Mojtaba Khamenei ke Negara Tetangga: Kalian Menyaksikan Mukjizat, Rakyat Iran Menang Mutlak atas AS
Budi Sam Law Malau April 10, 2026 04:29 AM

WARTAKOTALIVE.COM –- Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, menyampaikan pesan tajam dan kuat kepada rakyat Iran dan negara-negara kawasan, Kamis (9/4/2026), dalam peringatan yang menandai berakhirnya 40 hari masa berkabung atas wafatnya Ayatollah Seyyed Ali Khamenei akibat serangan AS dan Israel.

Mojtaba Khamenei menyatakan bahwa Iran telah meraih kemenangan mutlak dalam perang atau konflik yang disebutnya sebagai 'perang paksa ketiga' melawan Amerika Serikat dan Israel.

Mojtaba menegaskan bahwa keberhasilan Iran bukan hanya hasil kekuatan militer, tetapi juga buah dari ketahanan dan partisipasi rakyat Iran yang heroik.

“Saudara-saudari di tanah air! Hari ini, dan hingga saat ini dalam kisah perang ketiga yang dipaksakan, dapat dengan berani dinyatakan bahwa kalian, rakyat Iran yang heroik, telah menjadi pemenang sejati di arena ini,” kata Mojtaba dalam pesan yang dilansir di laman presstv.ir, Kamis.

Baca juga: Mojtaba Khamenei Dilaporkan Koma di Qom, Siapa Pengendali Iran Saat Hadapi Ultimatum Trump?

Pemimpin Baru Revolusi Islam itu mendeklarasikan bahwa Iran kini telah bertransformasi menjadi kekuatan dunia yang tak tergoyahkan.

Mojtaba Khamenei menyebut dalam konflik yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat dan Israel kerap dinarasikan Iran mengalami kekalahan.

Namun semua yang dihembuskan musuh, katanya telah patah oleh ketahanan rakyat Iran.

“Ini tidak diragukan lagi adalah berkah ilahi yang telah diberikan kepada kita melalui darah pemimpin kita yang gugur dan para martir lainnya, saudara-saudara sebangsa yang tertindas, dan bunga-bunga yang ditaburkan di sekolah di bawah pohon mulia Minab," ujarnya.

Ia menggambarkan Republik Islam bukan lagi tunas muda yang terluka seperti saat ayahnya mengambil alih kepemimpinan 37 tahun lalu, melainkan pohon mulia yang akarnya telah menghujam dalam dan cabangnya menaungi dunia.

“Melalui permohonan dan doa-doa rakyat kepada Yang Maha Kuasa, partisipasi aktif mereka di jalan-jalan, lingkungan sekitar, masjid-masjid, dan pengorbanan tanpa pamrih mereka, berkah ini telah diberikan kepada rakyat Iran," katanya.

Atas berkah itu, Mojtaba menyerukan rakyatnya bersyukur karena semuanya diraih melalui upaya tanpa henti untuk mencapai Iran yang kuat.

Ia menyoroti perlunya keterlibatan publik yang berkelanjutan untuk mencapai tujuan strategis sebagaimana yang telah ditetapkan oleh pemimpin yang gugur.

Baca juga: Mojtaba Khamenei: Kematian Para Komandan Militer, Tak Surutkan Nyali Iran Hadapi Ultimatum Trump

"Oleh karena itu, meskipun diasumsikan bahwa kita telah memasuki fase keheningan militer, adalah tugas setiap warga negara yang mampu hadir di jalanan, lingkungan, dan masjid untuk meningkatkan partisipasi mereka," ujar Mojtaba.

Ia menegaskan bahwa seruan rakyat di jalanan berdampak pada negosiasi yang akan dilakukan di Islamabad.

"Tentu saja, suara Anda di jalanan memiliki pengaruh langsung pada negosiasi, sama seperti jutaan orang yang luar biasa dan terus bertambah dalam kampanye 'Para Martir untuk Iran' juga merupakan faktor kunci dalam upaya ini," katanya.

Merefleksikan transformasi Republik Islam sejak didirikan, Ayatollah Khamenei memuji pencapaian dekade-dekade terakhir.

Beliau menekankan bahwa jalan menuju Iran yang lebih kuat terletak pada persatuan di antara berbagai komunitas di negara itu, seperti yang sering ditekankan oleh pemimpin yang gugur.

“Sebagian besar persatuan ini telah tercapai dalam empat puluh hari terakhir ini: hati rakyat semakin dekat, perpecahan antara berbagai kelompok dan kecenderungan mereka yang berbeda-beda mulai mencair, dan semua telah berkumpul di bawah bendera tanah air,' katanya.

Menurtnya hari demi hari, pertemuan imeningkat baik dalam jumlah maupun kualitas, sehingga banyak orang sekarang memandang masa depan dengan perspektif peradaban.

“Saat ini, banyak orang memandang ke cakrawala yang jauh, menciptakan citra yang tidak didasarkan pada fantasi tetapi berakar pada realitas masa kini dan masa depan.," katanya.

