BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bangka angkat bicara soal adanya kasus dugaan kekerasan terhadap siswa oleh senior di Pondok Pesantren Kabupaten Bangka.
Tanggapan itu disampaikan oleh Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Kasi PD Pontren) Kemenag Bangka, Sopianto Suwari, kepada Bangkapos.com, Senin (13/4/2026).
Dia menyebut bahwa dirinya baru mengetahui adanya laporan peristiwa tersebut tadi. Setelah itu, dirinya kemudian langsung menghubungi salah satu ustaz di Ponpes tersebut.
Dia menjelaskan, kejadian itu terjadi pada Sabtu (11/4/2026) malam sekira pukul 21.00 WIB.
Baca juga: BREAKING NEWS: Siswa SMA Pesantren di Bangka Diduga jadi Korban Perundungan dan Dianiaya Senior
Kata dia, saat itu para ustaz di ponpes tersebut sedang rapat membahas suatu kegiatan sehingga peristiwa dugaan kekerasan itu tidak diketahui atau luput dari pengawasan.
“Sementara di jam-jam pukul 9 malam itu ada semacam kegiatan pembinaan dari kakak-kakak kelas itu. Semacam OSIS kalau diibaratkan di sekolah umum,” ungkapnya.
Kemudian, laporan adanya dugaan kasus kekerasan itu baru diketahui oleh para ustaz setelah mendapat laporan sekira pukul 02.00 WIB atau Minggu (12/4/2026) dini hari.
Lanjut Sopianto, setelah adanya kasus tersebut, siswa yang diduga melakukan penganiayaan juga dikabarkan sempat minggat dari ponpes setelah diduga melakukan kekerasan tersebut.
“Kekerasannya memang ada, dari kakak kelasnya, dari seniornya,” ujarnya.
Saat ini, korban telah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Kalbu Intan Medika (RS KIM) Kota Pangkalpinang.
Dengan adanya peristiwa ini, Kemenag Bangka berencana akan meminta keterangan lebih lengkap ke pihak Ponpes Daarul Abror.
“Ini jam 2 ini berangkat ke ponpes Abror terkait masalah penganiayaan kakak-kakak kelas ke adik kelas,” ungkapnya.
Pihaknya pun sangat menyayangkan adanya peristiwa ini. Diakui Sopianto, sebelum ini pihaknya juga sudah rutin melakukan sosialisasi dan rajin menyampaikan agar tidak ada kekerasan.
“Hindari tindak kekerasan, termasuk bullying dan lain sebagainya yang merugikan santri ataupun sesama ustaz. Jangan terjadi tindak kekerasan di pondok, baik antara santri dengan santri, ustaz dengan santri, pengurus dengan ustaz, dan seterusnya,” tuturnya.
Pantauan di lokasi, AH tampak terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan sejumlah alat medis terpasang di tubuhnya, termasuk alat pemantau jantung dan infus. Beberapa bagian tubuhnya terlihat mengalami memar, terutama di area dada.
Kepada Bangkapos.com, AH menceritakan peristiwa yang dialaminya terjadi pada Sabtu (11/4/2026) malam di lingkungan Pesantren Kabupaten Bangka.
Menurut pengakuannya, malam itu seluruh siswa kelas 1 SMA dikumpulkan oleh kakak kelas. Siswa yang dianggap melakukan pelanggaran kemudian dipisahkan, termasuk dirinya yang saat itu dalam kondisi sakit.
"Saya dibilang pura-pura sakit hari itu, padahal sudah izin. Jadi itu termasuk pelanggaran kata mereka," ujar AH kepada Bangkapos.com, Senin (13/4/2026).
Ia mengaku kemudian dibawa ke lokasi gelap dengan lampu dimatikan. Di tempat tersebut, AH mengalami tindakan kekerasan yang diduga dilakukan oleh dua orang senior, sementara beberapa lainnya berada di sekitar lokasi.
"Saya dijambak, dibenturkan ke dinding, tangan dipegang, dada dipukul pakai rantai. Saya juga ditonjok di perut dan dada sampai sesak dan muntah," ungkapnya.
Dalam kondisi lemah, AH mengaku tidak berani melawan karena jumlah pelaku lebih banyak. Setelah kejadian tersebut, ia dibawa kembali ke kamar oleh teman-temannya.
Namun, keesokan harinya, Minggu (12/4/2026), saat seorang ustaz melakukan pemantauan, AH baru menceritakan sebagian kejadian yang dialaminya. Meski demikian, menurut pengakuannya, ia tidak langsung mendapatkan penanganan medis.
"Bukannya dibawa berobat, saya malah dicukur botak karena dianggap melanggar aturan. Minggu kemarin ada acara keluarga, jadi saya izin," katanya.
Baru setelah ustaz lain melihat kondisi AH yang semakin memburuk, lemas, dan mengalami sesak napas, ia kemudian dibawa ke klinik sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit.
Kini, AH masih merasakan nyeri dan sesak di bagian dada akibat kejadian tersebut. Ia juga menyatakan tidak ingin kembali ke pesantren tersebut.
"Saya takut dan kecewa. Saya tidak mau sekolah di sana lagi, ingin pindah ke sekolah umum," ujarnya.
Sementara itu, ibu korban, AL (44), mengaku sangat terpukul saat mengetahui kondisi anaknya. Ia mendapatkan kabar pada Minggu siang dan langsung menuju rumah sakit.
"Tubuh saya gemetar dengar anak saya diperlakukan seperti itu. Saya titipkan anak untuk dijaga, tapi malah ditelantarkan," katanya.
Alusna juga menyayangkan sikap pihak pesantren yang dinilainya tidak sigap dalam memberikan pertolongan kepada anaknya.
"Anak saya sudah bilang sakit dan dipukul, tapi tidak langsung dibawa berobat. Justru dicukur dulu. Di mana kepeduliannya?" ucapnya.
Ia menegaskan tidak akan mengizinkan anaknya kembali ke pesantren tersebut.
(Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)