Harga Emas dan Minyak Mentah Diprediksi Bergejolak Pekan Depan, Imbas Perundingan AS-Iran Buntu
Amalia Husnul A April 12, 2026 08:09 PM

 

TRIBUNKALTIM.CO - Kegagalan perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Pakistan diprediksi bakal membuat harga minyak mentah dan emas global bakal bergerak volatil dengan rentang yang cukup lebar.

Menurut Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, secara teknikal level support diperkirakan berada di 78,7 dollar AS per barrel, sementara resistance di area 107,9 dollar AS per barrel.

Dalam pernyataannya, Minggu (12/4/2026), Ibrahim mengatakan, “Untuk oil sendiri, kemungkinan besar ditransaksikan dalam minggu depan itu di 78,7 dollar per barrel, itu support-nya.

Kemudian resistance itu di 107,9 dollar AS per barrel.”  

Baca juga: Gencatan Senjata Amerika-Iran Picu Harga Minyak Anjlok, Emas Justru Menguat

Harga Minyak Dunia

Pada perdagangan Jumat (10/4/2026), harga minyak dunia turun di bawah level 100 dollar AS per barrel.

Mengutip CNBC, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei tercatat turun 1,5 persen menjadi 96,37 dollar AS per barrel, setelah sempat menembus level 100 dollar AS pada awal sesi perdagangan.

Sementara itu, minyak mentah acuan global Brent untuk pengiriman Juni melemah 1,3 persen menjadi 94,69 dollar AS per barrel.

Ibrahim memandang, harga minyak bergantung pada hasil negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Jika gencatan senjata yang tengah diupayakan dapat berjalan efektif dan diperpanjang, maka distribusi energi berpotensi kembali normal, sehingga harga minyak cenderung mengalami penurunan.

Namun, apabila negosiasi gagal dan konflik kembali memanas, risiko gangguan pasokan akan meningkat.

Penutupan atau pembatasan jalur Selat Hormuz dapat menyebabkan lonjakan harga minyak, yang pada akhirnya berdampak pada inflasi global.

“Nah tetapi dalam jeda nanti dua minggu baik Amerika, Israel, Iran, mereka melakukan konsolidasi apabila gencatan senjata gagal atau tidak diperpanjang, sehingga akan terjadi perang terbuka kembali,” paparnya.

Kondisi tersebut juga akan mempengaruhi kebijakan bank sentral.

Jika inflasi meningkat akibat kenaikan harga energi, bank sentral global berpotensi mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga acuan. 

Harga Emas

Di sisi lain, harga emas dunia juga diperkirakan bergerak fluktuatif pekan depan.

Jika terjadi koreksi, harga emas berpotensi turun ke level support awal di 4.638 dollar AS per troy ounce, dengan harga logam mulia sekitar Rp 2.840.000 per gram.

Dalam skenario penurunan lanjutan selama sepekan, emas dapat melemah hingga 4.358 dollar AS per troy ounce, dengan logam mulia berpotensi turun ke kisaran Rp 2.780.000 per gram.

Sebaliknya, jika harga menguat, emas berpeluang naik ke level resistance di 4.897 dollar AS per troy ounce, dengan harga logam mulia diperkirakan meningkat ke sekitar Rp 2.880.000 per gram.

Ibrahim menjelaskan, emas akan sangat dipengaruhi oleh arah suku bunga global serta eskalasi konflik geopolitik.

Jika tekanan inflasi mereda dan bank sentral, khususnya The Fed, mulai menurunkan suku bunga, maka harga emas cenderung menguat.

Sebaliknya, jika konflik meningkat menjadi perang terbuka, maka harga emas juga berpotensi naik tajam sebagai aset lindung nilai, bersamaan dengan kenaikan harga minyak dan penguatan dollar AS.

Selain faktor Timur Tengah, ketegangan antara Amerika Serikat dan China terkait dugaan pengiriman persenjataan ke Iran turut menambah tekanan terhadap pasar global.

Konflik geopolitik yang meluas berpotensi memperkuat permintaan terhadap aset safe haven.

Dari sisi domestik, nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tren pelemahan dan berpotensi bertahan di atas level Rp 17.000 per dollar AS.

Kondisi ini turut menjadi faktor pendorong kenaikan harga logam mulia di dalam negeri.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Tembus 103 Dolar AS, Ini Dampaknya ke Harga BBM di ASEAN

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.