BANGKAPOS.COM, BANGKA - Peristiwa kaburnya delapan tahanan dari sel Polres Bangka pada Rabu (8/4) dini
hari turut menyisakan kesaksian warga yang tinggal di sekitar lokasi.
Salah satunya datang dari Olla, warga yang rumahnya berjarak sekitar 30 meter dari gedung Satuan Reserse Kriminal, Satuan Tahanan dan Barang Bukti (Tahti), serta Satuan Narkoba.
Olla mengaku terbangun sekitar pukul 03.30 WIB akibat gonggongan anjing peliharaannya yang terdengar tidak biasa. Suara tersebut berlangsung cukup lama dan membuatnya curiga.
“Sekitar jam setengah empat saya terbangun, karena anjing di belakang rumah gonggong terus. Lama sekali, kurang lebih 30 menit. Biasanya tidak pernah selama itu,” ujar Olla kepada wartawan, Rabu.
Ia mengatakan, gonggongan anjing terdengar terus-menerus dan berbeda dari biasanya.
“Kalau ada orang lewat, biasanya sebentar saja. Ini lama dan terus-terusan, jadi saya curiga,” katanya.
Saat kejadian, Olla berada seorang diri di dalam rumah, sementara suaminya tertidur di luar rumah setelah bekerja. Meski diliputi rasa khawatir, ia tidak berani keluar untuk memastikan kondisi sekitar.
“Saya sempat mau keluar, tapi takut. Khawatir ada orang jahat atau membawa senjata, jadi hanya mengintip dari jendela,” ujarnya.
Selama suara gonggongan berlangsung, ia tidak mendengar adanya keributan lain.
“Tidak ada suara orang atau keramaian, hanya anjing itu saja yang terus menggonggong,” katanya.
Sekitar pukul 04.00 WIB, suara tersebut berhenti. Olla kemudian kembali tidur karena mengira situasi telah normal.
Namun, suasana berubah pada pagi hari ketika ia melihat banyak anggota kepolisian datang ke lokasi. Petugas tampak melakukan pengecekan serta meminta keterangan warga.
“Pagi-pagi sudah ramai polisi. Mereka datang dan bertanya ke warga, termasuk saya,” ujarnya.
Dari situlah Olla mengetahui adanya tahanan yang melarikan diri dari sel.
“Saya baru tahu dari polisi kalau ada tahanan kabur. Saya bilang tidak melihat apa-apa, hanya dengar anjing menggonggong,” katanya.
Berdasarkan kondisi lingkungan, Olla menduga para tahanan melarikan diri melalui jalur belakang yang berbatasan langsung dengan area perkuburan. Jalur tersebut memiliki akses jalan yang cukup terbuka dan kerap digunakan warga sebagai alternatif.
“Kalau menurut saya mereka lewat belakang, arah kuburan. Jalannya terbuka dan mudah dilewati,” ujarnya.
Ia meyakini para tahanan tidak melintasi bagian depan rumahnya karena adanya anjing penjaga yang cukup sensitif terhadap orang asing.
“Kalau lewat depan, pasti ketahuan. Anjing pasti lebih ribut lagi,” katanya.
Pantauan di lokasi menunjukkan bagian belakang kompleks memiliki tembok pagar yang telah roboh di beberapa titik. Area tersebut berbatasan langsung dengan kawasan luar yang relatif mudah diakses.
“Memang ada tembok yang roboh di belakang. Itu bisa saja jadi celah,” ujar Olla.
Ia juga menyebut peristiwa tahanan kabur bukan pertama kali terjadi di kawasan tersebut.
“Dulu pernah juga, waktu itu masih terang, jadi kami sempat lihat langsung orangnya lari,” katanya.
Meski demikian, untuk kejadian kali ini, Olla menegaskan tidak melihat langsung keberadaan para tahanan yang melarikan diri.
“Sekarang tidak ada yang terlihat. Hanya suara anjing itu saja yang berbeda,” ujarnya.
Sebagai warga yang tinggal berdekatan dengan kompleks kepolisian, ia mengaku merasa khawatir dengan kejadian tersebut.
“Pasti ada rasa waswas, apalagi rumah dekat sekali dengan tempat tahanan,” katanya.
Ia berharap pengamanan di sekitar ruang tahanan dapat diperketat agar kejadian serupa tidak terulang.
“Harapannya kedepan lebih aman dan pengawasan ditingkatkan,” ujarnya.
Sementara itu, Kapolres Bangka, Deddy Dwitiya Putra, menyebut pihaknya baru mengetahui adanya pelarian setelah menerima informasi dari tahanan lain.
“Teriakan para tahanan membuat petugas mengetahui adanya yang melarikan diri,” ujarnya dalam konferensi pers.
Ia menjelaskan, waktu kejadian berlangsung saat dini hari ketika sebagian petugas berada dalam kondisi istirahat.
“Sekitar subuh jam 4 lewat penjaga baru mengetahui tahanan lari,” katanya.
Terkait jalur pelarian, Deddy menegaskan pihaknya masih melakukan penyelidikan.
“Untuk proses kabur dan jalur pelarian masih kami investigasi,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa kerusakan pagar di luar area tidak menjadi faktor utama dalam peris
tiwa ini.
