Aktivis Israel yang Tolak Perang Dapat Intimidasi dan Teror Air Keras
Desy Selviany April 12, 2026 10:35 PM

TRIBUNDEPOK-Aktivis Israel yang menolak perang mendapatkan intimidasi dari sejumlah pihak pada Minggu (12/4/2026). 

Intimidasi dan teror itu didapat aktivis Israel Alon Lee Green. 

Alon Lee Green adalah seorang aktivis sosial dan salah satu direktur serta pendiri gerakan Standing Together. 

Dia juga lantang menyuarakan penolakan perang yang diluncurkan Israel ke Iran dan sejumlah negara lain di Timur Tengah. 

Namun karena suara kerasnya, Green mendapatkan intimidasi dan teror yang disebutnya dari sayap kanan ekstrim di Israel. 

Di X miliknya, Green membagikan video CCTV sejumlah pria yang merusak apartemennya. 

Belasan pria itu juga diduga menyiram pintu apartemen Green menggunakan air keras. 

Peristiwa teror itu berlangsung tepat saat Green ikut demonstrasi mendesak pemerintah Israel menghentikan perang dan serangan. 

"Beginilah penampakan gerombolan 15 preman sayap kanan yang datang ke rumah saya tadi malam setelah demonstrasi anti-perang," 

"Mereka memasuki gedung, mencoba mendobrak pintu apartemen saya dan berhasil mendobraknya ketika saya menghalangi dari sisi lain, lalu menuangkan cairan asam di ambang pintu," 

"Anda bisa melihat bagaimana mereka memastikan untuk mengenakan masker. Sekali lagi, para tetangga mengusir mereka," jelasnya. 

Namun demikian Green memastikan dirinya tidak takut dengan teror air keras tersebut. 

Baca juga: Wapres AS dan Iran Ungkap Perkembangan Terkini Negosiasi Gencatan Senjata

Green meyakini ada ribuan rakyat Israel seperti dirinya yang tidak mengkehendaki perang ini. 

"Saya ingin memperjelas: Mereka hanya 15 orang, sengsara dan miskin, sedangkan kami ribuan orang," 

"Mereka adalah orang-orang marginal ekstrem yang berpikir bahwa melalui kekerasan mereka akan membungkam kami, dan mereka salah," 

Green pun memperingatkan pemerintah Israel yang dikuasai Benjamin Netanyahu saat ini bahwa dirinya akan terus melakukan perlawanan menolak perang. 

"Kami akan terus berjuang melawan perang dan melawan pemerintah yang mengirim mereka untuk menganiaya kami, tetapi juga mengabaikan keamanan mereka sendiri. Kami akan terus berjuang tanpa takut akan hidup," bebernya. 

Diketahui masyarakat Israel mayoritas menolak perang yang mereka anggap dipaksakan oleh Netanyahu. 

Beberapa waktu lalu Bentrokan pecah di Tel Aviv, Sabtu (4/4/2026), antara polisi Israel dan para demonstran yang menyerukan pemerintah agar segera menghentikan perang di Iran dan mencabut undang-undang baru soal hukuman mati bagi tahanan Palestina. 

Rekaman menunjukkan petugas menghadapi demonstran di jalanan, mengerahkan polisi berkuda, dan membersihkan kerumunan saat ketegangan meningkat. 

Beberapa orang ditahan, dan ambulans tampak datang untuk membantu mereka yang terluka dalam bentrokan tersebut. 

Aksi protes ini merupakan bagian dari gelombang demonstrasi yang lebih luas di seluruh Israel, dengan peserta menyuarakan penolakan terhadap kebijakan pemerintah dan perang yang sedang berlangsung di Iran.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.