Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Lima mahasiswa berprestasi dari Universitas Darmajaya (IIB Darmajaya) kini tengah mencicipi ketatnya persaingan akademik global.
Lauren Patricia, Kaneziro Kolungga, Naria Tazkia Maharani, Cika Puvita, dan Fauzi Ramadaniza terpilih untuk mewakili kampus tercinta dalam program Student Mobility di Nantong Vocational University (NTVU), Tiongkok.
Meskipun berasal dari latar belakang jurusan yang beragam mulai dari Teknik Informatika, Sistem Informasi, hingga Pendidikan Teknologi Informasi kelimanya kini bersatu dalam satu fokus studi yang sama yaitu Internet of Things (IoT).
Lauren Patricia mengatakan bahwa perjalanan mereka menuju Tiongkok tidaklah instan. Mereka harus melewati dua tahap seleksi yang menguras energi.
Pertama, tes TOEFL dengan skor minimal 450 untuk membuktikan kecakapan bahasa Inggris.
Baca juga: Strategi DKV IIB Darmajaya Hadapi Era Digital, Bekali Mahasiswa dari Sketsa hingga UI/UX
Kedua, sesi wawancara mendalam untuk menguji motivasi dan kemandirian.
"Selain IPK yang harus sesuai standar, kesiapan mental dan komitmen sangat diuji. Kami harus membuktikan bahwa kami mampu beradaptasi dengan lingkungan yang benar-benar baru," ungkap Lauren Patricia Kamis (9/4/2026).
Menurutnya tantangan yang mereka dihadapi antara lain perbedaan bahasa, budaya, dan kebiasaan sehari-hari.
Selain itu, adaptasi terhadap sistem pembelajaran yang berbeda juga menjadi tantangan tersendiri.
Rasa rindu terhadap keluarga juga bisa dirasakan, terutama di awal. Namun, semua tantangan tersebut dapat diatasi seiring waktu dan justru menjadi pengalaman pembelajaran yang berharga.
Selama disana, mereka menjalankan kuliah normal. Namun untuk kelasnya berbeda dengan indonesia karena disana mereka kuliah dari jam 08.00 pagi sampai 21.25 malam.
Program ini bukan sekadar mengejar nilai akademis, masing-masing mahasiswa memiliki target atau goals pribadi setelah belajar disana.
Lauren mengatakan goal yang ingin ia gapai adalah meningkatkan skillnya di bisang IoT dan memperluas relasi dengan memiliki teman dari luar negara.
“Goals yang ingin sayak capai selain di bidang IoT adalah meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dalam konteks internasional,” jelasnya.
“Selain itu, saya juga ingin memperluas jaringan pertemanan global serta memahami budaya Tiongkok secara langsung,” tambahnya.
Ia juga menargetkan untuk dapat berkomunikasi menggunakan bahasa untuk pengembangan karier.
Naria mengungkapkan goals yang ingin ia capai dalam program ini adalah meningkatkan kemampuan akademik dan memahami budaya Tiongkok.
“Goals yang ingin saya capai adalah meningkatkan kemampuan akademik, saya juga ingin memperluas jaringan pertemanan global serta memahami budaya Tiongkok secara langsung,” ucapnya.
Sedangkan Cika mengatakan bahwa goals yang ingin ia capai adalah mengetahui dan mempelajari bagaimana China membuat teknologi yang canggih, saya juga ingin mempelajari bahasa dan budaya negara China, serta memperluas wawasan dan pertemanan internasional.
Kaneziro juga menyebutkan goals yang ingin dirinya capai adalah memperoleh ilmu pengetahuan dan pengalaman baru untuk pengembangan diri dan kariernya di masa depan.
“Saya juga ingin meningkatkan kemampuan bahasa, terutama dalam komunikasi internasional, agar dapat berinteraksi dengan lebih percaya diri,” tuturnya.
Mereka berharap semoga program Student Mobility ini diharapkan menjadi bekal berharga bagi kelimanya saat terjun ke dunia kerja profesional nanti.
Manfaat seperti membangun relasi internasional, meningkatkan soft skills, hingga penguasaan teknologi IoT yang relevan dengan perkembangan zaman menjadi nilai jual yang tinggi.
"Pengalaman ini sangat berkesan. Kami bisa bertemu mahasiswa dari berbagai negara dan mengenal budaya Tiongkok secara langsung. Ini adalah investasi masa depan bagi kami," tutup kelimanya.
(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)