“Tembok yang rusak tidak berpengaruh besar. Kami lebih fokus pada sel tahanan, khususnya teralis yang dipotong,” katanya.
“Kita cek TKP, ada satu batang teralis yang digergaji oleh tahanan yang kabur tersebut,” sambungnya.
Dia menyebut, gergaji yang digunakan oleh tahanan tersebut diduga didapatkan dari para penjenguk tahanan, khususnya yang memiliki keterkaitan dengan para tahanan yang kabur tersebut.
Namun ketika ditanyai bagaimana pengawasan dan pemeriksaan terhadap barang bawaan penjenguk tahanan, Kapolres menyebut bahwa kemungkinan ada kelengahan dari petugas kepolisian yang menjaga.
“Memang selalu diperiksa terhadap pembesuk, mungkin disini juga ada kelalaian, petugas piket khususnya pada saat jam besuk sehingga ada beberapa alat yang tidak sengaja masuk ke dalam sel tahanan,” ucapnya.
Lebih lanjut, pihaknya masih mendalami dugaan keteledoran anggota piket yang menjaga ruang tahanan atas kasus kabur nya sejumlah tahanan ini. Kata Kapolres, anggota kepolisian yang piket tersebut sedang menjalani pemeriksaan oleh Propam Polres Bangka dan Propam Polda Babel.
Kemudian, disinggung soal cara para tahanan melarikan diri, padahal ada beberapa lapis pintu di gedung tahanan, AKBP Deddy menyebut bahwa pihaknya masih mendalami hal itu.
“Tapi memang ada satu sel yang tidak ada lapisannya sehingga mereka bisa atau berupaya menggergaji batang sel tersebut,” ujarnya.
Namun saat disinggung lebih lanjut soal adanya kabar salah seorang pentolan tahanan yang punya akses untuk memegang kunci sel, Kapolres mengakui bahwa memang ada informasi demikian.
“Memang ada informasi seperti itu, ini masih kita dalami apakah ada keterkaitan salah satu yang memegang kunci. Ini masih kita dalami dan juga kita lakukan pemeriksaan-pemeriksaan secara intensif,” imbuhnya. (x1)
Upaya pelarian delapan tahanan dari sel Polres Bangka berakhir buntu. Pada Kamis (9/4) sekitar pukul 21.00 WIB, tahanan terakhir berhasil diamankan petugas kepolisian dari Polsek Puding Besar. Tahanan itu bernama Rosi Aprianto, tahanan kasus narkoba.
Dua jam sebelumnya, tepatnya pukul 19.00 WIB, polisi membekuk Anugrah, tahanan kasus PPA, di sekitaran Lingkungan Rambak, Kelurahan Jelitik, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka.
“Iya sudah tertangkap semua, Alhamdulillah,” kata AKP Era Anggraini saat dikonfirmasi Bangkapos.com tadi malam.
Dengan demikian, maka berakhirlah pencarian terhadap delapan orang tahanan Polres Bangka yang kabur dari ruang tahanan sejak Rabu (8/4) subuh kemarin.
Pencarian dan penangkapan terhadap tahanan yang menyebar ke banyak tempat di Pulau Bangka tersebut berhasil ditangani dalam waktu kurang dari 2x24 jam atau 2 hari.
Pada pagi harinya, polisi menangkap satu tahanan bernama Weli alias Lele (35), yang sempat melarikan diri dan melakukan pencurian saat bersembunyi. Weli, tersangka kasus pencurian, ditangkap di kawasan Jalan Pasar Lama, Kelurahan Koba, Kecamatan Koba, Bangka Tengah, sekitar pukul 10.20 WIB.
Penangkapan dilakukan tim gabungan Polres Bangka dan Polres Bangka Tengah.
Kapolres Bangka Tengah, AKBP I Gede Nyoman Bratasena, mengatakan identitas pelaku dipastikan melalui pemeriksaan sidik jari oleh tim INAFIS.
“Begitu pelaku diamankan, tim langsung melakukan identifikasi. Hasilnya mengonfirmasi bahwa yang bersangkutan adalah tahanan Polres Bangka yang kabur,” ujarnya.
Dari tangan pelaku, polisi turut mengamankan sepeda motor Honda Spacy warna biru hitam bernomor polisi BN 2464 QW yang diduga hasil curian.
Sebelumnya, aksi Weli sempat terekam kamera pengawas saat mengambil motor milik warga di Kelurahan Srimenanti, Sungailiat, Rabu (8/4) malam.
Selain itu, warga juga melaporkan kehilangan pakaian yang diduga digunakan pelaku untuk menyamarkan diri.
Sebelumnya, satu tahanan menyerahkan diri beberapa jam setelah melarikan diri, sementara satu lainnya ditangkap di Pelabuhan Tanjung Kalian, Mentok, saat diduga hendak menyeberang keluar Pulau Bangka.
Dalam pengembangan berikutnya, tiga tahanan lain juga berhasil diringkus di lokasi berbeda. Andi Darmawan ditangkap diwilayah Desa Air Ruay Desa Karya Makmur, Kecamatan Pemali.
Yogi Triliando diamankan di kawasan hutan Jalan Imam Bonjol, Sungailiat, sedangkan Supriyadi ditangkap di Belinyu. (u2/w4)