TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Inilah kisah Siti Robiah akhirnya bisa naik haji di usia 91 tahun.
Ia menempuh belasan kilometer untuk jualan arang dari Desa Prajegan, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Selama puluhan tahun ia berjualan, bertani, hingga bisa membeli tanah.
Tanah itu lalu ia jual agar bisa pergi ke Tanah Suci.
Diketahui, Mbah Siti menjual tanah tersebut lima tahun lalu, saat usianya 86 tahun.
Panggilan memenuhi rukun islam ke 5 terwujud 2026 ini.
“Raos e nggih seneng sanget. Ser kulo umroh, tapi putrane matur haji sisan. Terus Sade lemah (rasanya bahagia sekali. Awalnya saya ingin umroh tapi sama anak-anak haji sekalian. Lalu jual tanah,” kata Siti Robiah, Kamis (19/4/2026).
Mbah Siti kemudian berkisah, waktu muda semua dijalani.
Wanita yang mempunyai 2 anak, 8 cucu dan 5 cicit bekerja mulai jualan kayu yang kemudian jadi arang hingga bertani,
“Nyambut damel tani, nggih areng kayu kulo lampahi sedoyo. Yotrone kulo tumbasne siti. Sadeyan ten kota, mlampah kulo gendong areng ten pasar (bekerja sebagai tani, nggih arang, kayu semua saya jalani. Uangnya untuk beli tanah. Jualan di kota, jalan dari rumah ke pasar),” kenangnya.
Baca juga: Soal War Tiket Haji, Wamenhaj Ungkap Biayanya: Semua Dibayar Penuh Oleh Jamaah
Binti Masruroh cucu dari Siti Robiah menjelaskan bahwa neneknya daftar haji 15 Juli 2020 silam.
Saat itu, neneknya ingin naik haji karena melihat saudara naik jaji.
“Memang beliau pengen haji karena adiknya sebelumnya juga naik haji. Rencananya umroh, tapi adiknya berangkat akhirnya pengen,” terangnya.
Binti mengaku kaget, neneknya bisa berangkat 2026 ini.
Padahal dari awal ingin berangkat secepat mungkin.
Bahkan Binti mencari informasi agar neneknya masuk prioritas lansia.
“Mulai 2021 gagal terus. Setiap tahun saya cari informasi. Namun 2026 saya tidak cari info. Malah dari kantor Kementerian Agama kesini. Bilang mbah bisa naik haji,” urainya.
Binti mengaku bahwa neneknya pekerja keras.
Bahkan mulai 1975 ditinggal oleh suaminya, Robiah tetap bekerja untuk membiayai kedua anaknya.
“Mbahe itu tani, buruh, jualan areng, jualan buah srikaya. Uangnya dikumpulkan, buat makan. Punya tanah itu dijual untuk haji,” tegasnya.
Untuk naik haji bahkan tidak semulus uang dibayangkan.
Binti yang menemani segala prosesnya mengaku saat mendaftar ke Kantor Kementerian Agama Ponorogo (saat itu belum diurus Kementerian Haji dan Umroh) sempat nangis.
“Hla gimana, terkendala sidik jari karena jarinya mbah sudah bengkong karea sudah tua. Untuk record ambil sidik jari itu lama hampir satu jam,” kisahnya.
Namun, jelas dia, akhirnya bisa dengan keyakinan.
Saat itu, segala cara ditempuh oleh Binti.
Mulai mengelap jari Robiah dengan handsanitezer sampai minyak telon.
“Saya bilang kalau rezeki naik haji munculkan sidik jari. Akhirnya muncul sidik jarinya. Sidik jari kita kasih minyak telon, karena daftarnya saat covid,” tegasnya.
Binti mengklaim bahwa neneknya memang sudah sepuh.
“Cek up medis normal semua hanya fisik karena memang sudah tua. Mohon doanya agar mabrur,” pungkasnya.