SURYA.CO.ID, SURABAYA - Fenomena remaja masih berstatus pelajar yang mengendarai motor sendiri ke sekolah bukan hanya terjadi di Surabaya, tapi juga dijumpai di Kabupaten Sidoarjo.
Banyaknya pelajar yang belum waktunya berkendara motor tapi sudah menunggangi motor sendiri untuk ke sekolah , tak lepas dari kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Faktor kepraktisan, bisa jadi alasan utama bagi pelajar maupun bagi orangtuanya.
Bagi pelajar, mengendarai motor sendiri ke sekolah bisa jadi lebih praktis daripada memanfaatkan angkutan umum yang bisa jadi tak ada rute yang sesuai .
Bagi orangtua, mengizinkan mengendarai motor sendiri bisa jadi solusi ketika mereka tak punya waktu untuk antar-jemput anak ke sekolah.
Baca juga: 3 Hal Penting Naik Motor di Surabaya versi MPM Honda Jatim, Ajak Pelajar SMA Cari Aman di Jalan
Salah satu orangtua berinisial RP (40) mengatakan, dirinya sempat memilih mengantar jemput seorang anak perempuannya yang masih pelajar. Terutama saat masih bersekolah SMP.
Terkadang, ia sendiri yang mengantar dan jemput sang anak. Kalau sedang tidak sibuk dengan urusan pekerjaan.
Sang istri sesekali juga pernah menggantikan perannya menjemput sang anak sepulang sekolah pada sore hari.
Jika terlanjur apes, karena sang istri juga kebetulan masih bekerja; mengajar sebagai guru TK, dan dirinya sedang sibuk bekerja. RP memesankan jasa ojek online melalui aplikasi.
Sekarang anaknya sudah kelas dua SMA dan memiliki banyak kegiatan tambahan di sekolah.
Terkadang, jadwal pulang sang anak setiap harinya menjadi tak menentu.
Kini ia mau tidak mau menyediakan kendaraan motor khusus yang bisa dipakai sang anak bepergian sendirian ke sekolah.
"Dulu anak saya, ya saya antar jemput, saya surut telpon lek pas pulang. Atau naik ojek online kalau pas saya sibuk gitu. Tapi sekarang sudah SMA saya kasih motor, jadi biar bisa ke sekolah sendiri," ujar warga asal Wonokromo Surabaya itu, saat ditemui SURYA.CO.ID di Surabaya, pada Kamis (9/4/2026).
Di lain sisi, bapak dua anak asal Sidoarjo, Frederik mengatakan, dirinya juga merasa khawatir jika membiarkan sang anak yang masih pelajar mengendarai motor sendirian ke sekolah.
Hampir setiap hari dirinya yang mengantar dan menjemput ke sekolah.
Namun, ia akan menanyakan terlebih dahulu kepada sang anak; apakah ingin naik kendaraan motor sendirian atau masih tetap diantarkan seperti biasanya.
"Aku tanya dulu anakku, kalau mau naik motor sendiri ya gimana. Tapi aku belikan motor listrik aja. Kalau motor yang biasanya, terus kecelakaan gimana. Khawatir juga aku, rawan banget di jalanan itu," ujar bapak dua anak itu pada surya.co.id.
Baca juga: Banyak Pelajar di Surabaya Naik Motor ke Sekolah, Mengaku Diizinkan Orang Tua Meski Belum Punya SIM
Sementara, fenomena pelajar berkendara motor ke sekolah ini bisa jadi sumber cuan bagi warga yang memiliki lahan dekat sekolah untuk dijadaikan tempat parkir berbayar.
Tempat parkir di lahan warga dekat sekolah ini bisa jadi simbiosis mutualisme antara pelajar dan pemilik lahan parkir ketika pihak sekolah melarang muridnya untuk mengendarai motor ke sekolah.
Di Kelurahan Ngelom, Kecamatan Sepanjang, Kabupaten Sidoarjo, misalnya, Terdapat satu komplek sekolah yang difungsikan sebagai SMK dalam naungan yayasan pendidikan swasta.
Tempat penitipan motor pelajar itu berada di belakang sekolah. Tepatnya berada di tengah permukiman warga.
Bentuknya, halaman depan rumah warga yang dipadang penutup atap berupa asbes.
Luasnya setara dengan dua lapangan bulutangkis.
Terpantau pada Rabu (8/4/2026), para pelajar memarkirkan motornya ke area parkir penitipan motor berbayar yang terletak di dekat sekolah.
Setelah menitipkan motor di sana, para pelajar bakal berjalan kaki sekolah 500 meter memasuki pintu gerbang utama sekolah.
Akses jalan yang dipakai adalah jalanan gang permukiman kampung warga yang terhubung dengan jalan raya utama tepat depan sekolah.
"Semuanya diparkir di sini kalau naik motor. Ya (alasan naik motor) biar cepat kalau berangkat ke sekolah. Dari dulu parkirnya sudah di sini," ujar pelajar perempuan berkerudung itu, saat ditemui surya.co.id di lokasi.
Ada juga area parkir yang berada di seberang jalan agak menyerong ke sisi kiri dari pintu gerbang sekolah.
Pelajar yang memarkirkan motor di sana, harus menyeberangi jalan raya besar di lokasi tersebut.
Kemudian, perempuan GM (15) merupakan pelajar kelas satu sebuah SMA di kawasan Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik.
Ia mengaku naik motor sendiri karena tidak ada fasilitas antar jemput seperti yang tersedia di SMP tempatnya bersekolah dahulu.
Selama bersekolah SMP dahulu, ia kerap memanfaatkan jasa kendaraan antar jemput yang disediakan pihak sekolah.
Meskipun belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), ia biasanya memilih rute jalan alternatif area kampung dan menghindari jalan raya utama yang biasa dilalui kendaraan besar.
"Pas SMP ada bus angkutan tapi bayar sendiri. Kalau pas SMA disuruh naik motor ke sekolah tapi lewat jalan 'dalam'. Parkirnya di depan sekolah, ada penitipan motor," ujarnya kepada SURYA.CO.ID.