Hal itu menurutnya adalah kualitas yang hanya terlihat oleh mereka yang tekun dengan menyinggung pertumbuhan pesat dan ajaib bangsa Iran.

“Dengan demikian, setiap pengamat dapat memahami pertumbuhan pesat dan ajaib, bangsa ini," katanya.

Kalian Sedang Menyaksikan Mukjizat

Satu bagian yang paling disorot adalah seruan langsungnya kepada negara-negara tetangga Iran di wilayah Teluk (Selatan).

Mojtaba mendesak mereka untuk membuka mata terhadap perubahan konstelasi kekuatan di kawasan.

"Kepada tetangga-tetangga kita di selatan, saya katakan: Kalian sedang menyaksikan sebuah mukjizat. Berdirilah di tempat yang tepat, dan waspadalah terhadap janji-janji palsu dari orang-orang jahat," tegasnya.

Ia memberikan pilihan pragmatis: bergabung dalam persaudaraan regional atau terus dieksploitasi oleh kekuatan arogan Barat.

“Kami masih menunggu tanggapan yang tepat dari kalian, agar kami dapat menunjukkan persaudaraan dan niat baik kami kepada kalian,” katanya.

Menurutnya tujuan tidak akan tercapai kecuali negara tetangga menjauhkan diri dari kekuatan-kekuatan arogan yang tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mempermalukan dan mengeksploitasi.

Namun, ia juga menyertakan peringatan bahwa Iran tidak akan membiarkan setiap tetes darah martirnya menguap tanpa kompensasi dan hukuman bagi para penjahat.

“Kami akan menuntut ganti rugi atas setiap kerusakan yang ditimbulkan, atas darah para martir kami, dan atas penderitaan para korban luka dalam perang ini," ujar Khamenei.

Diplomasi Jalanan: Jalan Menuju Iran Kuat

Menariknya, Mojtaba menekankan bahwa perundingan diplomatik yang sedang berlangsung tidak berarti rakyat bisa pulang ke rumah dan bersantai.

Ia menolak anggapan bahwa negosiasi mengurangi kebutuhan akan partisipasi publik.

Bagi Teheran, teriakan jutaan orang di jalan-jalan dan kampanye "Para Martir untuk Iran" adalah kartu as di meja perundingan.

"Suara Anda di jalanan memiliki pengaruh langsung pada negosiasi," katanya, menginstruksikan warga untuk tetap memadati masjid dan alun-alun kota meskipun dalam fase keheningan militer.

Baca juga: Kepala Nuklir Iran Tegas Pengembangan Uranium Hak Mereka, AS dan Israel Bersitegang Jelang Negosiasi

Khamenei juga menekankan pendiriannya yang teguh tentang masa depan.

“Kami tidak menginginkan perang, dan tidak pernah menginginkannya, tetapi kami tidak akan meninggalkan tuntutan kami yang sah," katanya deganmempertimbangkan seluruh Front Perlawanan dalam perhitungan dan tindakan.

Ia menyerukan kepada rakyat Iran untuk tetap bersatu dan saling menjaga selama masa sulit ini.

"Pada tahap ini, saat kita bergerak menuju pencapaian apa yang menjadi hak kita, saya mendesak semua warga negara untuk saling mendukung guna mengurangi tekanan kekurangan sumber daya alam yang disebabkan oleh perang," katanya..

Sumpah Balas Dendam yang Tak Padam

Meskipun masa berkabung resmi telah berakhir, Mojtaba memastikan bahwa api kemarahan Iran tetap menyala.

Ia menyerukan rakyat untuk menutup telinga dari propaganda media asing yang disebutnya sebagai jendela pikiran yang bersekutu dengan musuh.

"Kedua, sangat penting bagi kita untuk melindungi telinga kita, jendela pikiran dan hati kita, dari media yang berada di bawah kendali musuh atau bersekutu dengan mereka," katanya.

Khamenei mendesak rakyat Iran untuk menjaga semangat balas dendam atas darah para pahlawan mereka yang gugur tetap hidup di dalam hati mereka.

"Tekad kuat untuk membalas dendam atas darah suci para martir kita tetap hidup di dalam hati dan jiwa rakyat," pungkasnya.

Pesan Mojtaba Khamenei ini menjadi sinyal jelas bagi dunia bahwa Iran di bawah kepemimpinannya tidak akan mundur satu langkah pun dari tuntutan sah mereka, sambil terus memperkuat barisan Front Perlawanan di seluruh kawasan.

Pesan Mojtaba juga tidak hanya menjadi refleksi atas perjalanan panjang Republik Islam Iran, tetapi sinyal kuat bahwa Teheran akan tetap mempertahankan sikap kerasnya, baik di medan diplomasi maupun geopolitik.

Di balik retorika kemenangan dan seruan persatuan, tersimpan pesan Mojtaba yang lebih dalam, bahwa konflik belum sepenuhnya berakhir, dan masa depan Iran akan sangat ditentukan oleh keseimbangan antara tekanan eksternal dan soliditas internal rakyatnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.