Jakarta (ANTARA) - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Keuskupan Agung Jakarta sepakat untuk membangun gerakan bersama bertajuk "Gerakan Ketahanan Sosial", yang didasari keprihatinan atas dampak konflik global yang dirasakan seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Komitmen itu disampaikan saat Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf bertemu Uskup Agung Jakarta Romo Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo di Wisma Keuskupan Agung Jakarta.
“Ini adalah gerakan kolektif untuk mengajak semua lapisan masyarakat mengembangkan kapasitas saling tolong-menolong, memperkuat solidaritas, dan gotong royong sampai di tingkat akar rumput,” ujar Gus Yahya dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Gus Yahya yang didampingi Ketua PBNU Nyai Alissa Wahid dan beberapa pimpinan Lembaga PBNU menyatakan siap menggerakkan semua sumber daya dan jejaring kelembagaan, seperti Lazisnu dan GKMNU, untuk mendorong inisiatif Ta’awun Ijtima’i ini.
“Tentu saja PBNU harus bekerja bersama para tokoh agama dan berbagai elemen masyarakat. Kami sudah dan akan terus berdiskusi untuk konsolidasi dengan sejumlah tokoh serta pemimpin agama,” katanya.
Sementara itu, Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo menyambut baik inisiatif tersebut. Ia mengaku gerakan ketahanan sosial ini sempat menjadi perbincangan internal di keuskupan.
“Kami juga merasa sangat prihatin. Beberapa waktu terakhir ini kami membahasnya secara intens di internal kami. Kami terpanggil untuk turut serta dalam setiap inisiatif yang bertujuan untuk membantu masyarakat akar rumput,” katanya.
Kardinal juga siap berkomunikasi dengan segenap pimpinan gereja untuk menindaklanjuti dan mendukung inisiatif ini. Kedua tokoh agama ini menyepakati untuk bekerja sama secara teknis sesegera mungkin.
“Tim teknis kami akan segera berkomunikasi dan merumuskan langkah langkah strategis mewujudkan inisiatif ini,” katanya.
Sebelum mengunjungi Keuskupan Agung Jakarta, PBNU telah mengunjungi sejumlah Duta Besar negara-negara sahabat seperti Arab Saudi, Iran, Turki, Amerika Serikat, dan lain-lain. Kunjungan itu membahas dampak konflik global, khususnya bagi masyarakat akar rumput.





