Di Tengah Berkurangnya Bantuan Barat, Ukraina Cari Sekutu Baru di Timur Tengah
Tiara Shelavie April 09, 2026 06:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Pada 5 April, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bertemu di Damaskus dengan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa dan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan untuk membahas perkembangan situasi di Iran serta invasi Rusia yang sedang berlangsung di Ukraina.

Dilaporkan Forbes, mereka juga membahas isu pertahanan dan keamanan, di mana Ukraina dan Suriah "berjanji untuk meningkatkan kerja sama keamanan."

Pertemuan dengan Suriah ini mengikuti kunjungan Zelensky ke Turki, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab, tempat ia mendiskusikan isu pertahanan dan keamanan dengan para pemimpin negara-negara tersebut.

Saat bertemu dengan pejabat dari Arab Saudi, Qatar, dan UEA, presiden Ukraina juga menandatangani perjanjian kerja sama militer jangka panjang.

Selain kemitraan pertahanan baru ini, Ukraina telah mengerahkan keahlian drone-nya ke Arab Saudi, Qatar, UEA, Kuwait, dan Yordania, seiring upaya negara-negara itu untuk menangkal serangan Iran dalam perang yang sedang berlangsung.

Sebagai imbalannya, Ukraina berupaya memperoleh rudal pertahanan udara untuk menangkal serangan rudal dan drone Rusia.

Keterlibatan diplomatik Zelensky dengan berbagai negara di Timur Tengah menunjukkan bahwa Ukraina memperluas jangkauan diplomatiknya sekaligus menawarkan layanan yang sangat dibutuhkan.

Sepanjang perang di Iran, pasukan Iran telah meluncurkan drone Shahed dan serangan lain ke negara-negara Timur Tengah yang memiliki pangkalan militer AS, seperti Bahrain, Yordania, Kuwait, Arab Saudi, dan Qatar.

Baca juga: Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.506: AS Abaikan Laporan Zelenskyy soal Putin Bantu Iran

BBC melaporkan bahwa hingga kini 13 anggota militer AS telah tewas, dan hampir 1.400 warga sipil di Timur Tengah juga menjadi korban akibat perang tersebut. Ketika negara-negara di kawasan itu berupaya melindungi warga sipil dari serangan drone dan rudal Iran, mereka berpaling ke Ukraina — negara yang telah berpengalaman menangkal drone Shahed.

Sepanjang invasi penuh Rusia ke Ukraina, Rusia telah menggunakan drone Shahed untuk menyerang kawasan sipil.

Untuk menghadapi serangan ini, Ukraina merancang drone pencegat berbiaya rendah yang memungkinkan mereka menghancurkan drone Shahed sekaligus melindungi warga sipil.

Melihat pengalaman Ukraina dalam memerangi drone Shahed, negara-negara Timur Tengah pun meminta akses atas teknologi pertahanan drone Ukraina.

Negara-negara Teluk tertarik pada cara Ukraina mengintegrasikan drone pencegat ke dalam sistem pertahanan udaranya. Merespons hal ini, otoritas Ukraina menyatakan kesediaan mereka untuk membantu, sekaligus mengungkapkan minat untuk memperoleh kiriman rudal pencegat PAC-3 bagi sistem Patriot mereka.

Ini bukan pertama kalinya negara-negara meminta akses ke teknologi drone Ukraina. Inggris, Jerman, dan Denmark telah mengundang produsen drone Ukraina untuk mendirikan fasilitas produksi di negara masing-masing demi mendapatkan akses ke drone tersebut.

Mengingat perkembangan industri drone di Eropa ini, Ukraina berharap dapat menawarkan keahlian yang sama ke negara-negara Timur Tengah.

Keterlibatan Ukraina dengan negara-negara Teluk juga sangat tepat waktu, mengingat kebutuhan Ukraina untuk memperkuat pertahanannya.

Menurut laporan yang diterbitkan pada Februari oleh Kiel Institute for the World Economy, bantuan militer AS ke Ukraina turun hingga 99 persen.

Laporan The Washington Post dan Reuters pada Maret juga mencatat bahwa Departemen Pertahanan AS mungkin akan mengalihkan bantuan pertahanan ke Timur Tengah, meninggalkan Ukraina tanpa dukungan tambahan.

Sementara itu, pada Desember 2025, Uni Eropa menyetujui paket pinjaman baru senilai €90 miliar untuk Ukraina, namun Hongaria memblokir pinjaman tersebut pada Maret, sehingga Ukraina kembali kehilangan bantuan yang sangat dibutuhkan.

Akibat situasi ini, Ukraina beralih ke negara-negara lain untuk memperoleh bantuan pertahanan dan keuangan.

Karena negara-negara Timur Tengah membutuhkan bantuan untuk menghadapi serangan drone Iran, Ukraina memandang kemitraan pertahanan baru ini sebagai hubungan yang saling menguntungkan.

Negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar, dan UEA akan mendapatkan akses ke teknologi drone Ukraina untuk melindungi warga sipil mereka, sementara Ukraina memperoleh rudal pertahanan udara dan kerja sama keamanan dalam menghadapi invasi Rusia.

Kemitraan pertahanan ini juga memperluas jejak diplomatik Ukraina di kawasan tersebut.

Sejak invasi penuh Rusia pada 2022, hampir 80 negara di seluruh dunia telah memberikan bantuan senilai ratusan miliar dolar kepada Ukraina.

Kesepakatan pertahanan yang ditandatangani Ukraina dengan negara-negara di kawasan ini pun bersifat jangka panjang, menunjukkan bahwa kemitraan ini bukan sekadar sementara.

Seiring perkembangan situasi di Iran dan Timur Tengah, para pengambil kebijakan dan pakar keamanan akan terus memantau dampak perang terhadap kawasan tersebut — dan implikasinya terhadap perang Rusia-Ukraina.

Tawaran keahlian drone Ukraina kepada negara-negara Timur Tengah akan membantu Ukraina mengamankan bantuan ekonomi dan pertahanan yang dibutuhkan dalam perjuangannya melawan Rusia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.