TRIBUNNEWS.COM - Zona degradasi klasemen Liga Inggris 2025/2026 kembali mengalami pergolakan, menyusul kemenangan tim asal London Timur, West Ham United atas Wolves. Juara Liga Eropa resmi terjun ke zona merah.
Pertandingan pekan 32 Liga Inggris mulai bergulir, Sabtu (11/4) dini hari WIB, tepatnya saat West Ham United mengalahkan Wolves 4-0.
Brace masing-masing dari Kostantinos Mavropanos (42', 83') dan Taty Castellanos (66', 68'), mewarnai pertandingan yang berlangsung di Stadion Olimpiade London ini.
Kemenangan atas Wolves mengantarkan West Ham United keluar dari jerat zona degradasi.
Klub berjuluk The Hammers mengumpulkan 32 poin dan menduduki peringkat 17. Mereka menorehkan delapan kemenangan, delapan imbang dan 16 kekalahan dari 32 laga.
Sementara Wolves, kekalahan ini mengakibatkan mereka semakin sulit keluar dari jerat zona degradasi. Wolves tercecer di peringkat 20 atau juru kunci klasemen Premier League lewat koleksi poin 17.
Sorotan dari laga ini bukan tertuju kepada kedua tim, melainkan Tottenham Hotspur.
Klub sekota Arsenal sekaligus berasal dari London Utara, Tottenham Hotspur, akhirnya harus menerima kenyataan bahwa mereka kini berada di zona degradasi.
Efek dari kemenangan West Ham ialah 'mendepak' Spurs ke zona degradasi, dengan saat ini berada di peringkat 18.
Klub yang berstatus juara Liga Eropa 2024/2025 ini mencatatkan 30 poin, hasil dari tujuh kemenangan, sembilan imbang, dan 15 kekalahan.
Sekalipun Spurs, julukan Tottenham Hotspur, masih memiliki satu laga sisa yang belum dimainkan, ketakutan bagi pendukungnya akhirnya menjadi nyata.
Spurs yang diprediksi akan berada di zona degradasi, hari ini, prakiraan itu menjadi nyata.
Baca juga: Update Hasil Klasemen Liga Inggris: Diobok-obok Welbeck, Liverpool Makin Terpuruk 4 Besar Kian Jauh
Menjadi sebuah ironi tersendiri bagi Spurs. Tottenhan adalah juara Liga Eropa yang masuk jajaran The Big Siz Liga Inggris dalam beberapa musim terakhir, namun kini harus 'berkubang' di zona merah.
Paling menyakitkan ialah hasil kontras dengan rival sekota mereka, Arsenal. Saat Spurs berusaha untuk tetap eksis di Premier League musim depan, Arsenal kini makin menjadi yang terdepan untuk merengkuh gelar juara Liga Inggris, meski mendapatkan tekanan intens dari Manchester City.
Sementara itu, dengan Spurs yang resmi terjun ke zona degradasi, maka tekanan kepada pelatih baru Roberto De Zerbi resmi dimulai.
Alasan mengapa De Zerbi ditunjuk sebagai nakhoda baru memang untuk alasan ini, yakni melepaskan Spurs dari zona merah.
Terdekat, ujian pertama mantan pelatih Brighton ini ialah saat Tottenham Hotspur melawan Sunderland pada pekan 32, Minggu (12/4) di Stadium of Light.
Kemenangan menjadi harga mati bagi Spurs jika ingin segera lepas dari zona degradasi. Setidaknya naik satu tingkat.
Jika kalah, atau bahkan imbang, maka Spurs ditakutkan kerasan di zona degradasi, dan musim depan bermain di Divisi Championship.
“Fokus saya hanya pada Sunderland,” kata De Zerbi, dikutip dari laman Football London.
“Fokus saya pada pertandingan melawan Sunderland, lalu Brighton, kemudian Wolverhampton. Satu langkah demi satu langkah.”
“Kualitas para pemain membuat saya berpikir saya bisa menyelamatkan Spurs. Para pemain tahu situasinya sangat sulit.”
"Karena bagian terpenting dalam sepak bola adalah aspek mental. Anda terbiasa terlalu banyak berbicara tentang gaya bermain, susunan taktik, dan sebagainya. Pada akhirnya, aspek mental sangat penting dalam setiap pekerjaan, terutama dalam sepak bola, terutama saat ini di Tottenham," terang pelatih asal Italia.




















(Tribunnews.com/Giri)