TRIBUNKALTIM.CO - Senjata nuklir Iran dipastikan masih bertahan walaupun terus menerus diserang Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Dengan masih adanya program nuklir Iran, Teheran memiliki posisi tawar yang masih sangat kuat dalam perundingan dengan AS.
Setelah lima pekan serangan berat dari AS dan Israel, Iran disebut masih memiliki sebagian besar elemen penting untuk membuat bom nuklir, menurut laporan The Wall Street Journal, Sabtu (11/4/2026).
Baca juga: Profil Mantu Donald Trump, Jared Kushner, Keturunan Yahudi yang termasuk Tim Negosiator dengan Iran
Sejumlah fasilitas penelitian dan laboratorium memang hancur, termasuk lokasi produksi yellowcake, bahan mentah untuk uranium yang diperkaya.
Namun, para ahli menilai Iran kemungkinan masih menyimpan sentrifugal dan memiliki fasilitas bawah tanah yang dapat digunakan untuk pengayaan uranium.
Selain itu, cadangan uranium Iran yang hampir mencapai tingkat senjata juga tetap utuh, dengan sekitar 1.000 pon material, separuhnya dikubur dalam terowongan di bawah situs nuklir Isfahan menurut badan atom PBB.
Cadangan uranium jadi kartu tawar Keberhasilan mempertahankan stok uranium ini menjadi faktor penting dalam negosiasi Iran dengan AS.
Baca juga: Iran Pungut Tarif Tol Bitcoin di Selat Hormuz, PBB Sebut Langgar Hukum Internasional
Mantan pejabat Gedung Putih Eric Brewer mengatakan, Iran tidak akan mudah melepaskan aset strategis tersebut.
“Iran tidak akan menyerahkan itu dengan mudah. Tuntutannya akan lebih tinggi daripada saat perundingan Februari untuk menyerahkan material tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Gedung Putih menyatakan bahwa Iran sempat memberi sinyal kesiapan untuk menyerahkan uranium yang diperkaya, namun penghentian total pengayaan tetap menjadi garis merah bagi Washington.
Sebagian besar kerusakan terhadap program nuklir Iran terjadi dalam perang 12 hari tahun lalu.
Baca juga: AS Tuduh China Sediakan Senjata Canggih untuk Iran, Trump: Mereka akan Hadapi Masalah Besar
Saat itu, AS menjatuhkan bom penghancur bunker ke fasilitas Fordow dan Natanz, serta menghancurkan bangunan terkait nuklir di Isfahan dengan rudal Tomahawk.
Dalam lima pekan terakhir, AS lebih fokus menyerang stok dan peluncur rudal Iran serta aset militer konvensional lainnya.
Israel di sisi lain menargetkan langsung program nuklir, termasuk laboratorium, universitas, fasilitas di luar Teheran, hingga lokasi militer Parchin yang diduga digunakan untuk uji bahan peledak tinggi.
Israel juga menyasar ilmuwan nuklir Iran, meski tidak merinci jumlah maupun identitas target.
Baca juga: Soal Nasib Kapal Pertamina yang Tertahan di Selat Hormuz, Dubes Iran: Situasi Masih Sangat Berbahaya
Meski serangan masif dilakukan, Iran diduga masih memiliki fasilitas tersembunyi yang sulit dijangkau.
Terowongan di Isfahan diyakini menyimpan lokasi pengayaan yang belum pernah diperiksa, sementara kompleks bawah tanah di Pickaxe Mountain dekat Natanz disebut cukup kuat untuk menahan bahkan senjata paling canggih AS.
Presiden AS Donald Trump sempat mempertimbangkan operasi militer untuk merebut cadangan uranium Iran, namun rencana itu dinilai terlalu berisiko dan berpotensi memperpanjang perang.
Perundingan AS–Iran pada Februari gagal mencapai kesepakatan.
Baca juga: Israel Tolak Gencatan Senjata dengan Hizbullah, Perundingan AS-Iran Terancam Alot
Iran hanya menawarkan untuk menurunkan kadar uranium yang diperkaya dari 60 persen menjadi maksimal 20 persen.
Padahal, uranium 60 persen hanya membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk mencapai tingkat senjata, sementara dari 20 persen memerlukan waktu beberapa minggu.
Sebagai perbandingan, kesepakatan nuklir 2015 membatasi pengayaan Iran di level 3,67 persen selama 15 tahun.
AS tetap bersikeras Iran harus menghentikan pengayaan sepenuhnya, sementara Iran menolak tuntutan tersebut.
Baca juga: Soal Nasib Kapal Pertamina yang Tertahan di Selat Hormuz, Dubes Iran: Situasi Masih Sangat Berbahaya
Kerusakan pada tahap pembuatan senjata Ketidakpastian terbesar saat ini adalah sejauh mana serangan telah merusak kemampuan Iran dalam membuat hulu ledak nuklir.
Para ahli menilai proses ini sangat kompleks dan membutuhkan ilmuwan berpengalaman.
David Albright, mantan inspektur senjata, menyebut kerusakan pada aspek ini kemungkinan cukup signifikan.
“Di sisi pembuatan senjata, kerusakannya tampak seperti membuat lubang-lubang, menciptakan hambatan dalam proses panjang dan bertingkat untuk membuat senjata nuklir itu sendiri. Kerusakan tersebut tampaknya signifikan,” katanya.
Meski demikian, para ahli hampir yakin Iran belum pernah benar-benar membuat hulu ledak nuklir.
Namun dengan kemampuan yang masih tersisa, ancaman tersebut belum sepenuhnya hilang. (*)