TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Membangun rumah dalam pandangan masyarakat Jawa bukan sekadar urusan arsitektur dan material bangunan.
Lebih dari itu, proses mendirikan rumah dipercaya berkaitan erat dengan keseimbangan energi, harmoni alam, serta hubungan manusia dengan leluhur.
Tak heran, hingga saat ini sebagian warga di Solo Raya masih berpegang pada Primbon Jawa sebagai pedoman agar rumah yang dibangun membawa keberkahan, keselamatan, dan ketenteraman hidup.
Baca juga: 12 Mitos Pernikahan yang Masih Dipercaya Sebagian Masyarakat Solo, Ada Istilah Kebo Balik Kandang
Berikut berbagai mitos, pantangan, hingga syarat membangun rumah menurut tradisi Jawa yang masih dipercaya secara turun-temurun:
Dalam kepercayaan Jawa, arah hadap rumah memiliki makna spiritual yang penting.
Rumah yang menghadap “tusuk sate” atau jalan lurus panjang diyakini dapat menghadirkan energi buruk yang berdampak pada kehidupan penghuninya.
Selain itu, arah timur dalam beberapa kepercayaan juga memiliki makna sakral dan tidak boleh digunakan sembarangan oleh masyarakat umum.
Tidak hanya arah, kondisi tanah juga menjadi perhatian.
Tanah bekas makam, area yang dianggap angker, atau lahan dengan karakter tertentu seperti terlalu miring, dikelilingi air, atau memiliki sumber air di tengah diyakini dapat membawa ketidakharmonisan, penyakit, hingga konflik dalam keluarga.
Baca juga: 5 Rekomendasi Tempat Makan Keluarga di Klaten Jateng : Nyaman dan Luas, Dekat dari Alun-alun
Dalam tradisi Jawa, pemilihan waktu membangun rumah tidak bisa dilakukan secara acak.
Kalender Jawa dan perhitungan weton digunakan untuk menentukan hari baik.
Beberapa waktu justru dianggap pantangan, seperti hari-hari tertentu di bulan Suro, Rejeb, atau awal Ramadhan yang dipercaya membawa energi kurang baik.
Selain itu, hari yang bertepatan dengan peristiwa buruk seperti bencana, kematian leluhur, atau kejadian besar juga dihindari.
Sebaliknya, hari baik dipilih melalui perhitungan neptu dan pasaran agar pembangunan membawa keselamatan serta keberuntungan bagi penghuni rumah.
Masyarakat Jawa juga memperhatikan musim sebelum membangun rumah.
Musim hujan sering dihindari karena dianggap menyulitkan proses pembangunan, merusak material, serta meningkatkan risiko keselamatan pekerja.
Selain itu, masa peralihan musim juga dianggap kurang stabil secara “energi”, sehingga tidak ideal untuk memulai pembangunan.
Baca juga: 5 Rekomendasi Museum di Solo Jateng untuk Kencan Romantis, Nikmati Momen Intimate Bersama Pasangan
Penempatan ruangan dalam rumah juga tidak boleh sembarangan.
Dalam kepercayaan Jawa, posisi dapur, kamar tidur, hingga kamar mandi diyakini memengaruhi kesehatan, rezeki, dan keharmonisan keluarga.
Misalnya, kamar tidur yang berada di atas dapur atau kamar mandi dianggap dapat membawa gangguan kesehatan.
Arah mata angin juga ikut diperhitungkan, termasuk keseimbangan unsur alam seperti air, api, tanah, dan udara.
Tata letak rumah yang tidak seimbang dipercaya dapat memicu konflik dan ketidakstabilan dalam kehidupan penghuni.
Hal-hal yang terlihat sederhana seperti jumlah pintu dan jendela ternyata juga memiliki makna dalam Primbon Jawa.
Pintu utama yang langsung berhadapan dengan pintu belakang dipercaya dapat menyebabkan rezeki “keluar” dari rumah.
Selain itu, angka tertentu seperti 4 atau 13 sering dihindari karena dianggap membawa energi kurang baik.
Meski terdengar modern, kepercayaan ini masih hidup di sebagian masyarakat sebagai bagian dari perhitungan simbolik dalam membangun rumah.
Baca juga: 13 Ide Ternak Skala Rumahan di Lahan Sempit, Punya Prospek Bagus di Solo
Sumur dalam tradisi Jawa tidak boleh diletakkan sembarangan.
Lokasi di bawah kamar tidur atau dapur dianggap dapat mengganggu kesehatan dan keseimbangan energi rumaH.
Selain itu, sumur juga dihindari di lokasi yang dianggap memiliki sejarah buruk atau bekas pemakaman.
Pemilihan bahan bangunan juga memiliki pertimbangan spiritual.
Kayu bekas dari bangunan lama yang dianggap memiliki “sejarah negatif” sering dihindari.
Sebaliknya, material dipercaya sebaiknya selaras dengan karakter pemilik rumah agar energi rumah tetap harmonis.
Selain pantangan, masyarakat Jawa juga melakukan berbagai ritual sebagai bentuk penghormatan dan permohonan keselamatan.
Slametan biasanya dilakukan saat peletakan batu pertama dan setelah rumah selesai dibangun.
Ada pula tradisi meletakkan takir berisi sesaji di pondasi, pemasangan soko guru sebagai simbol kekuatan rumah, hingga pembalutan molo dengan kain merah putih sebagai lambang keberanian dan kesucian.
Semua ini diyakini sebagai penolak bala dan pembawa keberkahan.
(*)