SURYA.co.id, Surabaya - Sejumlah tantangan harus dihadapi dalam upaya aktivasi Koperasi Merah Putih di Kota Surabaya. Dari target 153 gerai, saat ini baru 20 gerai Koperasi Merah Putih terealiasi.
Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Bahtiyar Rifai mengakui bahwa program nasional penggerak ekonomi rakyat itu masih tersendat. "Butuh effort lebih dan akselerasi," kata Bahtiyar.
Sejumlah kendala harus dicarikan solusi bersama. Salah satu persoalan utama yang dihadapi adalah keterbatasan lahan. Sesuai ketentuan, pembangunan gerai Koperasi Merah Putih membutuhkan lahan dengan luasan sekitar 400 meter persegi.
Sementara itu, banyak aset milik pemerintah di Surabaya yang luasnya hanya berkisar 200 hingga 300 meter persegi.
Baca juga: Wakil Ketua DPRD Surabaya Bahtiyar Rifai Dorong Koperasi Merah Putih Aktif di Pasar Murah
Pimpinan DPRD itu menekankan pentingnya koordinasi yang lebih intens antara pemerintah pusat dan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Menurutnya, sinergi kebijakan menjadi kunci agar program ini dapat berjalan sesuai target.
“Perlu ada komunikasi yang lebih intens antara pusat dan daerah, terutama dalam menyesuaikan kebijakan dengan kondisi riil di lapangan,” ungkapnya.
Gerai fisik menjadi elemen penting dalam mendukung operasional koperasi, terutama dalam distribusi barang kebutuhan masyarakat. Tanpa dukungan fasilitas yang memadai, fungsi koperasi dinilai tidak akan berjalan maksimal.
Koperasi Merah Putih di Surabaya masih memanfaatkan ruang terbatas dengan menempel di kantor kelurahan atau fasilitas yang ada. Kondisi tersebut dinilai belum ideal untuk mendukung pengembangan usaha koperasi secara berkelanjutan.
Untuk itu, Bahtiyar mendorong adanya perencanaan ulang terkait kebutuhan lahan, termasuk kemungkinan penyesuaian standar atau skema alternatif yang lebih fleksibel.