- Pembicaraan selama 21 jam antara Iran dan Amerika Serikat yang berlangsung pada akhir pekan lalu berakhir tanpa kesepakatan, menandakan kebuntuan serius dalam proses negosiasi.
Mantan negosiator AS, Aaron David Miller, menilai bahwa dalam situasi saat ini Iran berada di posisi yang lebih kuat. Hal tersebut dikarenakan Iran tidak tertekan oleh waktu, memiliki cadangan uranium, serta menguasai jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Sebaliknya, Wakil Presiden AS, JD Vance, menanggapi kegagalan ini sebagai kabar buruk bagi Iran, mengingat tidak adanya komitmen terkait program nuklir yang dihasilkan.
Dari sisi Iran, Ataollah Mohajerani justru menilai bahwa Amerika Serikat yang lebih dirugikan akibat kebuntuan ini.
Hingga saat ini, juru bicara Iran, Esmaeil Baqaei, menyebut belum ada rencana pembicaraan lanjutan, meskipun jalur diplomasi tetap dinyatakan terbuka.