Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita
TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI - Bupati Jayapura, Yunus Wonda, memimpin langsung aksi bakti sosial pembersihan Sungai Jaifuri di Kampung Yokiwa, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Jumat (10/4/2026).
Aksi ini dilakukan sebagai langkah mitigasi menghadapi tingginya debit air Danau Sentani yang mulai mengancam permukiman di peisisir danau.
Kerja bakti ini melibatkan unsur Forkopimda, komunitas lingkungan, masyarakat kampung, serta pemuda GKI Klasis Sentani.
Bupati menjelaskan bahwa tim telah menyusuri sungai hingga ke arah muara. Dalam pantauan tersebut, ditemukan banyak material kayu yang menghambat laju air.
Baca juga: Hujan Ekstrem Rendam Sentani Jayapura, Status Siaga Darurat Disiapkan
"Kami sudah sampai ke muara dan memang sepanjang perjalanan ditemukan banyak kayu. Sebelumnya, kelompok pemuda di sini juga sudah rutin membersihkan kali," ujar Yunus Wonda.
Setelah dilakukan pembersihan, aliran air dilaporkan kembali lancar.
"Bahkan saat kembali ke jembatan utama, arus air terasa cukup kencang. Kita akan lihat selama sepekan ke depan bagaimana perkembangan debit air di danau," tambahnya.
Pemerintah Kabupaten Jayapura berencana mengambil langkah lebih jauh dengan melakukan pengerukan untuk membuka jalur air lebih luas.
Salah satunya dengan mengeruk sedimen yang membentuk pulau-pulau kecil di sekitar Kampung Yahim.
"Danau harus kembali ke posisi semula. Pemerintah akan fokus pada pengerukan tersebut," tegas Bupati.
Sungai Jaifuri: Satu-satunya Jalur Pembuangan
Ondoafi Kampung Yokiwa, Arnold Awoitauw, menekankan pentingnya Sungai Jaifuri dalam bahasa lokal disebut Kali Itauwfily. Ia menyebut sungai ini sebagai "nafas" bagi Danau Sentani.
Dari 14 sungai yang masuk ke danau, hanya Sungai Jaifuri yang menjadi satu-satunya jalur pembuangan menuju laut.
Arnold mencatat perubahan pola kenaikan air. Dahulu, pasang-surut air danau adalah hal wajar yang dipengaruhi musim angin. Namun kini, perilaku manusia memperburuk keadaan.
Penumpukan sampah, penimbunan area resapan air, pendangkalan sungai, serta alih fungsi lahan menjadi faktor utama.
"Sekarang tanah sudah banyak dijual, dari Sentani sampai Waena," ungkap Arnold.
Ketua Tim Pembersih Sungai Jaifuri, Jimmy Carter Awoitauw, mengusulkan agar pembersihan dilakukan secara terjadwal setiap empat bulan sekali, bukan hanya saat terjadi masalah.
Ketua Pembersih Sungai Jaifuri, Jimmy Carter Awoitauw, mengatakan, selama kurun waktu 20 memiliki tanggung jawab membersihkan danau. Pembersihan dilakukan dalam musim-musim tertentu.
Baca juga: Ketinggian Air Capai 1 meter, Warga di Tepian Danau Sentani Terancam Mengungsi
Sebab itu, ia mengusulkan pembersihan sungai dilakukan empat bulan sekali, petugas pun perlu dilengkapi dengan armada perahu, senso, dan disiapkan relawan kampung untuk peremajaan dan pengawasan kali.
Kondisi kali curah hujan tinggi air naik dan terjadi penyumbatan di muara sungai. Sehingga mesti ada tindak lanjut kedepan.
"Tadi bapa bupati sudah pimpin bersihkan danau. Kita harap satu atau dua hari ini tindak lanjut dari hari ini. Jadi bukan saja hari ini tetapi kedepan ada lagi karena belum maksimal," ujarya.
Penyumbatan di Sungai Jaifuri ini akibat sampah, sisa-sisa penebangan kayu, maupun pohon yang tumbang ke badan sungai.
"Ini kita butuh takel takel baru senso kadang pakai gergaji. Kalau sudah dibersihkan air danau akan turun. Kalau hanya sehari tidak maksimal," ujarnya.
Pengalamannya, membersihkan danau dikerjakan dengan mendirikan camp selama 14 hari kerja baru bisa merasakan dampaknya. "Ini dikerjakan 15-20 orang pekerja. Jangan tiba masalah tiba akal," katanya.
Jimmy juga mengungkap, tantangan membersihkan kali dengan kondisi arus yang terkadang harus menyelam untuk memotong barang pohon yang tenggelam. "Kita kurang difasilitasi saja. Speed boat, BBM, sensor, gergaji, bama, kelambu, genset, semoga bisa dilengkapi." (*)