Dubes Inggris Kunjungi Stasiun Yogyakarta, Perkuat Kolaborasi Perencanaan Tata Kota Terintegrasi
Joko Widiyarso April 08, 2026 08:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Dominic Jermey mengunjungi Stasiun Yogyakarta mendukung transisi menuju sistem mobilitas perkotaan yang rendah karbon dan terintegrasi.

Ia mengatakan kedatangannya ke Yogyakarta bertujuan untuk memperkuat kolaborasi antara Inggris dan Yogyakarta, mulai dari aksi iklim hingga pendidikan.

Sekaligus wujud kemitraan strategis Inggris-Indonesia yang telah diluncurkan awal tahun ini oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Sir Keir Starmer.

“Inggris mendukung transisi menuju sistem mobilitas perkotaan yang rendah karbon dan terintegrasi. Dukungan ini mencakup penyusunan panduan implementasi Transit Oriented Development (TOD) dan Land Value Capture, serta bantuan teknis yang diperlukan untuk meletakkan dasar perencanaan e-mobility yang inklusif,” katanya, Rabu (8/4/2026).

Selain mobilitas rendah karbon, pihaknya juga mendukung ketahanan iklim dan inisiatif berbasis masyarakat. Dukungan tersebut diwujudkan dalam pengelolaan sampah sirkular di Bantul hingga kehutanan sosial dan ekowisata di Kulon Progo. 

“Prinsip inklusivitas menjadi inti pendekatan kami, termasuk melalui aksi iklim yang responsif gender serta memastikan sistem transportasi dapat melayani seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.

Dalam kunjungan tersebut, Jermey juga didampingi oleh Putri Kraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi. 

Bahas penataan kawasan

Pada kesempatan itu GKR Mangkubumi menerangkan pertemuan dengan Dubes Inggris untuk Indonesia lebih membahas penataan kawasan, utamanya transportasi.

“Mereka sangat concern pengembangan kereta api. Kalau kata Pak Kadaop (Kepala Daop 6 Yogyakarta) tadi nomor 3 (Stasiun Yogyakarta menjadi stasiun terpadat ketiga), karena passenger banyak sekali, tapi stasiunnya cukup kecil, jadi masih penuh, padat. Jadi bagaimana sama-sama Stasiun Tugu dan kereta apinya bisa dimanfaatkan masyarakat, kalau bisa keretanya bisa sampai ke Bantul sana,” terangnya.

Studi kawasan-kawasan heritage juga menjadi perbincangan. Tujuannya agar kawasan cagar budaya di DIY tidak rusak dan tetap lestari.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti mengungkapkan Stasiun Yogyakarta sudah menjadi TOD, sehingga tidak hanya bicara layanan transportasi tetapi pendukungnya, seperti area bisnis, perkantoran, perumahan.

“Dari Tugu (Stasiun Yogyakarta) ke YIA itu kan ada sekitar lima stasiun, tapi yang aktif kan sini sama Wates. Itu sudah ada sebenarnya di tata ruang, sudah didesain, tapi kan belum terbangun dengan baik,” ungkapnya.

Ia menyebut DIY sudah memiliki desain transportasi yang berkelanjutan, namun implementasinya memang tidak mudah. Harapannya desain tata kelola ini mendapat dukungan dari Inggris.

“Persoalannya kan dieksekusi. Eksekusi kan sesuatu yang kemudian wujud nyata dari suatu perencanaan. Ini yang kami juga harapkan support dari Inggris. Karena di sini juga message-nya itu adalah pengurangan polusi. Kemudian terkait dengan penggunaan transportasi tradisional kayak becak, andong, dan bus listrik juga,” imbuhnya. 

Apa itu Transit Oriented Development (TOD)? 

Transit Oriented Development (TOD) adalah konsep perencanaan tata kota yang mengintegrasikan hunian, komersial, dan ruang publik di sekitar pusat transportasi massal (stasiun/terminal).

Tujuannya memaksimalkan akses berjalan kaki, mengurangi kendaraan pribadi, dan menciptakan lingkungan kompak yang efisien, padat, dan ramah lingkungan.  

Tentang TOD:

Aksesibilitas Tinggi:

Kawasan berfokus pada radius  400-800 meter (jarak jalan kaki) dari pusat transit.

Penggunaan Lahan Campuran (Mixed-Use):

Menggabungkan tempat tinggal, perkantoran, dan area komersial dalam satu area untuk mengurangi kebutuhan perjalanan jauh.

Fasilitas Pejalan Kaki:

Desain jalan yang aman dan nyaman untuk berjalan kaki atau bersepeda, didukung transportasi non-bermotor.

Mengurangi Kemacetan & Polusi:

Mendorong penggunaan transportasi publik dan menurunkan tingkat penggunaan kendaraan pribadi.

Konektivitas:

Terhubung dengan setidaknya dua moda transportasi, seringkali berbasis rel. 

Contoh implementasi TOD di Indonesia terlihat pada kawasan sekitar stasiun MRT, KRL Commuter Line, atau LRT di Jakarta. 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.