Obesitas sebagai Kondisi Medis Kronis, Penanganan Perlu Lebih Menyeluruh
Wahyu Gilang Putranto April 13, 2026 05:16 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Prevalensi obesitas dan penyakit metabolik di Indonesia terus meningkat. 

Survei Kesehatan Indonesia (2023) menyebut 23,4 persen penduduk di atas usia 18 tahun mengalami obesitas. 

Sayangnya, masyarakat masih memandang obesitas dipengaruhi gaya hidup semata.

Koordinator tim medis Sirka, dr. Febrina Fajria mengatakan, obesitas bukan sekadar masalah penampilan atau kurangnya disiplin. 

Obesitas adalah kondisi medis kronis yang menyebabkan gangguan metabolik kompleks serta meningkatkan risiko diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung koroner, hingga beberapa jenis kanker.

"Kami sering menemukan di lapangan, banyak pasien baru datang ketika komplikasi sudah mulai muncul. Penanganan yang efektif harus dimulai lebih awal, bersifat menyeluruh, dan didukung oleh tim medis yang benar-benar memahami interaksi antara metabolisme, nutrisi, dan gaya hidup pasien," ungkap dia dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (12/4).

Ia menekankan, pemahaman yang tepat tentang obesitas sebagai kondisi medis adalah fondasi dari seluruh pendekatan perawatan yang dikembangkan.

Dengan demikian diperlukan pendekatan penanganan yang lebih komprehensif, tidak hanya berfokus pada penurunan berat badan, tetapi juga pada perbaikan kesehatan metabolik secara menyeluruh.

Baca juga: Diam-diam Ampuh, 6 Makanan Ini Bisa Bantu Turunkan Tekanan Darah Tanpa Disadari

Salah satu bentuknya adalah layanan yang mengintegrasikan konsultasi medis langsung dengan pemantauan kesehatan berbasis aplikasi, sehingga pasien dapat memperoleh perawatan yang lebih berkelanjutan yang kini bisa didapat kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Dalam praktiknya, pasien umumnya menjalani asesmen menyeluruh, mulai dari pemeriksaan komposisi tubuh hingga parameter metabolik. 

Hasil pemeriksaan tersebut kemudian menjadi dasar dalam menentukan strategi penanganan, yang mencakup perubahan gaya hidup serta, bila diperlukan, terapi farmakologis berbasis bukti.

Selain itu, keterlibatan tim multidisiplin mulai dari dokter, nutrisionis, hingga pelatih kebugaran dinilai penting untuk memastikan penanganan berjalan sesuai kebutuhan masing-masing individu.

Di sisi lain, pemanfaatan teknologi digital memungkinkan proses pemantauan dilakukan secara lebih intensif. 

Pasien dapat melaporkan perkembangan harian, berkonsultasi, serta memperoleh penyesuaian terapi tanpa harus selalu datang ke fasilitas kesehatan.

Model ini juga dinilai dapat menciptakan kesinambungan perawatan (continuum of care), di mana proses penanganan tetap berjalan di luar kunjungan tatap muka.

"Pendekatan berbasis data ini tercermin pada hasil yang terukur. Data internal menunjukkan 90 persen pasien mengalami penurunan berat badan signifikan, 37 persen penurunan kolesterol, dan 57 persen penurunan tekanan darah," tutur Founder Sirka Rifanditto.

Statistik itu menegaskan keberhasilan tidak hanya dilihat dari angka timbangan, tetapi juga perbaikan parameter metabolik.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.