86 Juta Kelas Menengah Indonesia Terancam Guncangan Ekonomi, Ini Peringatan Serius dari Ekonom
M Zulkodri April 12, 2026 08:03 PM

 

BANGKAPOS.COM--Sebanyak 86 juta penduduk Indonesia atau sekitar satu dari tiga populasi kini berada dalam kategori kelas menengah transisi yang dinilai rentan terhadap guncangan ekonomi.

Temuan ini diungkap dalam kajian Mandiri Institute yang menyoroti perubahan struktur ekonomi nasional.

Kelompok ini terdiri dari masyarakat yang berada di antara kelas menengah bawah dan menuju kelas menengah (aspiring middle class).

Meski memiliki potensi mobilitas ekonomi yang tinggi, posisi mereka masih belum stabil dan mudah terdampak tekanan ekonomi.

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan bahwa dinamika kelompok ini menjadi tantangan besar bagi ketahanan ekonomi Indonesia ke depan.

“Tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat di zona transisi memiliki daya dorong yang cukup untuk terus naik ke level ekonomi yang lebih mapan secara berkelanjutan,” ujarnya, Minggu (12/4/2026) dikutip dari Kontan.co.id

Rentan Meski Jadi Penopang Ekonomi

Di tengah ketidakpastian global, ekonomi Indonesia masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sekitar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Namun, kekuatan ini sangat bergantung pada daya beli kelompok kelas menengah, termasuk kelompok transisi yang jumlahnya sangat besar.

Sayangnya, data menunjukkan kondisi kelompok ini belum cukup kuat. Dalam periode 2019 hingga 2025, jumlah kelas menengah bawah justru menyusut lebih dari 11 juta orang.

Sementara itu, kelompok yang sedang menuju kelas menengah cenderung stagnan.

Sebaliknya, pertumbuhan hanya terjadi pada kelompok menengah atas, meski dalam jumlah terbatas.

Kualitas Pekerjaan Jadi Masalah Utama

Mandiri Institute menilai, kualitas pekerjaan menjadi faktor utama yang membuat kelompok ini tetap rentan.

Meski lebih dari 50 persen telah bekerja di sektor formal, angka tersebut masih tertinggal jauh dibandingkan kelas menengah mapan.

Kesenjangan ini berdampak pada rendahnya kemampuan masyarakat untuk menabung dan membangun aset, sehingga memperbesar risiko saat terjadi krisis.

Pengeluaran Masih untuk Kebutuhan Dasar

Dari sisi pengeluaran, mayoritas pendapatan kelompok ini masih habis untuk kebutuhan primer.

Sekitar 20 persen digunakan untuk transportasi, 13 persen untuk perumahan, dan 10 persen untuk tagihan rutin.

Sementara itu, pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan hanya mencapai 15 persen.

Kondisi ini membuat ruang untuk konsumsi sekunder seperti gaya hidup dan barang tahan lama sangat terbatas.

“Kondisi ini menyisakan ruang konsumsi sekunder yang sangat terbatas, hanya sekitar 18 persen,” jelas Andry.

Minim Aset Cadangan

Kerentanan kelompok ini juga terlihat dari rendahnya kepemilikan aset cadangan.

Hanya sekitar 21 persen rumah tangga dalam kelompok ini yang memiliki aset likuid seperti emas.

Angka tersebut jauh tertinggal dibandingkan kelompok menengah atas yang mencapai 69 persen.

Minimnya aset membuat mereka lebih mudah terdampak inflasi maupun kehilangan pendapatan.

Dorongan Lapangan Kerja Berkualitas

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Mandiri Institute menekankan pentingnya penciptaan lapangan kerja berkualitas atau good jobs.

Langkah ini dinilai krusial untuk meningkatkan pendapatan dan memperkuat daya tahan ekonomi masyarakat.

Selain itu, perbaikan iklim investasi dan kemudahan berusaha juga diperlukan guna mendorong ekspansi sektor riil.

Menariknya, sekitar 2 juta orang dalam kelompok ini dinilai sudah siap naik ke kelas menengah karena memiliki pekerjaan stabil, daya beli kuat, serta aset cadangan yang lebih baik.

Namun demikian, peningkatan jumlah kelas menengah tidak cukup hanya dengan membuka lapangan kerja baru.

“Perluasan lapangan kerja harus diimbangi dengan peningkatan produktivitas pekerja agar pendapatan bisa tumbuh secara berkelanjutan,” pungkas Andry.

Dengan jumlah yang besar, kelompok kelas menengah transisi ini menjadi kunci masa depan ekonomi Indonesia.

Jika berhasil diperkuat, mereka bisa menjadi motor pertumbuhan. Namun jika tidak, kerentanan mereka justru dapat menjadi titik lemah dalam menghadapi tekanan ekonomi global.(*)

(Kontan.co.id/Bangkapos.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.