Kenaikan Plastik Tekan Omzet Pedagang Bandrek di Lampung Tengah
taryono April 08, 2026 11:19 AM

Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Kenaikan harga barang kebutuhan pokok rupanya tidak hanya menyasar sektor pangan, tetapi juga merambah perlengkapan dagang, termasuk plastik kemasan.

Hal ini dirasakan langsung oleh Nur Usman Muhammad Dalis, pedagang minuman hangat di Komplek Pasar Punggur, Lampung Tengah.

Usman sehari-hari menjajakan minuman tradisional seperti Bandrek, Skoteng, dan STMJ. 

Ia mengaku terpukul dengan kenaikan harga plastik yang terjadi secara signifikan dalam beberapa waktu terakhir. 

Meski rutin berbelanja plastik setiap pagi, harga yang ia temui kini jauh berbeda dari sebelumnya.

"Kalau kenaikan, ini bukan naik lagi, tapi ganti harga," ujar Usman saat ditemui di lapak dagangannya, Rabu (8/4/2026).

Ia merinci, plastik ukuran 12x25 yang biasa digunakan untuk membungkus minuman kini dibanderol Rp13.000 per pak, naik dari harga sebelumnya Rp8.000. Kenaikan serupa juga terjadi pada plastik jenis “kresek asoy,” yang semula Rp10.000 menjadi Rp18.000 per pak.

Kenaikan harga yang mencapai 40 hingga 50 persen ini menjadi beban berat bagi modal usaha Usman. 

Dalam sehari, ia setidaknya menghabiskan satu pak untuk masing-masing jenis plastik tersebut.

Meski biaya operasional membengkak, Usman memilih tidak menaikkan harga jual minumannya. 

Ia khawatir langkah tersebut justru akan membuat pelanggan setianya pergi.

"Belum (dinaikkan), karena masalahnya kalau harga naik, dampaknya ke pembelian konsumen pasti berkurang," ungkapnya.

Kondisi ini praktis membuat omzet bersih Usman menurun, karena sebagian pendapatan tersedot untuk menutupi kenaikan modal plastik. 

Hingga saat ini, ia belum menemukan alternatif pengganti plastik yang lebih terjangkau. 

Menurutnya, meminta pelanggan membawa wadah sendiri dari rumah belum memungkinkan untuk jenis dagangannya.

Berdasarkan informasi yang ia dapatkan dari media sosial, Usman menduga kenaikan harga ini dipicu oleh situasi global yang tidak menentu.

"Dengar-dengar dari scroll medsos, kebanyakan karena dampak konflik global atau perang. Katanya berpengaruh ke ekspor-impor tekstil dan plastik jadi mahal," jelasnya.

Ia berharap pemerintah segera turun tangan mencari solusi atas kenaikan harga ini. Menurutnya, jika pedagang kecil seperti dirinya sudah merasakan dampaknya, pengusaha skala besar seperti produsen keripik tentu akan jauh lebih terdampak.

"Harapannya pemerintah bisa menemukan solusi. Kalau untuk komersil yang lain seperti pengusaha keripik, itu dampaknya pasti luar biasa banget," pungkas Usman.

 (TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.