TRIBUNSTYLE.COM – Hidup memang penuh dinamika, hal itu kini dirasakan oleh pesulap legendaris Indonesia, Pak Tarno. Sosok yang dulu kerap muncul di televisi dengan jargon khas “Prok prok prok jadi apa?” kini harus menjalani kehidupan yang jauh berbeda.
Di usianya yang menginjak 74 tahun, Pak Tarno tak lagi tampil di panggung hiburan besar. Ia kini mencari nafkah dengan berjualan mainan di kawasan Kota Tua hingga berkeliling ke daerah Kebon Bawang, Jakarta Utara.
Di balik popularitas yang pernah diraihnya, kondisi ekonomi Pak Tarno kini cukup memprihatinkan. Penghasilan dari berjualan mainan sering kali tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, ada momen di mana ia pulang tanpa membawa hasil.
"Kalau dapat aslinya mah, kalau asli dari dagangan doang, pernah dapat Rp 2.000 doang sehari," ungkap istri kedua Pak Tarno, Lisa Karlina saat ditemui di kontrakannya di kawasan Warakas, Jakarta Utara, Jumat (10/4/2026).
Meski begitu, masih banyak orang yang mengenali Pak Tarno dan menunjukkan kepeduliannya. Beberapa pembeli bahkan rela memberikan uang lebih sebagai bentuk bantuan.
"Kadang ada yang beli harganya sedikit, tapi kasih uang Rp 100.000 nggak mau dikembaliin. Padahal harganya Rp2.000. Katanya buat Bapak cepat sembuh," kenangnya.
Kondisi kesehatannya juga tengah menurun. Pak Tarno diketahui mengidap tekanan darah tinggi yang membuat bicaranya menjadi kurang jelas serta fisiknya melemah. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap bekerja.
Baca juga: Lagi Sakit Tertimpa Masalah Baru, Pak Tarno Curhat Dikejar-kejar Leasing, Mobil Digelapkan Eks Sopir
Ada pemandangan yang cukup menyentuh saat ia berjualan. Kursi roda yang seharusnya digunakan untuk beristirahat justru dimanfaatkan sebagai tempat menaruh barang dagangan, sementara ia berjalan perlahan dengan bantuan tongkat.
"Kursi rodanya kan buat naruh barang itu, jualan. Bapak jalan pakai tongkat," jelas Lisa Karlina yang setia mendampingi Pak Tarno berjualan setiap Senin hingga Jumat.
Meski hidup serba terbatas, Pak Tarno tetap memegang teguh prinsip untuk tidak meminta-minta. Ia memilih tetap berjualan demi menjaga harga diri.
"Emang mendingan nggak minta-minta. Mendingan jualan begini saja. Karena kalau minta-minta dibilang ngemis," tegasnya.
Lisa pun mengungkapkan bahwa mereka tidak punya pilihan selain terus bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Habis gimana? Perut (lapar) nggak bisa, nggak bisa ditahan. Biar bisa makan, Pak," tutur Lisa.
Di tengah kondisi tersebut, semangat berkesenian Pak Tarno belum hilang. Ia masih sesekali menerima tawaran tampil sulap di pasar malam saat akhir pekan.
Agar tetap bisa tampil dengan baik, ia rutin melatih kemampuan bicaranya dengan “senam mulut” serta mengonsumsi rebusan jahe dan sereh setiap hari. Perjuangan Pak Tarno menjadi gambaran nyata tentang keteguhan seorang seniman dalam menghadapi kerasnya kehidupan, tanpa kehilangan semangat untuk terus berkarya. (Tribunstyle.com/Grid.ID/Ulfa Lutfia Hidayati)