka terbuka dan mereka menyadari bahwa Dia ada bersama mereka. Refleksi kita adalah “Jalan ke Emaus”: Apakah jalan ke Emaus adalah jalan kekecewaan sebagai murid? Dan apakah kita masih berjalan dengan hati dingin?
Pernenungan kita: kesedihan atau kegagalan apa yang membuat iman kita terasa “mati suri”? Hari ini Tuhan mengajak kita membawa keluhan itu dalam doa, sambil tetap berjalan.
“Sabda Tuhan, menghangatkan hati” : Permenungan kita: apakah kita memberi ruang untuk Firman—di tengah kesibukan dan emosi—atau hanya mengandalkan perasaan?
Mulailah membaca/merenungkan satu bagian Kitab Suci hari ini dan biarkan itu menuntun langkah kita. “Iman akan Kristus berarti bersaksi”: Seperti orang lumpuh yang memuji Allah, dan murid Emaus yang bergegas kembali, kebangkitan menghasilkan kesaksian.
Permenungan kita: tindakan kesaksian kecil apa yang dapat kita lakukan (mengunjungi, mendoakan, mengampuni, atau membantu yang membutuhkan)?
Saudara-saudari terkasih,
Pesan untuk kita, pertama, “Jalan ke Emaus” mengajar kita bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita saat hati gelap.
Kedua, Tuhan berjalan bersama, menjelaskan Kitab Suci, dan memecah roti—hingga iman kita hidup kembali.
Ketiga, kiranya kita berani menempuh perjalanan iman ini sampai hati berkobar dan kita sungguh mengenali Kristus yang bangkit.
Kita pun berdoa, Tuhan Yesus, temani langkah kami seperti di Emaus. Bukalah mata dan hati kami agar kami percaya dan bersaksi. Tuhan memberkati kita semua. (*)