TRIBUNNEWSSULTRA.COM,WAKATOBI - Anggota DPRD Wakatobi Sulawesi Tenggara (Sultra), H Ariadin angkat bicara persoalan warung-warung yang berdiri di kawasan di Pelabuhan Panggulubelo, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan.
Politisi PKS itu menyebut seharusnya pemerintah daerah Wakatobi punya ketegasan atas aktivitas warung yang sudah mengganggu ketertiban masyarakat.
Terlebih, persoalan ini sudah berlangsung berbulan-bulan lamanya.
Masyarakat sekitar bahkan sempat membuat petisi agar menghentikan aktivitas warung yang terjadi di Pelabuhan Panggulubelo.
Suara musik yang bising hingga aktivitas malam yang terjadi, membuat masyarakat pun tak tenang.
Pelabuhan Panggulubelo merupakan salah satu pelabuhan utama di Pulau Wangi-Wangi (Wanci) yang melayani lalu lintas penumpang dan barang.
Di kawasan ini, terdapat area reklamasi yang menjadi lokasi berdirinya sejumlah warung.
Baca juga: Pedagang Pelabuhan Panggulubelo Wakatobi Putar Musik Keras Resahkan Warga, Polisi Koordinasi Pemda
Di mana warung-warung tersebut, tak hanya berjualan kopi dan gorengan namun masing-masing menyediakan layanan karaoke.
Sehingga, musik terdengar saling bersahutan dari warung satu dengan lainnya.
Membuat masyarakat terganggu, apalagi saat memasuki waktu istrahat.
Menurut H Ariadin, kondisi ini sudah tak dapat ditolerir lagi terlebih suara musik terdengar semakin kencang dari biasanya.
Ia menilai, Pemerintah Daerah (Pemda) sudah harus menindak tegas keluhan masyarakat ini.
"Sebagai orang-orang yang memiliki kekuasaan penuh atas ketertiban masyarakat di Wakatobi ini, harusnya pemerintah punya ketegasan menindaklanjuti polemik di kawasan Panggulubelo. Ini warga istrahatnya sudah tidak tenang gara-gara terlalu bising musiknya," jelasnya.
Ia pun menyinggung pihak terkait yang harusnya saling berkolaborasi menuntaskan persoalan ini, mulai dari Pemerintah Daerah, pihak kepolisian hingga Polres Wakatobi.
“Dan satu hal sebagai pengambilan kebijakan pemerintah harusnya punya ketegasan, ada Pol PP kalau tidak sanggup bawa satuan dari Polres, ini kan kasihan dari masyarakat,” tegasnya saat menghubungi TribunnewsSultra.com, Sabtu (11/4/2026).
Baca juga: Pemda Wakatobi Bakal Kosongkan Lahan di Pelabuhan Panggulubelo Usai Warga Keluhkan Suara Musik
Menurut Ariadin, persoalan ini sebenarnya bisa terselesaikan dengan baik jika Pemda bisa mengambil langkah.
“Sekretaris Daerah bisa memerintahkan seluruh OPD di Wakatobi ini, masa persoalan seperti ini tidak tuntas. Padahal ini soal ketertiban masyarakat loh,” tambahnya.
Di satu sisi, Ariadin juga turut mengapresiasi Pemda yang memberikan ruang masyarakat untuk memanfaatkan lahan demi mencari uang.
Namun, ia menilai hal tersebut harus diperhatikan pula dengan ketertibannya.
Karena baginya, aktvitas malam hari yang berlangsung di Panggulubelo sudah tak tertib.
“Harusnya (pedagang) ketika diizinkan seperti itu diperhatikan ketertibannya, ini warga yang terganggu,” bebernya.
Ia turut menyinggung adanya aduan masyarakat soal dugaan praktik prostitusi yang terjadi di kawasan tersebut.
Baca juga: Suara Musik di Pelabuhan Panggulubelo Wakatobi Masih Terdengar Keras, Polisi Cek dan Beri Imbauan
Sejak saat ini, Ariadin mengaku baru mendengar hal tersebut.
Namun, ia sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian agar segera menindaklanjuti soal aduan masyarakat ini.
"Saya baru mendengar aduan itu, tapi koordinasi sudah saya lakukan dengan pihak kepolisian. Termasuk soal musik yang kencang. Saya juga senang musik. Tapi di waktu yang tepat," jelasnya.
Sementara, jurnalis TribunnewsSultra.com sudah menghubungi Sekretaris Daerah (Sekda) Wakatobi, Nadar Sinyo Arif, Sabtu (4/4/2026) mengenai pengosongan lahan hingga dugaan praktik prostitusi.
Namun, ia menekankan bahwa adanya surat pengosongan lahan yang sudah dikeluarkan Pemda.
Pernyataan Nadar ini nampak berbanding terbalik dengan kenyataannya. Pasalnya, hingga kini tak ada upaya pengosongan lahan.
