TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pengamat politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Hasrullah, mengingatkan Partai Golkar Sulawesi Selatan agar belajar dari kekalahan pada Pemilu 2024.
Ia menegaskan, momentum Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Sulsel menjadi titik krusial untuk menentukan arah kebangkitan partai, termasuk dalam memilih figur ketua yang tepat.
Hal itu disampaikan dalam Podcast Ngobrol Politik Tribun Timur yang mengangkat dinamika Musda Golkar Sulsel dengan tema “Golkar Sulsel Cari Ketua Baru, Siapa Paling Layak?”.
Diskusi berlangsung di Studio Tribun Timur, Jalan Cenderawasih, Makassar, Selasa (14/4/2026) malam.
Dipandu host Tribun Timur, I Luh Devi Sania.
Diskusi ini menghadirkan dua narasumber, yakni Wakil Ketua Golkar Sulsel yang juga Ketua Steering Committee (SC) Musda, Armin Mustamin Toputiri, serta Dr Hasrullah.
Menurut Dr Hasrullah, jika ingin mengembalikan kejayaan Golkar Sulsel, proses penentuan ketua tidak boleh dilakukan secara sembarangan.
Baca juga: Sulsel Tutup Musda Golkar se-Indonesia, Appi-Ina Paling Berpeluang Pimpin Beringin Rindang
Figur yang dipilih harus mampu diterima seluruh kader sekaligus memiliki kapasitas mengonsolidasikan kekuatan partai.
“Saya melihat, Golkar Sulsel harus bekerja keras merebut kembali kemenangan di Pemilu 2029. Selama ini Sulsel dikenal sebagai lumbung Partai Golkar, bahkan mendominasi kursi parlemen di banyak kabupaten/kota,” ujar Hasrullah menyoroti kegagalan Golkar mempertahankan kursi Ketua DPRD Sulsel.
Ia menilai kekalahan pada Pemilu 2024 menjadi peristiwa penting yang harus dijadikan bahan evaluasi menyeluruh.
Pasalnya, dominasi Golkar di Sulsel selama ini dikenal sangat kuat, dan baru kali ini mengalami kekalahan.
“Ini harus jadi koreksi total. Apakah Golkar mau kalah yang kedua kalinya? Kalau ingin menang, konsolidasi harus diperkuat,” tegasnya.
Hasrullah juga menyoroti mulai munculnya faksi-faksi internal di tubuh Golkar Sulsel.
Ia mengingatkan, perpecahan kader akan menjadi hambatan besar bagi partai untuk kembali memenangkan kontestasi politik ke depan.
“Siapa pun kader terbaik silakan maju. Tapi kalau kader pecah, jangan harap Golkar bisa menang,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya persatuan seluruh kader sebagai kunci utama kebangkitan.
Selama ini, Golkar dikenal sebagai langganan peraih kursi Ketua DPRD Sulsel, bahkan di berbagai daerah kabupaten/kota.
Namun, kondisi tersebut kini berubah dan menjadi peringatan serius bagi partai berlambang beringin itu.
Hasrullah pun mengingatkan agar Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar tidak memaksakan figur yang tidak memiliki legitimasi kuat di internal.
“Jangan memaksakan yang memang tidak pantas menjadi ketua. Dampaknya bisa besar,” katanya.
Ia juga menyinggung kondisi internal partai yang dinilai mulai melemah, salah satunya terlihat dari aktivitas sekretariat yang tidak lagi semarak seperti sebelumnya.
“Sebesar Partai Golkar, tapi sekretariatnya sunyi. Ini kan jadi tanda bahwa ada yang harus dibenahi,” ungkapnya.
Menurut Hasrullah, marwah sebuah partai sangat ditentukan oleh aktivitas kader dan dinamika organisasi.
Tidak hanya di tingkat provinsi, tetapi juga hingga ke struktur terbawah.
Karena itu, ia berharap Musda Golkar Sulsel ke depan memiliki arah yang jelas untuk mengangkat kembali marwah partai.
Termasuk dengan merumuskan langkah strategis yang mampu menghidupkan kembali peran kader, baik senior maupun generasi muda.
“Dulu kader-kader senior Golkar sangat aktif, bahkan menyasar anak muda dan masyarakat luas. Sekarang itu yang mulai tidak terlihat,” pungkasnya.
Berdasarkan hasil Pemilu 2024, untuk pertama kalinya, Golkar kehilangan kursi Ketua DPRD Sulsel setelah hanya meraih 14 kursi.
Kendati demikian, Golkar Sulsel di bawah kepemimpinan Taufan Pawe mampu menambah satu kursi.
Pemilu 2019, partai beringin hanya memperoleh 13 kursi.
Posisi pemenang direbut Partai NasDem yang berhasil mengamankan 17 kursi, sekaligus mencatat sejarah baru di Sulsel.(*)