Anak Tukang Bangunan yang Mendobrak Takdir: Dulu Aduk Semen, Kini Jadi Mahasiswa Berprestasi di UGM
Hari Susmayanti April 11, 2026 03:14 PM

 

Anak Tukang Bangunan yang Mendobrak Takdir: Dulu Aduk Semen, Kini Jadi Mahasiswa Berprestasi di UGM1
Alfath Qornain Isnan Yuliadi, warga Klaten saat menjalani pekerjaan sebagai kuli bangunan. Kini, uang tabungan dari pekerjaany sebagai kuli bangunan itu membawanya menjadi mahasiswa UGM dan meraih prestasi gemilang baik nasional maupun internasional

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN- Melanjutkan pendidikan tinggi terasa berat bagi Alfath Qornain Isnan Yuliadi. Sejak awal Alfath diarahkan masuk SMK agar bisa langsung bekerja setelah lulus. 

Ia merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Tidak hanya menghadapi keraguan orangtuanya, ia juga harus memikirkan keuangan keluarga ketika memutuskan ingin kuliah. 

Untuk mewujudkan mimpinya, warga asal Klaten itu pun memutuskan bekerja menjadi tukang bangunan.

Sejak kelas XI, ia terjun ke proyek bersama ayahnya. Semua pekerjaan ia lakukan, mulai dari menggali fondasi hingga mengangkat material. 

“Awalnya memang tarik ulur. Karena dari awal saya dimasukkan ke SMK supaya setelah lulus bisa langsung bantu kerja. Jadi saya kerja, upah sekitar Rp 50 ribu per hari. Sebagian ditabung buat UTBK, saya nggak enak minta ke bapak, sebagian buat kebutuhan sekolah," katanya. 

Belajar tetap menjadi prioritasnya. Meski sibuk bekerja hingga sore hari, ia tetap menyisihkan waktu belajar di malam hari.

Menjelang ujian, ia bekerja selama empat hari, sementara tiga hari di akhir pekan dioptimalkan untuk belajar.

Baca juga: Gandeng Bank Mandiri Taspen, UGM Kembangkan Ekosistem Keuangan dan Talenta Muda

Perjuangannya sempat diuji ketika ia mengalami kecelakaan kerja, jatuh dari lantai dua proyek bangunan. Alih-alih menyerah, pengalaman itu justru menguatkan tekadnya. 

Hari pengumuman hasil seleksi UTBK menjadi titik balik dalam hidupnya. Alfath membuka hasil seleksi seorang diri di kamar.

Hasilnya, ia diterima sebagai mahasiswa prodi D4 Teknologi Rekayasa Pelaksanaan Bangunan Sipil, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2022.

Ia pun menjadi satu-satunya orang yang berhasil melanjutkan ke pendidikan tinggi di keluarganya. 

“Saya ingat banget, saya lari nyamperin kakek saya, langsung saya peluk dan bilang, Saya jadi kuliah," ujarnya. 

Perkuliahan mengubah dirinya. Sebelumnya ia hanya fokus pada akademik, namun setelah kuliah ia mulai aktif berorganisasi.

Bahkan ia juga mengikuti berbagai perlombaan. Tidak kurang dari 15 perlombaan dimenangkannya, baik di tingkat nasional bahkan internasional. 

Pada 2025 lalu, ia menjadi finalis pada sebuah kompetisi di Nanyang Technological University Singapura. Prestasinya mengantarkannya meraih penghargaan menjadi Insan Berprestasi UGM. 

“Orang tua saya senang banget. Mereka nggak menyangka anaknya bisa sampai dapat penghargaan dari UGM,” imbuhnya. (maw) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.