“Pemerintah daerah sudah menyampaikan surat pengosongan lokasi beberapa waktu lalu,” ujarnya.
Ia pun lantas meminta jurnalis TribunnewsSultra.com, untuk menghubungi Asisten II Setda Wakatobi, Darwis.
Namun hingga kini Darwis belum merespon upaya konfirmasi yang dilakukan TribunnewsSultra.com.
Hal ini awalnya menjadi jawaban atas keluhan warga tentang suara bising musik yang mengganggu waktu istirahat di kawasan Pelabuhan Panggulubelo, Kelurahan Mandati 1.
Surat tersebut dikeluarkan pada Maret 2026. Namun hingga April 2026, tak ada tindak lanjut atas edaran tersebut.
Musik masih terus bergema dan mengganggu waktu istrahat masyarakat yang berada di area pinggir laut dekat Panggulubelo.
Lahan yang digunakan untuk berjualan tersebut dikabarkan bakal dikosongkan atau dibongkar.
Tercantum dalam surat, lokasi tersebut akan dimanfaatkan oleh pemerintah untuk pembangunan Masjid Agung Wakatobi.
Surat tersebut ditandatangani Sekretaris Daerah Wakatobi, Nadar pada 2 Maret 2026.
Baca juga: Pedagang Pelabuhan Panggulubelo Wakatobi Putar Musik Keras Resahkan Warga, Polisi Koordinasi Pemda
Wakil Bupati Wakatobi, Safia Wualo saat dikonfirmasi TribunnewsSultra.com, Jumat (13/3/2026), membenarkan hal tersebut.
"Iya rencananya begitu, cuman saya karena baru juga dapat informasi bahwa pelaku-pelaku usaha di situ, mereka langsung menghadap Bapak Bupati," ujarnya beberapa waktu lalu.
Kata dia, saat ini pedagang atau pemilik kios masih diimbau untuk membongkar secara mandiri.
Disebutkan, pemerintah daerah juga masih mencari lokasi yang cocok untuk para pedagang yang direlokasi nantinya.
"Tapi untuk sementara dilihat dulu, karena kondisi kita yang sekarang ini kita belum tahu kira-kira yang strategis untuk mereka itu di mana. Belum ada kesepakatan untuk misalnya merelokasi mereka itu ke mana," jelasnya.
Sehingga, pihaknya berharap masyarakat sekitar dapat bersabar dengan proses yang saat ini berjalan.
Hingga saat ini, pemerintah daerah terus berupaya agar terciptanya kenyamanan masyarakat sekitar.
Sebelumnya, pihak Polsek Wangiwangi Selatan sudah turun ke lokasi untuk menindaklanjuti aduan masyarakat.
Namun hasilnya nihil. Pedagang warung di Panggulubelo tetap saja memutar musik kencang.
Berdasarkan video yang diterima TribunnewsSultra.com kiriman warga, Rabu (4/3/2026) hingga pukul 22.00 Wita, musik dengan suara keras masih terdengar.
Suara musik di Pelabuhan Panggulubelo, Kelurahan Mandati 1, Kecamatan Wangi-wangi Selatan masih meresahkan warga.
Keributan itu dinilai mengganggu ketenangan masyarakat yang sedang beristirahat serta beribadah di rumah ataupun masjid.
Kondisi ini terekam oleh warga yang berada tidak begitu jauh dari Pelabuhan Panggulubelo.
Seorang warga mengaku sudah sangat resah dengan bunyi yang terdengar setiap malam tersebut.
"Terlebih momen itikaf menanti Lailatul Qadar saat ibadah butuh ketenangan justru diusik dengan musik yang sangat kencang," ujar saat dikonfirmasi, Rabu (4/3/2026).
Dikonfrimasi terpisah, Kapolsek Wangi-wangi Selatan, Iptu Muhammad Darwis, mengatakan pihaknya mendapatkan kabar bahwa para pedagang sudah menerima surat mengenai pengosongan lahan.
"Karena sudah mau dibongkar toh, tinggal kita bersabar saja toh, intinya surat dari pemerintah, mereka sudah terima, pasti tidak akan lama lagi itu," ujarnya.
Kata dia, polisi hingga saat ini juga menunggu tindakan tegas pemerintah daerah terkait keluhan warga.
Selain itu, mengecek dan mengimbau secara berkala agar para pedagang mengecilkan suara musik, jika ada laporan dari masyarakat mengenai suara bising tersebut.
Iptu Muhammad Darwis mengatakan rapat koordinasi sudah dilakukan pemerintah daerah dan polisi dengan hasil akhir lahan akan dikosongkan serta para pedagang direlokasi.
Namun hingga saat ini, tak terjadi pengosongan lahan. Dan aktivitas warung di kawasan Pelabuhan Panggulubelo masih terus berlangsung.
(TribunnewsSultra.com/Harni Sumatan)