Iran Tutup Kembali Jalur Minyak di Selat Hormuz Setelah Serangan Militer Israel ke Lebanon
Muliadi Gani April 09, 2026 01:54 PM

 

PROHABA.CO - Pemerintah Iran kembali menutup jalur pelayaran minyak di Selat Hormuz hanya beberapa jam setelah sempat dibuka terbatas, Kamis (9/4/2026).

Penutupan mendadak ini langsung mengguncang pasar energi global, memicu kekhawatiran akan lonjakan harga minyak dan ketidakstabilan ekonomi dunia.

Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai salah satu jalur paling vital bagi distribusi minyak internasional, dengan lebih dari 20 persen pasokan energi dunia melewati kawasan tersebut setiap harinya.

Keputusan ini disebut tidak lepas dari meningkatnya eskalasi konflik di Lebanon, khususnya setelah serangan militer Israel yang menimbulkan korban besar di Beirut.

Serangan Israel yang menyasar wilayah sipil dan kawasan komersial di Beirut, termasuk area yang menjadi basis Hezbollah, dilaporkan menewaskan ratusan orang.

Data dari NBC International mencatat sedikitnya 182 korban jiwa dalam satu hari, sementara laporan lain memperkirakan angka korban mencapai lebih dari 250 orang, dengan lebih dari 1.000 orang luka-luka.

Peristiwa ini disebut sebagai salah satu hari paling mematikan sejak konflik kembali memanas di kawasan Timur Tengah.

Pemerintah Israel di bawah Benjamin Netanyahu menyatakan operasi militer tersebut merupakan langkah untuk menekan ancaman Hizbullah yang dinilai membahayakan keamanan nasional Israel.

Baca juga: Iran Ajukan Rencana 10 Poin, Trump Setuju Gencatan Senjata dan Buka Selat Hormuz

Iran Menuding Israel dan AS Langgar Kesepakatan

Pemerintah Israel di bawah Benjamin Netanyahu menyatakan operasi militer itu sebagai langkah menekan ancaman Hezbollah.

Namun, Iran menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati bersama Amerika Serikat.

Teheran menegaskan bahwa Lebanon merupakan bagian dari satu front konflik regional yang tidak bisa dipisahkan.

Oleh karena itu, serangan Israel yang terus berlanjut dinilai sebagai bentuk pengingkaran terhadap komitmen damai yang telah disepakati bersama.

Iran juga menyoroti adanya aktivitas drone asing yang masih memasuki wilayah udara Iran setelah gencatan senjata diumumkan.

Hal ini dianggap sebagai pelanggaran nyata terhadap klausul yang melarang segala bentuk agresi militer.

Selain itu, Iran menuding AS dan Israel masih menolak hak Teheran untuk melakukan pengayaan uranium, yang merupakan salah satu poin penting dalam proposal damai tersebut. 

Isu nuklir ini kembali menjadi titik krusial yang memperkeruh hubungan kedua pihak.

Alasan ini yang mendorong Iran untuk memperketat kontrol Selat Hormuz sebagai bentuk protes terhadap tindakan Israel, langkah ini juga dinilai sebagai sinyal keras kepada Amerika Serikat agar menegakkan komitmen dalam menjaga kesepakatan damai.

Baca juga: Iran Buka Selat Hormuz, Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata 2 Pekan

Selat Hormuz Dibuka Terbatas dengan Pengawasan Ketat

Penutupan jalur minyak di Selat Hormuz dinilai sebagai bentuk protes Iran terhadap tindakan Israel sekaligus sinyal keras kepada Amerika Serikat agar menegakkan komitmen damai.

Sebelumnya, Iran sempat membuka jalur tersebut selama dua minggu sebagai bagian dari kesepakatan awal dengan AS.

Pembukaan jalur itu diumumkan setelah Presiden AS Donald Trump menyetujui proposal 10 poin yang diajukan Iran pada Selasa (7/4/2026).

Namun, kebijakan pembukaan jalur tersebut tidak dilakukan secara bebas. 

Iran tetap menerapkan pengawasan ketat terhadap setiap kapal yang melintas.

Otoritas Iran menetapkan biaya transit sekitar 2 juta dolar AS atau setara Rp 34 miliar per kapal.

Selain itu, sistem verifikasi menyeluruh terhadap identitas kapal dan muatan diberlakukan, dengan koordinasi langsung bersama aparat militer Iran.

Iran juga menerapkan mekanisme penyaringan atau “vetting”, di mana hanya kapal-kapal tertentu yang memenuhi kriteria yang diizinkan melintas melalui koridor aman.

Langkah ini menandai perubahan signifikan dari jalur pelayaran bebas menjadi jalur yang dikontrol secara selektif.

Penutupan kembali Selat Hormuz menimbulkan kekhawatiran besar di pasar internasional.

Harga minyak mentah diperkirakan akan melonjak tajam karena pasokan terganggu.

Negara-negara importir utama seperti Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Eropa disebut mulai menyiapkan langkah antisipasi.

Para pengamat menilai kebijakan Iran mencerminkan strategi untuk menjaga posisi tawar di tengah ketidakpastian gencatan senjata.

Dengan mengendalikan salah satu jalur energi terpenting dunia, Iran memiliki leverage signifikan dalam dinamika geopolitik kawasan.

Baca juga: Polsek Idi Rayeuk Tangkap Pria 35 Tahun, Barang Bukti 12 Paket Sabu Diamankan

Baca juga: Iran Hujani Israel dengan Rudal, Tel Aviv Diguncang Ledakan Usai Pidato Donald Trump

Baca juga: Kejati Aceh Tahan Tersangka Baru Korupsi Beasiswa Aceh, Tagihan Fiktif Rugikan Negara Rp14 Miliar

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.