Iran Keluarkan Pernyataan Keras, Kapal yang Lewat Selat Hormuz Tanpa Izin Terancam Dihancurkan
Amirullah April 09, 2026 06:23 PM

SERAMBINEWS.COM – Situasi di Selat Hormuz kembali memanas. Iran mengeluarkan peringatan keras kepada kapal-kapal internasional yang melintas di jalur strategis tersebut, terutama bagi mereka yang tidak mengantongi izin resmi.

Laporan BBC menyebutkan, Angkatan Laut Iran secara terbuka menyampaikan ancaman melalui komunikasi radio kepada kapal-kapal yang berada di kawasan Teluk.

Dalam pernyataannya, mereka menegaskan, “kapal mana pun yang berupaya melintasi tanpa izin akan ditargetkan dan dihancurkan.”

Pesan serupa juga dikutip oleh The Wall Street Journal. Dalam laporan itu disebutkan bahwa kapal-kapal asing diwajibkan lebih dulu mendapatkan izin sebelum melintas.

“Anda harus mendapatkan izin dari angkatan laut Sepah Iran untuk melewati selat tersebut,” demikian bunyi peringatan yang disampaikan.

Tak berhenti di situ, ancaman yang disampaikan juga sangat tegas.

“Jika ada kapal yang mencoba melintas tanpa izin, kapal tersebut akan dihancurkan,” lanjut isi komunikasi tersebut.

Peringatan ini muncul di tengah kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan antara Iran dan Amerika Serikat. Meski secara formal tensi konflik disebut mereda, kondisi di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan penangguhan serangan dilakukan dengan syarat Selat Hormuz dibuka secara “lengkap, segera, dan aman.”

Namun, realitas di perairan tersebut masih jauh dari kata normal. Aktivitas pelayaran tetap dibayangi ketidakpastian, sementara ancaman militer dari Iran membuat situasi semakin sensitif.

Baca juga: Jembatan Putus Diterjang Banjir, Warga Gayo Lues Seberangi Sungai untuk Distribusi MBG

Baca juga: Rokok Ilegal Rp 1,29 Miliar Dimusnahkan, Hasil Penindakan Bea Cukai Langsa Mei 2025 - Februari 2026

Lalu Lintas Masih Sangat Terbatas

Data pelacakan kapal menunjukkan hanya tiga kapal kargo yang melintasi Selat Hormuz setelah gencatan senjata diumumkan.

Angka tersebut jauh di bawah rata-rata sekitar 138 kapal per hari sebelum konflik pecah.

BBC melaporkan belum jelas apakah pergerakan terbatas ini merupakan dampak gencatan senjata atau rencana lama.

Analis dari Kpler, Ana Subasic, mengatakan, “masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah ini mencerminkan pembukaan kembali yang lebih luas.”

Sebagian besar kapal memilih menunggu kepastian sebelum melintas.

Lars Jensen dari Vespucci Maritime mengatakan, “sebagian besar perusahaan pelayaran ingin mendapatkan rincian dan jaminan tentang apa yang sebenarnya diperlukan untuk melintas.”

Ia menegaskan, “belum ada yang benar-benar berubah.”

Baca juga: Usaha Potong Ayam Gampong Pasar Terbakar, BPBK Abdya Sigap Padamkan Api 

Iran Masih Kendalikan Selat

Selat Hormuz menjadi titik krusial karena dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Jalur ini juga penting bagi distribusi gas alam cair serta bahan kimia industri global.

Ketegangan selama lebih dari lima pekan terakhir telah mengguncang pasar energi dunia.

Meskipun harga minyak sempat turun setelah kabar gencatan senjata, ketidakpastian tetap tinggi.

Richard Meade dari Lloyd’s List menyebut kondisi saat ini “sangat berbahaya” bagi pelayaran.

Ia mengatakan, “kami tahu Iran pada dasarnya masih mengendalikan selat.”

Ia menambahkan mekanisme perizinan dari Korps Garda Revolusi Iran belum jelas.

Ratusan Kapal Terjebak

Sekitar 800 kapal dilaporkan masih tertahan di kawasan Teluk.

Kapal tanker bermuatan penuh diperkirakan menjadi prioritas jika jalur kembali dibuka.

Operator kapal masih enggan mengambil risiko karena durasi gencatan senjata hanya dua pekan.

Niels Rasmussen dari BIMCO mengatakan, “saya ragu akan ada arus besar kapal masuk ke Teluk.”

Ia menilai perusahaan pelayaran tidak ingin terjebak jika konflik kembali memanas.

Selain itu, ancaman ranjau laut juga menjadi perhatian serius.

Sekretaris Jenderal International Chamber of Shipping, Thomas Kazakos, menegaskan, “kami perlu memastikan ada konfirmasi yang jelas bahwa keselamatan navigasi telah disepakati.”

Isu Tol dan Risiko Sanksi

Di tengah ketidakpastian, muncul wacana kapal harus membayar tol kepada Iran untuk melintas.

Lars Jensen menyebut, “posisi negosiasi Iran tampaknya adalah kapal perlu membayar tol untuk melintasi selat.”

Langkah tersebut berpotensi melanggar sanksi Amerika Serikat terhadap Iran.

Pengacara pelayaran James Turner menjelaskan pembayaran kepada entitas yang masuk daftar sanksi dapat berujung pelanggaran pidana.

Hal ini membuat perusahaan pelayaran menghadapi dilema besar antara keselamatan dan kepatuhan hukum.

Dampak Global Masih Membayangi

Gangguan di Selat Hormuz terus memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.

Jalur ini merupakan arteri utama distribusi energi dunia.

Setiap gangguan berpotensi memicu lonjakan harga dan krisis pasokan.

Meski pasar merespons positif kabar gencatan senjata, analis menilai pemulihan belum akan terjadi dalam waktu dekat.

Richard Meade menegaskan, “harga minyak merespons arah positif, tetapi itu tidak berarti pasokan global akan segera kembali normal.”

Situasi ini menunjukkan Selat Hormuz tetap menjadi titik paling sensitif dalam konflik Iran dan sekutunya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.