650 Rudal Balistik Iran Bombardir Israel, Puluhan Tewas, 7.000 Orang Terluka
Noval Andriansyah April 11, 2026 06:19 PM

Tribunlampung.co.id, Iran - Puluhan orang di Israel dikabarkan tewas seusai serangan ratusan rudal balistik yang ditembakkan Iran. Berdasarkan laporan, sebanyak 680 rudal balistik pembawa hulu ledak bom tandan Iran ditembakkan ke Israel.

Menurut militer, lebih dari setengah rudal tersebut membawa hulu ledak bom tandan, yang menyebarkan bom-bom kecil secara sembarangan di area yang luas.

Serangan rudal tersebut menewaskan 20 warga sipil Israel dan warga negara asing di Israel, serta empat warga Palestina di Tepi Barat.

Menurut Kementerian Kesehatan, lebih dari 7.000 orang di Israel terluka.

Mengutip Tribun-Video.com yang melansir The Times of Israel pada (10/4/2026), laporan ini meringkas kampanye militer 40 hari Israel-AS yang dimulai (28/2/2026).

Baca juga: Harga Minyak Dunia Terjun Bebas Seusai Pengumuman Gencatan Senjata AS-Iran

Kini, tepat setelah gencatan senjata mulai berlaku Rabu pagi, terungkap kampanye militer ini bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran.

Termasuk program nuklir dan rudal balistik, serta mendorong perubahan rezim.

Meski gencatan senjata diumumkan, serangan masih berlanjut hingga dini hari (8/4/2026).

Di mana, Iran disebut tetap meluncurkan rudal balistik, sementara Israel terus membombardir target militer Iran sebelum akhirnya menghentikan operasi sekitar waktu yang sama.

Selama pertempuran, Iran meluncurkan sekira 650 rudal balistik ke Israel.

Tak Ada Negosiasi!

Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negosiasi dengan pihak-pihak terkait konflik regional tidak dapat dimulai tanpa terpenuhinya dua prasyarat utama.

Dalam pernyataannya, ia menyebut bahwa hingga saat ini masih ada dua kesepakatan penting yang belum dilaksanakan.

Yaitu penerapan gencatan senjata di Lebanon dan pembebasan aset Iran yang diblokir.

Menurut Ghalibaf, kedua poin tersebut merupakan fondasi dasar bagi dimulainya proses diplomatik yang kredibel.

Ia menilai bahwa tanpa implementasi konkret di lapangan, pembicaraan hanya akan bersifat simbolis dan tidak menghasilkan solusi nyata.

“Kedua hal ini harus dipenuhi sebelum negosiasi dimulai,” tegasnya, mengutip Al Mayadeen, Sabtu (11/4/2026), sebagaimana dilansir Tribunnews.com.

Lebih lanjut, Teheran juga menekankan bahwa isu Lebanon tidak bisa dipisahkan dari kerangka negosiasi yang lebih luas.

Iran memandang situasi di Lebanon sebagai bagian integral dari stabilitas kawasan, sehingga gencatan senjata di wilayah tersebut menjadi syarat mutlak yang tidak dapat ditawar.

Sumber yang dikutip menyebutkan bahwa Iran juga telah menyampaikan posisi ini kepada mediator internasional, termasuk melalui berbagai jalur diplomatik.

Laporan dari Fars News Agency menyebut bahwa setiap upaya negosiasi baru harus mencakup Lebanon dalam kesepakatan gencatan senjata yang komprehensif.

Iran dianggap memperjelas bahwa mereka tidak akan terlibat dalam pembicaraan apa pun jika tuntutan dasar tersebut belum dipenuhi.

Teheran menilai langkah ini penting untuk memastikan bahwa negosiasi berjalan dalam kerangka yang adil dan tidak merugikan kepentingan strategisnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.