Peran Mojtaba Khamenei di Balik Detik-detik Menentukan Gencatan Senjata AS-Iran
Rustam Aji April 08, 2026 09:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, TEHERAN – Dunia terhindar dari eskalasi perang besar setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) menyepakati gencatan senjata selama dua pekan, Selasa (7/4/2026) waktu AS.

Kesepakatan krusial ini tercapai hanya 90 menit sebelum berakhirnya tenggat waktu Presiden Donald Trump untuk melancarkan serangan yang mengancam "menghancurkan peradaban Iran".

Laporan Axios menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menjadi tokoh sentral dalam terobosan diplomatik ini.

Untuk pertama kalinya sejak konflik meletus akhir Februari lalu, Mojtaba menginstruksikan tim negosiasi Teheran untuk segera merampungkan kesepakatan guna menghindari kehancuran infrastruktur nasional.

“Tanpa lampu hijau darinya (Mojtaba), tidak akan ada kesepakatan,” ungkap seorang sumber regional. Mojtaba, yang memimpin Iran di tengah ancaman keamanan tinggi, dilaporkan mengendalikan komunikasi rahasia melalui kurir catatan untuk menjembatani perbedaan dengan Washington.

Digambarkan Tidak Mudah, Penuh Kekacauan

Proses negosiasi yang digambarkan "sangat kacau" ini melibatkan mediasi intensif dari Pakistan, Turkiye, dan Mesir.

Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan terus berkoordinasi dengan mediator Pakistan dari Hungaria, sementara militer AS di Timur Tengah sudah dalam posisi siaga tempur tertinggi sesaat sebelum perintah penghentian operasi dikeluarkan.

Baca juga: Sebelum Genjatan,Paus Leo XIV Tegur Keras Trump: Ancaman Lenyapkan Peradaban Iran Tak Bisa Diterima!

Presiden Trump akhirnya mengonfirmasi penangguhan serangan melalui platform Truth Social.

"Saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran untuk jangka waktu dua minggu," tulis Trump setelah melakukan komunikasi dengan Panglima Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memastikan pihaknya akan mematuhi gencatan senjata dan berkomitmen membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.

Jalur ini merupakan urat nadi energi dunia yang menyuplai seperlima kebutuhan minyak dan gas global. Namun, Araghchi menekankan bahwa lalu lintas laut akan dilakukan melalui koordinasi ketat dengan angkatan bersenjata Iran.

Gedung Putih mengklaim kesepakatan ini sebagai kemenangan dari strategi "tekanan maksimum" yang dijalankan Trump.

Juru bicara Karoline Leavitt menyatakan bahwa keberhasilan militer AS telah memaksa Iran ke meja perundingan untuk mencari solusi diplomatik jangka panjang.

Meskipun tensi mereda, ketidakpastian masih membayangi.

Baca juga: Israel Memanas: Netanyahu Dikritik Habis-habisan Usai Tak Dilibatkan dalam Kesepakatan AS-Iran

Israel dilaporkan khawatir kehilangan kendali atas proses ini, sementara AS menjanjikan akan tetap menekan Iran terkait program nuklir dan rudal balistik dalam perundingan lanjutan yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan.

Tim delegasi AS dalam pertemuan tersebut kemungkinan besar akan dipimpin langsung oleh JD Vance. (inas/kps)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.