BANGKAPOS.COM – Penampakan benda terbang bercahaya menyerupai rudal menghebohkan warga Kabupaten Malang pada Sabtu (11/4/2026) malam.
Benda misterius itu tampak bergerak secara horizontal.
Peristiwa itu beredar luas di sosial media usai diabadikan salah satu warga Desa Slorok, Kecamatan Kromengan.
Baca juga: Rekam Jejak Kapolda Riau, Copot Dua Polisi Buntut Warga Bakar Rumah Terduga Bandar Narkoba
Dalam narasinya, dijelaskan bahwa benda bercahaya itu tampak sangat jauh tetapi bergerak cepat secara horizontal.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, fenomena itu juga terlihat oleh warga Kecamatan Dampit dan Kecamatan Bantur.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Malang menyampaikan, benda itu bukanlah rudal seperti dugaan masyarakat.
Mereka menduga itu sampah antariksa atau roket yang terbakar ketika memasuki atmosfer.
"Bukan rudal, analisis awal menunjukkan obyek tersebut kemungkinan besar adalah sampah antariksa (space debris) atau tahap roket yang terbakar (re-entry) saat memasuki atmosfer bumi," ujar Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang, Ricko Kardoso melalui pesan singkat, Minggu (12/4/2026).
Baca juga: Bukan dari Tabung Gas Memasak, Kronologi dan Penyebab Mesin Pengering Ompreng SPPG Angsana Meledak
Ricko menyebut, hal itu tampak dari ciri-ciri yang terlihat identik menyerupai ekor ubur-ubur atau disebut sebagai space jellyfish, akibat pantulan dari sinar matahari pada gas buang roket.
"Efek dari space jellyfish adalah cahaya terlihat memanjang dengan ekor gas yang lebar, sering kali disebabkan oleh roket Tiongkok, seperti Long March CZ-3B yang memantulkan cahaya matahari di ketinggian saat bumi sudah gelap," kata dia.
Baca juga: Histeris Istri, Lihat Suami Sugiansyah Terkulai Lemas Sembari Pegang Dada, Pelaku Sepupu Sendiri
Fenomena semacam itu sama halnya dengan yang terlihat di wilayah lain di Indonesia, seperti di Lampung pada 4 April 2026 lalu dan Natuna pada 9 April 2026 lalu.
Oleh karena itu, ia meminta masyarakat tidak perlu panik dengan munculnya penampakan benda tersebut.
"Fenomena ini lumrah terjadi di wilayah khatulistiwa, karena merupakan jalur orbit satelit dan sampah antariksa yang terbakar," kata dia.
(Kompas.com/Imron Hakiki, Icha Rastika/Bangkapos.com)