TRIBUNNEWS.COM, TEHERAN – Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas seiring meningkatnya ancaman blokade di Selat Hormuz.
Akademisi Iran menegaskan bahwa pendekatan militer Amerika Serikat tidak akan efektif menghadapi dinamika geopolitik di kawasan tersebut.
Zohreh Kharazmi, profesor asosiasi di University of Tehran, menyatakan bahwa Iran siap melawan setiap upaya blokade laut yang dilakukan oleh Amerika Serikat.
“Strategi ala Hollywood tidak akan berhasil di medan nyata seperti ini,” ujarnya seperti dikutip Aljazeera, Senin (13/4/2026).
Ia menekankan kompleksitas konflik yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan demonstrasi kekuatan militer.
Kharazmi mengingatkan bahwa ketegangan semacam ini bukan hal baru bagi Iran.
Ia merujuk pada peristiwa tahun 1953, ketika Mohammed Mossadegh, perdana menteri Iran yang terpilih secara demokratis, menggagas nasionalisasi minyak.
Baca juga: AS Blokir Selat Hormuz Imbas Negosiasi ke Iran Gagal, Trump: All or None!
Langkah tersebut memicu respons keras dari Barat dan berujung pada kudeta yang didukung CIA dan MI6.
“Upaya mendikte negara lain melalui kekuatan adalah pola lama yang sangat dikenal oleh rakyat Iran,” katanya.
Lebih dari sekadar jalur pelayaran strategis, Selat Hormuz memiliki makna simbolis bagi Iran.
Kharazmi membandingkannya dengan nasionalisasi Terusan Suez oleh Mesir pada 1956, yang menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi asing.
Menurutnya, kontrol Iran atas Hormuz mencerminkan keputusan berdaulat atas wilayahnya sendiri dan menjadi sumber kebanggaan nasional.
Kharazmi juga menyoroti bahwa Iran memiliki pengalaman menghadapi militer Amerika Serikat di berbagai medan.
“Jika di udara dan darat kami pernah menghadapi, maka laut bukan pengecualian,” ujarnya.
Ia bahkan menyebut bahwa menargetkan kapal perang bisa lebih realistis dibanding menghadapi teknologi canggih seperti F-35 Lightning II.
Situasi ini berpotensi meluas jika negara lain ikut terlibat.
Kharazmi menyinggung kemungkinan China mengawal kapal-kapalnya sendiri di jalur tersebut.
Jika itu terjadi, konflik berisiko berkembang menjadi konfrontasi langsung antara dua kekuatan besar dunia.
Selain itu, Iran juga disebut mengancam akan menutup Selat Bab el-Mandeb, jalur penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Menurut Kharazmi, jika blokade benar-benar terjadi, maka bukan hanya Iran yang diuji, tetapi juga stabilitas pasar global.
“Ini akan menjadi pertarungan antara ketahanan Republik Islam dan ketahanan pasar global,” katanya.
Ia menegaskan bahwa secara teknis, tidak ada pihak yang benar-benar mampu mengendalikan situasi sepenuhnya.
“Secara teknis, mereka tidak dapat mengendalikan situasi. Dengan strategi ala Hollywood, mereka tidak akan menang di medan ini,” katanya.
Ancaman Donald Trump
Presiden Donald Trump pada Minggu memerintahkan blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz sebagai respons atas penolakan Iran untuk menghentikan ambisi nuklirnya dalam perundingan damai di Islamabad.
Trump mengatakan Teheran tetap menolak mengalah terkait program nuklirnya.
“Efektif segera, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses MEMBLOKADE setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Trump di platform Truth Social miliknya.
“Setiap pihak Iran yang menembak kami atau kapal damai akan dihancurkan!”
United States Central Command mengumumkan bahwa mereka akan memblokade seluruh pelabuhan Iran mulai Senin pukul 10.00 EDT atau 17.30 waktu Iran.
CENTCOM menyatakan blokade akan diberlakukan secara tidak memihak terhadap kapal dari semua negara, namun tetap mengizinkan kapal yang berlayar antarpelabuhan non-Iran melintasi Selat Hormuz.
Trump dan para penasihatnya juga mempertimbangkan untuk melanjutkan serangan militer terbatas di Iran selain blokade Hormuz, sebagai cara memecah kebuntuan dalam perundingan damai, menurut laporan The Wall Street Journal. (Aljazera)