Pemerintah Patok Harga Kedelai Rp11.500/Kg
Vito April 10, 2026 10:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) mematok harga acuan penjualan (HAP) kedelai di level importir Rp 11.500/kg guna meredam gejolak harga komoditas itu di tengah tekanan geopolitik global. 

Kesepakatan itu ditempuh usai rapat koordinasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan bersama asosiasi dan pelaku usaha. 

Pemerintah mengeklaim langkah itu mampu menjaga harga di tingkat pengrajin tahu dan tempe tetap di bawah Rp 12.000/kg, meski pelaku usaha mulai merasakan kenaikan biaya non-bahan baku.

Pemerintah menegaskan, stabilitas harga menjadi prioritas untuk menjaga daya beli sekaligus meredam keresahan pasar akibat isu lonjakan harga kedelai hingga Rp 20.000/kg.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Yudi Sastro membantah isu lonjakan harga kedelai yang mencapai Rp 20.000/kg itu. Ia memastikan harga masih terkendali dan pasokan mencukupi.

“Harga tetap di bawah HAP, bahkan di level importir masih sekitar Rp 11.500. Persediaan juga masih cukup,” ujarnya, dalam keterangan pers, Jumat (10/4). 

Berdasarkan data Gakoptindo yang diolah Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 8 April 2026, harga kedelai nasional masih berada di bawah batas acuan.

Di Jakarta, harga berkisar Rp 10.500-Rp 11.000 per kg, sementara di Sumatera mendekati Rp 11.450/kg. Angka itu masih di bawah ambang maksimal Rp 12.000/kg di tingkat pengrajin.

Hanya saja, di balik klaim stabilitas tersebut, tekanan biaya mulai terasa. Importir mengakui adanya kenaikan ongkos logistik, asuransi kapal, dan komponen penunjang lain akibat dinamika geopolitik global.

Direktur PT FKS Multi Agro Tbk, Tjung Hen Sen menyebut, harga di tingkat importir saat ini berada di kisaran Rp 10.100-Rp 10.300 per kg, sedangkan di pengrajin Rp 10.500-Rp 11.000 per kg. “Kami berusaha keras menjaga stabilitas, tapi tekanan biaya dari faktor eksternal memang ada,” bebernya.

Kondisi serupa diakui pengrajin. Sekretaris Jenderal Gakoptindo, Wibowo Nurcahyo memastikan harga jual tahu tempe belum naik signifikan, namun penyesuaian mulai terjadi dari sisi volume. “Kami jamin harga masih di kisaran Rp 12.000-Rp 13.000, tapi mungkin volumenya yang menyesuaikan,” ucapnya.

Dia menambahkan, persoalan utama saat ini justru bukan pada harga kedelai, melainkan biaya penunjang seperti kemasan plastik yang mengalami kenaikan.

Langkah pemerintah menahan harga melalui HAP dinilai menjadi bantalan jangka pendek. Namun, efektivitasnya akan diuji jika tekanan global berlanjut dan biaya logistik terus meningkat.

Sebelumnya, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengisyaratkan pengawasan akan diperketat. Pemerintah bahkan membuka opsi intervensi langsung jika ditemukan kenaikan harga yang tidak wajar. (Kontan/Hervin Jumar)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.