Kepala Nuklir Iran Tegas Pengembangan Uranium Hak Mereka, AS dan Israel Bersitegang Jelang Negosiasi
Budi Sam Law Malau April 10, 2026 02:35 AM

WARTAKOTALIVE.COM -- Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kembali memanas menjelang perundingan penting di Islamabad. 

Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menegaskan bahwa program pengayaan uranium negaranya tidak dapat dihentikan oleh pihak mana pun.

Dalam pernyataannya, Eslami menyebut klaim Amerika Serikat dan Israel yang ingin menghentikan program nuklir Iran sebagai 'harapan yang akan terkubur'.

Baca juga: Inggris Ingatkan Trump Agar Selat Hormuz Tidak Dikuasai Iran, Desak Libanon Masuk Gencatan Senjata

Ia menegaskan bahwa berbagai tekanan, termasuk serangan militer dan operasi yang dilakukan kedua negara, tidak berhasil menghentikan laju program tersebut.

“Tidak ada individu atau kekuatan mana pun yang mampu menghentikan pengayaan uranium Iran,” tegasnya dilansir dari laman jpost.com, Kamis (10/4/2026).

Eslami bahkan menyebut bahwa tekanan yang dilakukan selama ini justru membawa Washington dan Tel Aviv ke tahap keputusasaan.

Ia menilai permintaan gencatan senjata dari pihak lawan sebagai tanda bahwa mereka gagal mencapai tujuan strategisnya.

Pernyataan keras dari Teheran ini muncul di tengah perbedaan tajam dengan Washington.

Dipantau AS

Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya menegaskan bahwa dalam skema kesepakatan mendatang tidak akan ada pengayaan uranium di Iran.

Trump juga mengklaim bahwa Amerika Serikat siap bekerja sama dengan Iran dalam proses yang ia sebut sebagai perubahan rezim yang sangat produktif.

Sembari menekankan bahwa program nuklir Iran akan diawasi ketat, termasuk melalui teknologi satelit.

"Militer AS, melalui Space Force, sedang memantau ketat setiap inci fasilitas nuklir Iran via satelit," ujarnya.

Trump sesumbar bahwa AS akan bekerja sama dengan Iran untuk menggali dan melenyapkan semua debu nuklir menggunakan kekuatan pesawat pembom siluman B-2.

Baca juga: Delegasi Iran ke Islamabad: Negosiasi 10 Poin dengan AS, Dibayangi Ketegangan dan Ketidakpercayaan

"Tidak ada yang disentuh sejak tanggal serangan itu," tulis Trump, mengisyaratkan kesiapan AS untuk mengambil tindakan drastis jika negosiasi gagal.

Menurut Trump, pembicaraan yang akan datang juga akan mencakup isu pengurangan tarif dan sanksi, dengan sebagian poin dari proposal AS disebut telah mendapat kesepahaman awal.

Sementara itu, dari pihak Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa konflik belum berakhir.

Ia menyebut gencatan senjata saat ini hanya jeda sementara dalam upaya mencapai target utama, termasuk menghentikan kemampuan nuklir Iran.

Netanyahu mengklaim operasi militer Israel telah merusak program nuklir Iran secara signifikan, termasuk menghancurkan fasilitas sentrifugal dan melemahkan kemampuan produksi rudal.

Namun, ia menegaskan bahwa target strategis terkait uranium yang diperkaya masih belum sepenuhnya tercapai.

Di tengah tarik-menarik ini, isu pengayaan uranium menjadi titik paling sensitif.

Bagi Iran, pengayaan uranium adalah hak kedaulatan yang tidak bisa dinegosiasikan.

Sebaliknya, bagi Amerika Serikat dan sekutunya, aktivitas tersebut dianggap sebagai potensi ancaman karena dapat membuka jalan menuju pengembangan senjata nuklir.

Nuklir Damai

Iran sendiri terus menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai.

Namun, Washington tetap mendorong pembatasan ketat, bahkan membuka kemungkinan pengambilalihan paksa stok uranium Iran jika diperlukan.

Situasi ini menciptakan jurang ketidakpercayaan yang dalam antara kedua pihak, tepat saat negosiasi akan dimulai.

Bagi masyarakat internasional, ketegangan ini bukan sekadar konflik politik, melainkan ancaman nyata terhadap stabilitas global, terutama jika diplomasi gagal meredakan eskalasi.

Di balik pernyataan keras para pemimpin, ada kekhawatiran yang lebih besar: apakah jalur diplomasi masih cukup kuat untuk menahan konflik agar tidak kembali meledak menjadi krisis yang lebih luas.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.