Iran Ungkap Penyebab Perundingan dengan AS di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan
Pipit Maulidya April 13, 2026 12:32 AM

 

SURYA.CO.ID - Pemerintah Iran akhirnya buka suara mengenai hasil perundingan dengan Amerika Serikat (AS) yang baru saja berakhir di Islamabad, Pakistan.

Meski pertemuan maraton selama 25 jam tersebut tidak menghasilkan kesepakatan, Teheran menegaskan pintu diplomasi belum tertutup.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menjelaskan bahwa hambatan utama adalah tuntutan pihak Amerika yang dinilai tidak masuk akal.

Padahal, menurutnya, kedua pihak sebenarnya sudah mulai menemukan titik temu pada beberapa poin.

Ada 3 Masalah Utama

Baqaei mengungkapkan bahwa dari sekian banyak bahasan, masih ada ganjalan besar yang sulit dijembatani.

Isu tersebut meliputi program nuklir, pengaturan di Selat Hormuz, serta tuntutan spesifik lainnya.

“Dalam beberapa isu kami telah mencapai pemahaman bersama, tetapi masih ada perbedaan pada dua hingga tiga hal penting,” ujar Baqaei sebagaimana dilansir Tasnim News Agency dari Kompas.com.

Baca juga: Perundingan AS-Iran di Pakistan Berakhir Buntu, Selat Hormuz Jadi Rebutan Utama

Pertemuan ini diakui berlangsung dalam kondisi yang sangat berat.

Selain menjadi pertemuan terlama dalam setahun terakhir (sekitar 25 jam), negosiasi ini terjadi hanya 40 hari setelah kedua negara terlibat konflik bersenjata.

“Perundingan ini berlangsung dalam suasana penuh ketidakpercayaan dan kecurigaan. Wajar jika sejak awal tidak ada ekspektasi untuk mencapai kesepakatan hanya dalam satu pertemuan,” katanya.

Meski atmosfer perundingan cukup tegang, Iran tetap memilih jalan dialog sebagai cara utama untuk memperjuangkan hak-hak negaranya.

“Diplomasi tidak pernah berakhir. Ini adalah alat untuk melindungi kepentingan nasional, baik dalam kondisi perang maupun damai,” tegas Baqaei.

Di akhir pernyataannya, Iran menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada pemerintah Pakistan, termasuk Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Panglima Angkatan Darat Asim Munir, yang telah bersedia menjadi mediator bagi dua negara yang telah lama berseteru ini.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.