TRIBUNJAKARTA.COM, CIPAYUNG - Amblasnya jembatan di Jalan Kampung Kramat, Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung yang menghubungkan Jakarta Timur dengan Kota Bekasi dikeluhkan warga.
Selain mengakibatkan mobilitas warga dari arah Jakarta Timur dan maupun sebaliknya, amblasnya jembatan membuat omzet para pedagang di Jalan Kampung Kramat merosot.
Pedagang makanan, Mimi mengatakan sejak dua bulan terakhir Jembatan Kampung Kramat amblas omzet penjualan usaha nasi uduk dan warung kopi miliknya anjlok hingga 70 persen.
"Sepi, karena sekarang enggak ada yang lewat. Bisa lewat motor tapi cuma satu lajur, sementara mobil sudah enggak bisa lewat," kata Mimi di Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026).
Padahal omzet para pedagang di sepanjang Jalan Kampung Kramat sangat bergantung pada mobilitas warga dari arah Jakarta Timur menuju Bekasi maupun sebaliknya.
Hanya segelintir pengendara motor dan pejalan kaki yang kini dapat melintas di Jembatan Kampung Kramat, sementara mayoritas pengendara beralih ke jalan alternatif.
"Dulu saya jual nasi uduk sehari bisa masak tiga liter itu habis, sekarang masak satu liter saja enggak habis. Langganan saya sudah enggak bisa lewat sini karena jembatan amblas," ujarnya.
Mimi berharap proses perbaikan Jembatan Kampung Kramat yang kini sedang berjalan dapat segera rampung, agar mobilitas warga dari Jakarta Timur-Kota Bekasi kembali normal.
Menurutnya akibat pengalihan arus lalu lintas, kondisi Jalan PLN dan Jalan Sumir yang menjadi alternatif penghubung Jakarta Timur-Kota Bekasi kerap macet dan dikeluhkan warga.
"Sekarang macet banget jadinya, karena orang pada lewat situ semua. Kalau jembatan ini bisa dilewati kan enggak terlalu macet. Apalagi di sini jalurnya besar," tuturnya.
Sebelumnya akses jembatan di Jalan Kampung Kramat, RT 03/RW 04, Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung perbatasan Jakarta Timur dengan Kota Bekasi amblas sejak akhir bulan Februari 2026 lalu.
Lurah Setu, Dwi Widiastuti mengatakan akses jalan tersebut amblas diduga akibat konstruksi turap aliran Kali Sunter yang menjadi pondasi pada bagian bawah jembatan terkikis aliran air.
"Diduga memang jembatan ini sudah berusia dan ada rongga di bawah yang tergerus air. Jadi menyebabkan retaknya (jalan) di atas jembatan ini," kata Dwi di Jakarta Timur, Rabu (25/2/2026).