TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Kenaikan harga bahan bakar pesawat (avtur) yang hampir mencapai 100 persen berdampak pada penyesuaian tarif oleh maskapai, termasuk Garuda Indonesia.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, dalam rilis resminya yang diterima Tribunsumsel.com, Rabu (8/4/2026), mengatakan Garuda Indonesia akan menyesuaikan tarif tiket pesawat sebagai dampak naiknya biaya avtur.
Namun, penyesuaian harga tiket dilakukan secara proporsional dan terukur dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, transparansi, serta kepatuhan terhadap ketentuan regulator.
Evaluasi akan dilakukan secara berkala seiring dengan perkembangan harga avtur yang terus bergerak dinamis.
Di tengah tekanan industri yang masih berlanjut, perusahaan juga mempersiapkan langkah-langkah mitigasi melalui pengkajian optimalisasi frekuensi dan jadwal penerbangan di sejumlah rute, sebagai bagian dari upaya menjaga produktivitas kapasitas dan keberlangsungan operasional.
"Ke depan, Garuda Indonesia akan terus mencermati perkembangan geopolitik dan dinamika industri aviasi global, serta memastikan setiap langkah penyesuaian dilakukan secara adaptif guna menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis dan aksesibilitas layanan bagi seluruh lapisan masyarakat," katanya.
Sementara itu, General Manager Garuda Indonesia Cabang Palembang, Yona Wahyuni, menyampaikan bahwa sejak kemarin Garuda telah memberlakukan tarif baru yang disesuaikan dengan ketentuan pemerintah.
Ia menegaskan bahwa penyesuaian ini bukanlah kenaikan tarif dasar, melainkan penerapan fuel surcharge akibat lonjakan harga avtur.
"Besaran penyesuaiannya sekitar 13 persen, sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah," ujar Yona.
Selain itu, hingga kini Garuda juga masih menunggu kebijakan pemberian stimulus PPN yang akan diberikan pemerintah.
Baca juga: Diskon Tiket Pesawat Citilink 21 Persen Saat Mudik dan Balik Lebaran, Jakarta-Palembang Rp 786 Ribu
Baca juga: Diskon Tiket Pesawat Garuda Indonesia Rute Palembang-Jakarta dan Sebaliknya Periode 14-29 Maret 2026
Yona mengatakan naiknya harga tiket pesawat untuk pekan ini belum terlihat dampaknya.
Ia memprediksi dampaknya baru akan terlihat pekan depan, sebab pekan ini masih ada agenda pemerintahan yang sudah dijadwalkan sebelumnya sehingga tetap dilaksanakan sesuai jadwal.
"Kemungkinan minggu depan baru terlihat dampaknya apakah turun atau tidak," ujar Yona.
Jika permintaan kursi pesawat menurun, maka Garuda Indonesia akan mengurangi frekuensi terbang.
Saat ini frekuensinya lima kali terbang sepekan, kemungkinan bisa turun menjadi empat kali atau tiga kali tergantung situasi dan kondisi nantinya.
General Manager Garuda Indonesia, Yona Wahyuni, mengatakan meski tarif tiket pesawat naik, biasanya akan ada tarif promosi jika permintaan kursi sepi atau menurun.
Sehingga masyarakat juga diminta tidak khawatir meski harga naik.
Selain itu, kenaikan tarif ini juga akan dievaluasi dan disesuaikan seiring perkembangan serta dinamika geopolitik.
Ikuti dan bergabung dalam saluran whatsapp Tribunsumsel.com