POS-KUPANG.COM, BETUN - “Komitmen untuk memfasilitasi tempat belajar yang lebih layak serta memberikan dukungan apabila masih terdapat kekurangan tenaga pendidik.
Anak-anak ini adalah masa depan bangsa. Sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memastikan mereka mendapatkan pendidikan yang layak.”
RATUSAN siswa SMP dan SMA Swasta Nesi Neonmat, Kota Kupang kini harus menjalani kegiatan belajar mengajar di Aula Gedung Ahmad Yani, Korem 161/Wirasakti karena gedung sekolahnya tidak layak digunakan.
Langkah cepat tersebut tidak lepas dari kepedulian Danrem 161/Wirasakti, Brigjen TNI Hendro Cahyono, yang turun langsung meninjau kondisi sekolah pada 26 Februari 2026 di wilayah Kelapa Lima, Kota Kupang.
Dalam kunjungannya, Hendro Cahyono mendapati bangunan sekolah dalam kondisi memprihatinkan, mulai dari atap yang bocor hingga ruang kelas yang tidak nyaman, terutama saat hujan turun.
“Kondisi sekolah memang sudah tidak layak untuk kegiatan belajar mengajar. Karena itu, kami diminta untuk sementara menggunakan Aula Gedung Ahmad Yani di Korem,” kata Kepala SMA Swasta Nesi Neonmat Kota Kupang, Simon Nesi, Sabtu (11/4/2026).
Sejak awal Maret 2026, seluruh aktivitas belajar mengajar resmi dipindahkan ke Korem. Proses relokasi berlangsung cepat dengan melibatkan tiga truk untuk mengangkut meja, kursi, lemari, serta perlengkapan sekolah lainnya.
Menariknya, para siswa dan guru justru menyambut baik kebijakan tersebut. Mereka merasa diperhatikan dan tetap bersemangat mengikuti proses pembelajaran meski berada di lingkungan militer.
“Anak-anak sangat senang. Saat ditanya apakah bersedia belajar di Korem, mereka menjawab siap dan merasa diperhatikan,” tambah Simon Nesi, didampingi Kepala SMP Swasta Nesi Neonmat, Ferdinand Hilungara.
Saat ini, jelas Simon Nesi, SMA Swasta Nesi Neonmat memiliki 193 siswa dari kelas X hingga XII, sedangkan SMP-nya berjumlah 42 siswa dari kelas VII hingga IX. Proses belajar mengajar didukung 27 tenaga pengajar, termasuk seorang alumni yang kembali mengabdi sebagai guru.
Di tengah keterbatasan fasilitas, kata Simon Nesi, semangat untuk terus memberikan pendidikan yang layak tetap terjaga.
Sekolah di bawah naungan Yayasan Nesi Neonmat ini bahkan telah meluluskan hingga angkatan ke-16, dengan sejumlah alumni berhasil berkarier sebagai anggota TNI, polisi, hingga guru.
Dirintis sejak 2007, ujar dia, sekolah ini mulai beroperasi secara resmi pada 2017 dan memperoleh izin operasional pada 2019. Pada masa awal, para siswa bahkan harus “dititipkan” untuk mengikuti ujian di sejumlah sekolah negeri di Kota Kupang.
Saat ini, bantuan dari pemerintah pusat berupa papan digital, 20 unit komputer, dan server nasional telah diterima. Namun, kebutuhan utama yang masih mendesak adalah pembangunan gedung permanen yang layak.
“Kami sangat berterima kasih kepada Danrem 161/Wirasakti yang telah membantu dan menerima kami belajar di Korem. Namun kami juga berharap ada perhatian dari pemerintah daerah dan provinsi untuk pembangunan sekolah kami,” kata Simon Nesi.
Simon Nesi berharap semua bisa memberikan dukungan, agar para siswa Nesi Neonmat dapat segera kembali belajar di ruang kelas yang aman, nyaman, dan lebih manusiawi.
Brigjen TNI Hendro Cahyono dalam keterangannya menyebut, ia mendapat laporan dari anggotanya tentang kondisi sekolah itu.
Dikatakan Hendro Cahyono, langkah itu merupakan wujud kepedulian Korem 161/Wira Sakti terhadap dunia pendidikan, khususnya bagi siswa-siswi dari kalangan marginal.
Hendro Cahyono menyampaikan komitmen untuk membantu memfasilitasi tempat belajar yang lebih layak serta memberikan dukungan apabila masih terdapat kekurangan tenaga pendidik.
"Anak-anak ini adalah masa depan bangsa. Sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memastikan mereka mendapatkan pendidikan yang layak," kata Hendro Cahyono. (fan)