BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Upaya pelestarian tanaman endemik Kalimantan mendapat perhatian serius pemerintah pusat. Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq, meresmikan Arboretum Ayu Tirta di Jalan A. Yani KM 10, Kabupaten Banjar, Kamis (9/4/2026).
Peresmian ditandai dengan penanaman simbolis pohon ulin di kawasan arboretum seluas 8 hektar tersebut. Menteri Hanif tampak didampingi Rektor Universitas Lambung Mangkurat, Ahmad Alim Bachri, saat menanam bibit pohon yang dikenal sebagai “kayu besi” khas Kalimantan itu.
Suasana penanaman berlangsung sederhana. Tanah gambut yang masih lembap digali perlahan, sebelum bibit ulin dimasukkan dan ditimbun kembali. Momen itu menjadi simbol dimulainya komitmen jangka panjang dalam menjaga spesies endemik yang kini kian terancam.
Hanif menegaskan, keberadaan arboretum ini menjadi langkah nyata dalam menjaga keseimbangan ekosistem, terutama bagi tanaman-tanaman langka seperti ulin.
“Kita mengapresiasi dengan mendalam, karena jenis endemik seperti ulin ini potensinya sudah sangat terancam. Dengan adanya ini, kita ikut senang masih ada pengusaha yang peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.
Menurutnya, pelestarian spesies endemik bukan hanya soal menjaga satu jenis tanaman, melainkan juga menjaga rantai ekosistem yang lebih luas.
“Jenis endemik ini punya rantai yang panjang. Fungsi organisme lain juga ikut terbentuk. Dengan ini, kita membangun kembali nilai-nilai alam yang selama ini tertekan oleh pembangunan,” jelasnya.
Ia juga mendorong keterlibatan dunia usaha dalam upaya pemulihan lingkungan, mengingat keterbatasan kapasitas pemerintah.
“Kapasitas pemerintah tidak terlalu besar. Peran dunia usaha sangat kita harapkan untuk mempercepat pemulihan lingkungan,” tambahnya.
Arboretum Ayu Tirta sendiri merupakan kawasan hutan tropis mini yang mengoleksi ratusan spesies tanaman endemik Nusantara, termasuk tanaman khas lahan gambut. Kawasan ini difungsikan sebagai pusat konservasi, edukasi, hingga penelitian.
Founder Ayu Tirta, Chendrawan Sugianto, mengatakan kehadiran menteri menjadi motivasi besar bagi pengelola.
“Kedatangan beliau sangat membanggakan kami. Ini memberi semangat dan inspirasi untuk terus mengembangkan kawasan ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, arboretum ini berfokus pada pengembangan tanaman endemik, khususnya ulin, yang dikenal memiliki pertumbuhan sangat lambat.
“Dari teori, ulin memang lama tumbuh. Tapi dengan perawatan dan metode tertentu, ternyata bisa kita optimalkan pertumbuhannya,” katanya.
Hingga saat ini, pihaknya telah menanam lebih dari 10 ribu bibit, meski masih menyisakan sekitar 2.000 bibit yang akan ditanam menunggu musim hujan.
Selain tanaman, kawasan ini juga mulai menjadi habitat bagi berbagai satwa seperti burung, reptil, hingga kupu-kupu, tanpa penggunaan pestisida maupun pupuk kimia.
Dengan konsep konservasi berbasis edukasi, arboretum ini tidak dibuka untuk umum, melainkan secara selektif bagi kalangan akademisi dan penelitian.
“Arboretum ini kami dedikasikan untuk dunia pendidikan, khususnya di Kalimantan Selatan,” pungkasnya. (AOL)