Penajam Paser Utara (ANTARA) - Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) menyiapkan masyarakat sebagai garda terdepan untuk membebaskan IKN, yang dibangun di sebagian wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, dari penyakit malaria dan demam berdarah dengue (DBD).
"Pembangunan kesehatan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama," kata Direktur Pelayanan Dasar Otorita IKN Suwito ketika ditanya mengenai penanganan kesehatan di Sepaku, Penajam Paser Utara, Sabtu.
"Langkah itu sekaligus memperkuat upaya promotif dan preventif guna mewujudkan IKN yang bebas dari malaria dan DBD," ujarnya.
Menurut dia, tim kader kesehatan IKN yang dibentuk dari masyarakat diharapkan dapat menjalankan peran edukasi warga, pengendalian vektor (makhluk hidup pembawa penularan penyakit) di lingkungan, serta pencegahan penyakit secara berkelanjutan.
"Keterlibatan masyarakat menjadi kunci dalam memutus rantai penularan, karean pengendalian malaria dan DBD tidak bisa hanya dilakukan sektor kesehatan saja, tetapi juga peran dari masyarakat," katanya.
Saat ini di Kawasan Inti Pusat Pemerintah (KIPP) IKN, kata Suwito, tidak memiliki penularan malaria lokal, tetapi DBD masih menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Otorita IKN menargetkan penurunan kasus DBD hingga 50 persen melalui penguatan sistem kewaspadaan dini dan peningkatan peran masyarakat, terutama di kawasan hunian dan area konstruksi yang berisiko tinggi akibat genangan air.
Sebelum pembentukan tim kader kesehatan, Otorita memberikan pelatihan kader pencegahan malaria dan DBD kepada pengelola hunian dan tim kesehatan dan keselamatan kerja dari berbagai paket pekerjaan di wilayah KIPP IKN.
Peserta pelatihan tersebut diproyeksikan menjadi kader kesehatan yang berperan dalam edukasi masyarakat, pengendalian lingkungan, serta pencegahan penyakit di lingkungan kerja masing-masing.
Perwakilan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Bambang Siswanto mengatakan pendekatan berbasis masyarakat dalam pengendalian penyakit sangat penting. Kemenkes menggencarkan program Kampung Bebas Jentik, yang bertujuan mengendalikan vektor penyakit seperti malaria dan DBD.
Program tersebut telah diujicobakan di sejumlah daerah, termasuk Kalimantan Timur, khususnya di Kabupaten Penajam Paser Utara. Peran utama berada pada camat, kepala desa, dan pemerintah daerah, sementara tenaga kesehatan berperan sebagai pendamping teknis.
"Pemerintah pusat juga tengah menyusun konsep kawasan bebas jentik untuk area khusus seperti kawasan industri dan kawasan IKN," ucap Bambang Siswanto.
Tantangan pengendalian penyakit muncul seiring aktivitas pembangunan, salah satunya area konstruksi dinilai menjadi titik rawan berkembangnya nyamuk akibat genangan air.
Reza dari HSE Paket Proyek Yudikatif IKN mengemukakan di lokasi proyek apabila ada pekerja baru masuk juga diterapkan sistem skrining kesehatan, dengan menanyakan riwayat penyakit sebelumnya, berasal dari daerah mana dan sebagainya.





