TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Seorang mahasiswi di Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Nesya Marsanita, mengaku menjadi korban pelecehan dan perundungan di media sosial setelah mengunggah aksi demonstrasinya di media sosial.
Nesya bersama dengan sejumlah mahasiswi lainnya turun ke jalan untuk demo yang berlangsung di Perempatan kampus UHO, Jalan Jenderal AH Nasution, Keluran Kambu, Kecamatan Kambu, Kota Kendari, Senin (6/4/2026).
Pantauan Tribunnewssultra.com, pelecehan verbal ini berlangsung di akun pribadi media sosial Intagramnya.
Unggahan fotonya yang memegang poster bertuliskan ‘Deketin Cewek Pake Seragam Hadapi Aktivis Pake Air Keras’ dikomentari hingga mencapai 2.572 komentar.
Komentar tersebut sebagian besar berisi pelecehan verbal yang dilakukan oleh akun-akun palsu atau anonim.
Baca juga: Bukannya Kapok Dipolisikan, Denise Cadel Kini Sebut Razman Nasution Lakukan Pelecehan Verbal
Nesya menyampaikan serangan tersebut muncul setelah foto dokumentasi dirinya bersama tiga rekannya saat aksi unjuk rasa beredar luas di berbagai platform digital.
Unggahan itu awalnya hanya bertujuan sebagai dokumentasi kegiatan.
Namun, foto tersebut menjadi viral dan memicu berbagai komentar negatif dari sejumlah akun anonim.
“Awalnya postingan saya hanya untuk dokumentasi, tetapi keesokan harinya viral. Banyak komentar yang menyerang secara personal, mulai dari menyuruh saya mengaji sampai tuduhan tidak berdasar seperti open BO,” kata Nesya kepada Tribunnewssultra.com, Sabtu (11/4/2026).
Menurut Nesya, sebagian komentar yang muncul tidak lagi membahas substansi aksi, melainkan menyerang identitas pribadinya.
Kondisi tersebut berkaitan dengan stigma terhadap perempuan yang terlibat dalam isu politik atau gerakan sosial.
Kehadiran perempuan dalam aksi massa masih sering dipandang tidak lazim oleh sebagian pihak.
Akibatnya, ketika perempuan aktif menyuarakan pendapat di ruang publik, respons yang muncul kerap berupa serangan personal.
“Ketika ada pihak yang tidak setuju dengan apa yang saya sampaikan, mereka justru menyerang pribadi saya daripada membahas isu yang disampaikan,” katanya.
Kata Nesya, dampak dari perundungan digital tersebut turut dirasakan oleh keluarganya.
Ibunya sempat khawatir dan terus menghubunginya karena takut terjadi ancaman secara langsung.
Meski demikian, ia memastikan kondisinya saat ini aman dan mendapat dukungan dari aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) fakultas.
Terkait langkah lanjutan, Sekretaris Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (DPM FKIP) ini berencana melaporkan dugaan pelecehan tersebut kepada pihak berwenang maupun kampus.
Saat ini pendampingan masih dilakukan secara internal oleh aliansi mahasiswa.
Ia juga mengajak mahasiswi untuk tidak takut menyampaikan pendapat di ruang publik meski menghadapi tekanan di media sosial.
“Jangan takut menyuarakan pendapat. Apa yang sudah dimulai harus diselesaikan sampai tuntas,” jelasnya. (*)
(Tribunnewssultra.com/Dewi Lestari)